Oleh: Rendi Parwansyah | Mahasiswa Prodi Jurnalistik Islam UIN Sulthan Thaha Saifudin Jambi
DALAM sepak bola modern, meraih kesuksesan memang penting, tetapi mempertahankannya jauh lebih sulit. Sejarah telah berulang kali menunjukkan bahwa banyak klub mampu mencapai puncak, namun tidak semuanya mampu bertahan di sana.
Di tengah dominasi yang mereka bangun selama satu dekade terakhir, Manchester City kini menghadapi pertanyaan yang pada akhirnya akan menentukan bagaimana sejarah memandang mereka: apakah kejayaan tersebut merupakan hasil dari sistem yang kuat atau terlalu bergantung pada sosok Pep Guardiola?
Sulit untuk membantah bahwa Manchester City telah berkembang menjadi salah satu kekuatan terbesar dalam sepak bola dunia. Klub yang pernah terpuruk hingga divisi ketiga pada 1998 itu kini menjelma menjadi institusi olahraga dengan kekuatan ekonomi yang sangat besar.
Laporan keuangan musim 2024/25 mencatat pendapatan klub mencapai US$ 694,1 juta. Sementara itu, Brand Finance Football 50 tahun 2025 menempatkan Manchester City sebagai merek klub paling bernilai di Premier League dengan nilai mencapai US$ 1,44 miliar. Fakta tersebut menunjukkan bahwa City tidak hanya berkembang sebagai tim sepak bola, tetapi juga sebagai kekuatan bisnis global.
Namun, sulit pula memisahkan perkembangan tersebut dari peran Pep Guardiola. Sejak tiba di Etihad Stadium pada 2016, pelatih asal Spanyol itu mengubah Manchester City menjadi salah satu tim paling dominan di Eropa.
Gelar demi gelar berhasil diraih, termasuk treble winners pada musim 2022/23 dan pencapaian bersejarah sebagai klub pertama yang mampu menjuarai Premier League selama empat musim berturut-turut. Guardiola bukan hanya menghadirkan trofi, melainkan juga membangun identitas permainan yang menjadi ciri khas Manchester City.
Dominasi tersebut juga terlihat di kompetisi Eropa. Berdasarkan data UEFA, City mencapai semifinal Liga Champions pada musim 2015/16, menjadi finalis pada musim 2020/21, dan akhirnya meraih gelar Liga Champions pertama mereka pada musim 2022/23.
Menariknya, gelar tersebut diraih tanpa menelan kekalahan sepanjang turnamen. Keberhasilan itu sekaligus melengkapi pencapaian treble winners yang menjadi salah satu momen paling bersejarah bagi klub.
Di luar lapangan, Manchester City juga memiliki fondasi ekonomi yang kuat. Akan tetapi, kekuatan finansial tidak selalu menjamin keberlanjutan prestasi. Penurunan pendapatan hak siar pada musim 2024/25 akibat tersingkir lebih awal dari Liga Champions menjadi bukti bahwa performa di lapangan tetap memiliki pengaruh besar terhadap stabilitas ekonomi klub.
Dengan kata lain, kesuksesan bisnis Manchester City masih memiliki hubungan yang erat dengan keberhasilan olahraga yang selama ini dibangun Guardiola.
Kekuatan City juga tercermin dari kualitas skuad yang dimiliki. Nilai pasar tim yang mencapai lebih dari €1,3 miliar menjadikan mereka sebagai salah satu klub dengan komposisi pemain termahal di dunia.
Pada Piala Dunia 2026, sedikitnya 16 pemain Manchester City dipanggil untuk memperkuat negara masing-masing. Hal tersebut memperlihatkan bahwa klub memiliki kedalaman skuad yang baik sekaligus proses regenerasi yang terus berjalan.
Hal serupa tampak pada ajang EFL Cup musim 2025/26. Manchester City berhasil memenangkan seluruh enam pertandingan yang dijalani dan keluar sebagai juara setelah mengalahkan Arsenal di partai final. Mereka hanya kebobolan dua gol dan mencatat empat clean sheet.
Penguasaan bola yang berkisar antara 58% hingga 76% menunjukkan bahwa identitas permainan yang dibangun selama era Guardiola masih berjalan dengan baik. Munculnya pemain-pemain baru seperti James Trafford dengan persentase penyelamatan sebesar 87,5% juga menjadi indikasi bahwa regenerasi di dalam tim terus berlangsung.
Meski demikian, sejarah sepak bola memberikan banyak pelajaran bahwa berakhirnya sebuah era sering kali diikuti oleh masa sulit. Manchester United mengalami penurunan performa setelah ditinggalkan Sir Alex Ferguson pada 2013.
Arsenal juga membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk kembali menjadi penantang serius setelah era Arsène Wenger berakhir. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa pergantian pelatih bukan sekadar persoalan taktik, melainkan juga ujian terhadap kekuatan sistem yang dimiliki sebuah klub.
Dalam pandangan penulis, di sinilah tantangan terbesar Manchester City sesungguhnya berada. Selama ini, kekuatan ekonomi, kualitas pemain, dan keberhasilan meraih berbagai trofi sering dijadikan ukuran keberhasilan klub. Padahal, ukuran yang lebih penting justru terletak pada kemampuan mempertahankan identitas permainan dan budaya kemenangan ketika Pep Guardiola pada akhirnya tidak lagi berada di pinggir lapangan.
Pernyataan Guardiola bahwa setiap tim membutuhkan energi baru menunjukkan bahwa tidak ada era yang berlangsung selamanya. Karena itu, kesadaran untuk mempersiapkan masa depan menjadi sesuatu yang penting. Sebuah klub sebesar Manchester City tidak boleh bergantung pada satu individu, sebesar apa pun pengaruh yang dimilikinya.
Bagi penulis, trofi berikutnya bukanlah ujian terbesar bagi Manchester City. Ujian sesungguhnya justru akan datang ketika Pep Guardiola meninggalkan klub. Pada saat itulah akan terlihat apakah City benar-benar telah membangun sebuah dinasti yang kokoh atau justru hanya menikmati masa keemasan yang lahir dari kejeniusan seorang pelatih.
Dan pada akhirnya, sepak bola tidak hanya berbicara tentang gelar dan rekor. Keberlanjutan, kemampuan beradaptasi, serta keberhasilan menjaga budaya kemenangan merupakan ukuran yang lebih tepat dalam menilai besar kecilnya sebuah klub.
Karena itu, era pasca-Pep Guardiola kelak akan menjadi penentu apakah Manchester City benar-benar mampu mempertahankan statusnya sebagai salah satu kekuatan terbesar sepak bola dunia. ***
BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com