Konsep Syukur : Merasa Lebih Vs Minta Lagi

Oleh : Bahren Nurdin

KONSEP syukur yang sering kita pahami selama ini adalah merasa cukup. Dalam banyak seminar saya selalu menyampaikan bahwa merasa cukup belumlah cukup untuk mengekspresikan rasa bersyukur. Saya menegaskan bersyukur itu merasa berlebih!

Artinya, sekecil apapun nikmat yang Allah berikan kepadanya dia merasa terlalu banyak, terlalu besar, dan menyadari dirinya tidak pantas untuk menerima kenikmatan itu dibanding dengan kelalaian dan kemaksiatan yang ia lakukan. Pembandingnya adalah apa yang ia perbuat untuk Allah.

Karena ada kesadaran diri bahwa yang ia perbuat terlalu kecil dibanding yang ia terima maka pemberian itu selalu dirasakan tidak pantas ia terima. Rezeki yang Allah berikan seolah-olah ingin ia kembalikan kepada Allah karena merasa berlebih.

Efek positifnya, ia akan selalu memperbesar kebaikan-kebaikan dalam hidupnya untuk ‘mengimbangi’ kebaikan-kebaikan yang ia terima dari Allah. Jika sudah begitu yakinlah Allah akan terus menambah kenikmatan kepadanya. Itulah mengapa Allah katakan, ‘jika bersyukur akan Aku tambah’.

Efek lain, karena ia merasa yang ia peroleh terlalu besar dan merasa berlebih, maka rezeki itu kemudian ia berikan kepada orang lain (sedekah). Itulah mengapa salah satu bentuk ril perbuatan orang-orang bersyukur itu adalah mudah berbagi kepada orang lain.

Konsep ini tidak hanya diterapkan dalam persoalan materi atau uang. Tapi seluruh bentuk kebaikan ia terima selalu merasa lebih. Maka bantuan sekecil apa pun yang diterimanya dari orang lain, ia pasti sangat berterima kasih dan ucap syukur kepada Allah.

Dan sebaliknya, orang-orang yang tidak bersyukur itu tidak hanya merasa kurang. Merasa kurang belum cukup untuk menggambarkan orang-orang yang kufur. Kalau merasa kurang itu masih pasif. Tapi orang-orang kufur ini secara aktif dengan berbagai cara minta lagi-minta lagi (kepada Allah) didorong oleh rasa takut kurang.

Mengapa minta lagi dan lagi karena ia memperkecil segala nikmat yang ia terima. Sebesar apa pun yang Allah berikan itu akan ia perkecil dengan logika dan alasan yang ia bangun sendiri (nafsu). Contoh, jika dapat rezeki 100 ribu maka ia akan berkata, ‘wah ini dapat beli apa? Makan bakso sekali duduk juga habis..!”.

Bahkan, jika diberi uang ratusan juta, milyaran atau triliunan rupiah sekalipun dia akan masih bertanya ‘masih ada tambahan lagi gak?’. Itu disebabkan konsep dasarnya adalah memperkecil nikmat Allah. Dengan konsep ini maka ia tidak akan pernah menemukan batasan-batasan kecukupan dan kepuasan. Apa yang dirasakan adalah takut kurang.

Jika sudah begini, orang-orang kufur nikmat itu tidak akan pernah berhenti mengejar kenikmatan dan kepuasan dengan berbagai cara padahal ia sendiri tidak pernah menetapkan batasan kepuasan dan kecukupan dalam dirinya. Pada level yang lebih parah, sebesar apa pun yang ia dapatkan ia tidak akan berterima kasih, masih menyalahkan orang lain dan bahkan melupakan Allah!

Itulah siksaan yang sebenarnya. Saya analogikan, jika ada orang diberi minum jus yang paling enak bergelas-gelas, sampai-sampai perutnya mau pecah tapi dia tetap minta lagi dan diberi, diberi, diberi terus, apa itu kenikmatan? Itu siksaan!

Kasat mata jus yang diberikan itu enak dan nikmat, tapi justru itulah bentuk siksaan yang nyata. Makanya Allah telah tegaskan, ‘bagi yang kufur, azab-Ku sangat berat’.

Akhirnya, bersyukur itu merasa berlebih dan kufur itu minta lagi -minta lagi. Mari kita saling mengingatkan agar tidak menjadi orang-orang yang kufur nikmat Allah. Allahu’alambissawab.

Penulis adalah Akademisi UIN STS Jambi

Kategori Opini

Tags:

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.