Ketua TP3 Laskar FPI: Adinda Ngabalin Lebih Teroris Lagi

Laporan: CNNIndonesia || Editor: Rahmad

Ali Mochtar Ngabalin. Foto: Net

INFOJAMBI.COM – Ketua Tim Pengawal Peristiwa Pembunuhan (TP3) Laskar FPI, Abdullah Hehamahua menjawab pernyataan Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP) Ali Mochtar Ngabalin yang menyebut dirinya sebagai ‘teroris’.

Dalam hal ini, kisruh antara kedua tokoh itu bermula saat Abdullah menggambarkan pertemuannya dengan Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan Jakarta layaknya Musa menemui Firaun.

“Jika saya seorang teroris, maka adinda Ngabalin lebih teroris lagi,” kata Abdullah, Sabtu (17/4).

Menurutnya, Ngabalin pernah aktif sebagai kader Pelajar Islam Indonesia (PII). Beda halnya dengan dirinya yang tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).

Dia menggambarkan, kedua organisasi pelajar dan mahasiswa itu memiliki watak yang berbeda. Menurutnya, PII lebih galak daripada kader HMI.

“Itulah sebabnya, sebelum reformasi ketika saya berada di Jakarta, adinda Ngabalin ngajak saya jumpa Prabowo di rumah beliau, tapi tidak berjumpa. Lalu saya dibawa ke rumah Sri Bintang Pamungkas, seorang fungsionaris PPP yang paling radikal waktu itu,” ucapnya.

Abdullah menggambarkan bahwa teroris ialah istilah yang diberikan kepada mereka yang menentang penjajah. Kata dia, bila itu yang dimaksud oleh Ngabalin, maka dirinya akan bersyukur mendapat label itu.

Dia mencontohkan misalnya, istilah itu sempat digaungkan oleh penjajah Belanda kepada para pejuang Indonesia. Beberapa di antaranya, Teuku Umar di Aceh serta pahlawan Pattimura di Maluku.

“Jadi jika itu yang dimaksud adinda Ngabalin tentang teroris, Alhamdulillah saya diberi gelar teroris olehnya,” tambah dia.

Abdullah pun merasa tak ada yang salah dari pernyataannya soal Musa dan Firaun. Dia menggambarkan bahwa Jokowi memang layak digambarkan sebagai Firaun karena merupakan penguasa di Indonesia saat ini.

Sementara TP3, kata dia, cocok untuk digambarkan sebagai Musa yang memberikan kritik, saran dan idenya kepada penguasa kala itu.

“Pada waktu yang sama, Presiden siapa saja dapat dianalogikan sebagai Firaun dalam kedudukannya sebagai kepala negara sekalipun kualitas dan model kepemimpinannya berbeda,” kata mantan pimpinan KPK itu.

Sebelumnya, Ngabalin menilai bahwa pernyataan soal Musa dan Firaun itu memperkeruh suasana. Dia mengatakan bahwa Presiden telah meluangkan waktu untuk bertemu TP3.

Ngabalin menilai kebijaksanaan Jokowi itu tidak dibalas dengan kebaikan Hehamahua dkk.

“Dia punya gaya perilakunya menyihir umat. Seperti jatuh dari langit, tidak pernah punya dosa. Seperti malaikat, tidak punya beban, tidak punya dosa,” ucap Ngabalin, Jumat (16/4).

Kategori Nasional

Tags: ,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.