Kontroversi Kostum “Raja” Fachrori – Syafril Nursal

Penulis : Tim Liputan || Editor : Redaksi

INFOJAMBI.COM — Kostum yang digunakan oleh pasangan calon Gubernur Jambi, Fachrori Umar dan Syafril Nursal dinilai bukan pakaian kebesaran raja-raja Jambi, seperti yang diklaim oleh juru bicara pasangan ini, Syaiful Roswandi.

Menurut pemerhati sejarah, Via Dicky, kostum yang digunakan oleh pasangan ini merupakan kostum raja-raja yang berasal dari Sumatera Timur, yakni Siak dan Sri Indrapura. Kerajaan ini lebih dekat ke Melayu Riau, ketimbang Jambi.

“Baju Rajo Jambi tak seperti itu lah. Itu baju Rajo alias Sultan dari Kerajaan Melayu di Sumatera Timur. Macam Indra, Siak dll,” tulis Via melalui kolom komentar di laman Facebook Nurul Fahmy yang menulis opini tentang simbol feodal melalui kostum yang dikenakan pasangan cakada ini, Jumat pagi 25 September 2020.

Dalam sejumlah momen, pasangan Fachrori Umar dan Syafril Nursal memang tampak menggunakan baju berwarna biru gelap dengan kombinasi bordir bermotif bunga-bunga dengan warna keemasan.

Menurut Syaiful Roswandi, pakaian yang dikenakan oleh Fachrori Umar adalah pakaian Raja Jambi Sultan Thaha Syaifuddin. Sementara pakaian Syafril Nursal adalah pakaian Panglimo Orang Kayo Hitam.

“Iya. Sejak pendaftaran hingga saat iini, kandidat kita konsisten untuk memakai pakaian adat. Itu dimaksudkan agar kedepan kita kembali kepada identitas diri yang sebenarnya sebagai masyarakat yang menjunjung tinggi nilai-nilai leluhur,” ujar Saiful Roswandi, Jubir Fachrori-Syafril melalui keterangan tertulisnya.

Fachrori yang menggunakan pakaian kebesaran raja Jambi Sultan Thaha. Dimaksudkan Fachrori selaku alim ulama adalah pemimpin yang mengayomi semua kalangan.

Sementara Syafril Nursal memakai baju kebesaran Panglimo Rang Kayo hitam. Disimbolkan sebagai pemimpin yang melindungi semua kalangan dan etnis di Provinsi Jambi.

“Sosok Pak Fachrori yang memakai baju Sultan Thaha memang dimaksudkan sebagai pemimpin yang mengayomi. Sedangkan pak Syafril sebagai sosok yang melindungi sesuai latar belakang beliau sebagai Jendral polisi,” tukasnya.

Menurut Nurul Fahmy, pakaian yang digunakan oleh pasangan ini tidak lain hanyalah politik simbol belaka. Pakaian raja-raja yang dikenakan itu hanya mencerminkan watak feodalistik pasangan ini. ***

Kategori Wisata - Seni - Budaya

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.