INFOJAMBI.COM — Di tengah dinamika pertumbuhan ekonomi daerah yang semakin kompetitif, Kota Jambi dihadapkan pada tantangan untuk tidak hanya mempertahankan laju pertumbuhan, tetapi juga memastikan kualitas dan keberlanjutannya.
Struktur ekonomi kota ini masih didominasi sektor perdagangan dan jasa, meski memiliki potensi kuat untuk naik kelas ke sektor berbasis nilai tambah.
Baca Juga: Pertumbuhan Ekonomi Jambi Meningkat Berkat Sawit dan Karet
Dalam konteks inilah, pandangan pengamat ekonomi Noviardi Ferzi menjadi penting untuk membaca arah kebijakan dan strategi pembangunan yang lebih adaptif, kritis, dan berorientasi jangka panjang.
Menurutnya arah pengembangan sektor unggulan Kota Jambi sudah berada di jalur yang tepat, namun membutuhkan strategi yang lebih tajam agar tidak berhenti pada pertumbuhan semu berbasis konsumsi dan perdagangan semata.
Baca Juga: Herman Khaeron: Ada Empat Penopang Pertumbuhan Ekonomi
Berdasarkan data sejumlah sektor seperti perdagangan besar-eceran, akomodasi dan makan-minum, industri pengolahan, transportasi-pergudangan, hingga jasa kesehatan dan real estate terbukti memiliki keunggulan komparatif dengan nilai Location Quotient (LQ) di atas 1.
“Data menunjukkan struktur ekonomi Kota Jambi memang ditopang sektor tersier. Tapi persoalannya, apakah ini cukup kuat untuk jangka panjang? Jawabannya belum tentu,” ujar Noviardi.
Baca Juga: H Al Haris Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional
Ia menyoroti bahwa dominasi sektor perdagangan besar-eceran sebagai motor utama ekonomi kota berpotensi menciptakan ketergantungan tinggi terhadap konsumsi domestik. Padahal, hasil analisis lanjutan seperti Dynamic LQ, Shift-Share Esteban Marquillas, hingga Tipologi Klassen mengindikasikan peluang agresif untuk naik kelas ke sektor berbasis nilai tambah.
“Kalau hanya memperluas pusat perbelanjaan di kawasan seperti Paal Merah, Pasar lama atau Telanaipura tanpa penguatan rantai pasok lokal, kita hanya memperbesar pasar bagi produk luar. Yang harus didorong adalah integrasi dengan UMKM lokal berbasis digital,” tegasnya.
Menurutnya, digitalisasi UMKM bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Target peningkatan omzet 15–20 persen per tahun hanya realistis jika pelaku usaha mampu masuk ke ekosistem e-commerce secara sistematis, termasuk dukungan insentif pajak dan pelatihan yang tepat sasaran.
Di sisi lain, sektor akomodasi dan makan-minum dinilai memiliki peluang besar melalui penguatan identitas kuliner lokal.
Noviardi menyebut potensi wisata berbasis makanan khas seperti durian, kare, dan sambal Jambi dapat menjadi daya tarik regional jika dikemas secara profesional.
“Kolaborasi dengan platform seperti Traveloka itu penting, tapi jangan berhenti di promosi. Standarisasi halal dan konsep ramah lingkungan harus jadi selling point agar okupansi hotel bisa tembus 75 persen pada 2027,” ujarnya.
Dari sisi makro, ia mengakui kinerja ekonomi Kota Jambi relatif solid. Pertumbuhan ekonomi yang sempat mencapai 6,61 persen pada 2023 dan berada di kisaran 4,98 persen pada 2024 masih lebih tinggi dari rata-rata provinsi. Inflasi juga terkendali di level rendah, sementara Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menembus 81,77 persen—tertinggi di Provinsi Jambi.
Namun demikian, Noviardi mengingatkan bahwa angka-angka tersebut belum sepenuhnya mencerminkan transformasi struktural.
“Pengangguran masih 7,38 persen, artinya kualitas pertumbuhan perlu diperbaiki. Kita butuh sektor yang menyerap tenaga kerja sekaligus menciptakan nilai tambah tinggi,” katanya.
Ia menekankan pentingnya percepatan sektor industri pengolahan berbasis sumber daya lokal seperti sawit, karet, dan perikanan sungai. Menurutnya, pengembangan kawasan industri mini harus difokuskan pada hilirisasi, bukan sekadar pengolahan primer.
“Kalau kita bisa dorong produk turunan seperti bioenergi atau makanan kemasan, maka efek gandanya jauh lebih besar bagi ekonomi lokal,” ujarnya.
Selain itu, sektor transportasi dan pergudangan dinilai sebagai kunci efisiensi ekonomi kota. Integrasi dengan jaringan logistik regional, termasuk rencana konektivitas kereta api Trans-Sumatera, diyakini mampu menekan biaya distribusi hingga 10–15 persen.
“Logistik murah itu fondasi daya saing. Tanpa itu, industri kita sulit berkembang,” tegas Noviardi.
Dalam konteks kebijakan, ia mendukung rencana pembentukan Satgas Sektor Unggulan lintas dinas dengan dukungan anggaran signifikan dalam RPJMD 2025–2029. Namun, ia mengingatkan agar implementasi tidak terjebak pada birokrasi yang kaku.
“Dashboard seperti Ruangdata itu bagus untuk monitoring, tapi yang lebih penting adalah eksekusi di lapangan. Kolaborasi dengan swasta melalui KUR dan CSR harus benar-benar produktif, bukan formalitas,” katanya.
Ia menargetkan, jika strategi dijalankan secara konsisten, kontribusi sektor unggulan terhadap PDRB bisa meningkat hingga 25 persen dalam tiga tahun ke depan. Namun syaratnya jelas, diversifikasi ekonomi harus dipercepat.
“Kota Jambi tidak bisa terus bergantung pada perdagangan dan jasa. Kita harus berani masuk ke industri kreatif dan agro-proses berbasis teknologi. Di situlah masa depan ekonomi kota ini,” tutupnya. ***
BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com