Selasa, 22 Agustus 2017 | 02:49

Kisah Dibalik Suksesnya MTQ 47, Dari Cibiran Hingga Ketulusan Romi

MUARASABAK — Perhelatan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-47 Tingkat Provinsi Jambi baru saja selesai. Jibaku pemerintah kabupaten dan masyarakat Tanjung Jabung Timur selaku tuan rumah, membuahkan apresiasi berbagai kalangan.

Daerah yang baru dua kali jadi tuan rumah itu juga meraih prestasi bergengsi di posisi runner up. Proses persiapan sejak beberapa bulan lalu memang selalu dipublikasikan media. Mulai persiapan fisik lokasi, pemondokan kafilah, penyiapan suguhan pertunjukkan saat pembukaan dan penutupan, hingga kegaiatan pendukung lainnya, seperti bazar dan wahana hiburan bagi masyarakat pengunjung.

Ada beberapa kisah terkait MTQ kali ini luput dari pemberitaan media, namun memiliki arti penting atas kusuksesan agenda tahunan syiar Islam itu. Dirangkum dari berbagai sumber, berikut kisahnya :

Persiapan MTQ sendiri sebenarnya tidaklah terlalu mengejutkan bagi Tanjabtim selaku tuan rumah. Pada 2010 silam, Tanjabtim juga menjadi tuan rumah, tepatnya pada MTQ ke-37.

Pelaksanaan MTQ kala itu juga disebut-sebut sebagai MTQ paling sukses. Bupati Tanjabtim, H Abdullah Hich ketika itu lebih memilih mempersiapkan MTQ tidak dengan membangun sarana khusus.

Dia membangun gelanggang olah raga (gelora). Sebagai daerah pemekaran, keberadaan sebuah gelora penting. Sebelum resmi digunakan sebagai gelora, semua sarana dan prasarana yang dibangun dimanfaatkan terlebih dahulu untuk MTQ.

Tribun A dan B digunakan sebagai fasilitas utama. Tribun A untuk podium utama berisi tamu VIP, sedangkan tribun B sebagai mimbar tilawah. Sementara lapangan sepakbola dan lintasan atletik yang berada di antara kedua tribun, dijadikan tempat pertunjukan dan pagelaran acara pendukung MTQ.

“Agar tidak mubazir, karena usai MTQ fungsinya kita kembalikan sebagai gelora,” kata Abdullah Hich ketika itu.

Pada MTQ 47, Bupati Tanjabtim, H Romi Hariyanto juga memilih tetap menggunakan lokasi yang sama dengan 2010, yakni Gelora Paduka Berhala. Bedanya, kali ini mimbar tilawah dibangun dari kayu, persis di depan tribun B.

Romi ingin menunjukkan ciri khas Tanjabtim. Itu sebabnya mimbar tilawah dibangun berbentuk kapal dengan bahan kayu dan triplek. Tukang yang mengerjakan diambil dari warga sekitar. Romi ingin keterlibatan masyarakat, besar dalam MTQ kali ini.

Itu juga yang menjadi alasan mengapa di acara pembukaan dan penutupan ada penampilan BKMT dan Hadrah. Keduanya adalah kelompok ibu-ibu yang berasal dari empat kelurahan sekitar lokasi.

“Mereka ini ibu-ibu yang selama ini aktif di pengajian dan gemar Hadrah. Kita beri mereka panggung di MTQ sebagai apresiasi atas kegiatan mereka selama ini,” jelas Romi, usai penutupan MTQ, di Gelora Paduka Berhala, Jum’at (11/8) malam.

Romi menyadari bahwa Tanjabtim masih banyak kekurangan. Dia maklum jika kemudian banyak cibiran dari para kafilah yang berasal dari berbagai daerah yang lebih maju. Misalnya saja soal jalan menuju Tanjabtim yang saat ini kondisinya rusak.

Begitu pula sarana prasarana di ibukota Tanjabtim, tempat dilangsungkannya MTQ. Pasar, hotel, apalagi mal belum ada di kawasan ini. Begitu pula tempat wisata yang bisa dibanggakan.

Atas kesadaran itulah, Bupati Romi berinisiatif menghadirkan kesan mendalam dari sisi pelayanan. Dari awal kafilah datang, hingga penutupan MTQ, laporan soal pelayanan kafilah adalah hal yang setiap hari ditunggu Romi dari masing-masing penanggungjawab pemondokan.

Jangan sampai ada keluhan kafilah yang didengarnya. Dipastikan Romi akan murka dan memberi teguran keras. Mungkin itu sebabnya setiap pagi, siang, sore dan malam, selalu ada petugas yang mendatangi pemondokan dan menanyakan keluhan para kafilah.

Seperti terjadi di pemondokan Sarolangun, di RT 01 Talangbabat. Saat akan mempersiapkan kepulangan usai penutupan MTQ, bus yang akan membawa para kafilah Sarolangun terperosok, akibat jalan licin habis diguyur hujan. Mendengar kabar itu, Bupati Romi yang masih mengikuti acara penutupan, langsung memerintahkan Kadis Infokom, Herman Toni, segera mencari bantuan.

Sebelumnya, saat pembukaan MTQ tanggal 5 Agustus, Romi juga melontarkan beberapa hal yang membuat kesan tersendiri bagi para kafilah. Pertama, soal adanya perusahaan konsesi besar yang tidak berkontribusi pada MTQ kali ini.

Lalu soal peringatannya agar kafilah atau official jangan coba-coba bermain curang. Bahkan dengan tegas Romi menyatakan akan “mengkarantina” dewan hakim. Tidak boleh perwakilan kafilah manapun bertemu dewan hakim, termasuk Tanjabtim.

Romi pun menyiagakan Satpol PP di mess PKK, tempat dewan hakim diinapkan. Saat yang sama, Romi juga menggaransi semua anggota kafilah Tanjabtim murni putra putri Tanjabtim. Tidak ada istilah qori bayaran atau qori impor.

Dikatakannya, prestasi bukan target utama. Tugas menjadi tuan rumah yang baik, harus lebih diprioritaskan. Soal ajakan untuk fair dalam ajang MTQ 47 ini, diharapkan Romi menjadi momentum perubahan dan awal baru bagi tradisi MTQ di masa-masa mendatang.

Komitmen itu pula membuat Romi menolak spekulasi yang disampaikan Kepala Bagian Kesra Setda Tanjabtim, Taufik, terkait hasil akhir lomba. Taufik dalam sebuah kesempatan, meminta pendapat dan arahan Romi, apakah perlu berkomunikasi dengan dewan hakim atau Kanwil Kemenag soal hasil akhir setiap cabang lomba.

Lazimnya, tuan rumah adalah pihak yang paling mungkin menjalin komunikasi itu. Mendengar itu, spontan Romi naik pitam. “Coba saja, jika sampai kita juara umum karena kecurangan, besok paginya Anda saya copot dan pindah ke Sadu (kecamatan),” tegas Romi.

Taufik sedianya melaporkan tentang perkiraan hasil akhir. Dari jumlah poin yang terkumpul oleh masing-masing kafilah, Tanjabtim diperkirakan hanya akan menjadi juara kedua.

“Mau juara dua, juara tiga atau tidak dapat juara pun, kita harus terima. Itulah buah perjuangan kita. Jangan karena ingin juara, kita menjilat ludah sendiri. Dari awal saya sampaikan, legitimasi MTQ kali ini harus 100 persen,” tegas Bupati Romi. (infojambi.com)

Laporan : Willy Bronson

 

Kategori Agama

Tags: ,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.