Kisah Pasien Covid-19 dari Kamar “Wiro Sableng” (1)

Oleh : Doddi Irawan

Saat menjalani uji swab.

SABTU siang, 26 September 2020, saya ditelepon Arif Martaguna, wartawan Jamberita.com, jurnalis muda yang profesional dan memiliki jaringan luas.

Pertanyaannya aneh, membuat saya kaget. “Bang, namo lengkap abang Doddi Irawan kan ? Abang sudah ditelepon Pak Karo ?”

Belum sempat menjawab pertanyaan itu, pikiran saya langsung tertuju ke uji swab di Kantor Gubernur Jambi, beberapa hari sebelumnya.

Ya, saya memang ikut dalam uji swab yang difasilitasi Biro Humas dan Protokol Pemprov Jambi itu. Persisnya Selasa siang, 22 September 2020.

Meski tidak berani memastikan informasi yang didapat Arif menyebutkan saya positif terkonfirmasi covid-19.

Selain saya, Arif juga menyebutkan nama satu orang wartawan lainnya. Inisialnya JP, teman kami biasa nongkrong di warung dekat Taman Anggrek Sri Soedewi, Telanaipura, Kota Jambi.

Mendapat informasi itu saya langsung down. Pikiran saya berkecamuk. Bakal kacau semua. Saya harus isolasi. Isteri dan anak terpapar… Saya pucat pasi. Berharap informasi Arif itu salah.

Saya bingung. Informasi itu bukan disampaikan oleh tim medis, atau gugus tugas covid-19. Akhirnya saya ambil saja kesimpulan, menunggu kabar resmi dari gugus tugas. Itu yang valid.

Dukungan Keluarga Sangat Penting

Di tengah kekalutan menunggu pemberitahuan resmi, saya panggil isteri dan anak. Saya beritahukan informasi itu. Mereka saya minta tetap memakai masker dan tidak boleh mendekat.

Saya minta mereka tidak panik. Saya pun berusaha memperlihatkan wajah tenang, walau sesungguhnya hati saya sudah hancur lebur. Ketakutan luar biasa mendera batin.

Saya lihat isteri saya termenung. Air matanya berlinang, kendati jelas sekali ditahannya supaya tidak menetes. Dia tahu, penderita covid-19 tidak boleh sedih. Harus gembira terus.

“Mama samo adek jangan kalut. Kito tunggu informasi pastinyo dari Pak Karo. Mudah-mudahan informasi itu salah. Biso jadi hasil swab itu belum tuntas,” kataku menenangkan dua sosok yang kusayangi itu.

Sambil menunggu, JP menelepon. Dia juga mengabarkan bahwa kami berdua positif covid-19. Dia juga dapat info dari Arif, bukan dari gugus tugas. Kami pun sepakat, menunggu yang resmi dari gugus tugas.

Setelah teleponan dengan JP, beberapa teman wartawan lainnya juga menelepon. Mereka bertanya tentang kondisi saya. Tidak berani menyebutkan saya positif corona. Pikiran saya pun makin galau.

Tidak tahan dengan situasi seperti itu, akhirnya saya nekat bertanya ke Karo Humas, Johansyah. Beliau juga juru bicara gugus tugas covid-19. Tapi Beliau tidak menjawab dengan kepastian. Beliau hanya minta foto KTP. Tambah galau dibuatnya….

Tidak lama setelah itu saya tanya balik ke Karo. Akhirnya Beliau mengirim pesan WA. “ass,, sabar ya,, harus dilalui dengan tabah dan semangat agar cepat sembuh,, dindo dinyatakan terkonfirmasi,,,

Byarrrr… Saya langsung tersandar di kursi mendengar kepastian dari Pak Jubir itu. Isteri saya yang belum satu bulan ditinggal meninggal ibunya pun langsung menangis. “Ini cobaan lagi pa,” ujarnya lirih.

Jangan Takut Diisolasi

Melihat itu saya langsung berdiri. Saya harus tegar. Harus secepatnya mengisolasikan diri. Jangan sampai keluarga dan tetangga terpapar. Saya bujuk isteri dan anak saya untuk tidak menangis lagi. Mereka pun manut.

Setelah tahu prosedur isolasi, saya minta isteri berkemas. Dia menyiapkan seluruh kebutuhan yang akan saya bawa ke tempat isolasi. Pakaian, handuk, sabun, sikat gigi, sajadah dan kain sarung. Semua…

Sabtu sore, setelah shalat ashar, saya pergi. Bawa kendaraan sendiri. Saya tidak mau dijemput. Khawatir mobil ambulan dengan petugas berpakaian APD seperti astronot itu membuat tetangga heboh. Isteri dan anak saya pasti dikucilkan. Tidak ada yang berani dekat dengan mereka. Duh… tak terbayangkan….

Saya jemput JP ke rumahnya di Tanjung Lumut. Saya lihat isteri JP menggendong anaknya yang masih berumur satu tahun. Kasihan…

Pukul setengah delapan malam, kami sampai di IGD RSUD Raden Mattaher. Sesuai prosedur, kami menjalani berbagai pemeriksaan kesehatan, termasuk periksa darah.

Empat jam kemudian barulah kami bergerak ke Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Provinsi Jambi, di Pijoan, Jambi Luar Kota, Muarojambi.

Sampai di Rumah Isolasi Covid-19 kami diperiksa lagi, setelah itu diantar ke kamar 212. Saya dan JP suka kamar ini. Nomornya unik, karena identik dengan tokoh pendekar silat yang lucu, Wiro Sableng. Kami berharap di kamar ini banyak kejadian lucu, supaya kami tetap happy… ***

Kategori Kesehatan

Tags:

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.