Kumpul Bareng Ojek Online, Bayu : Kesimpulannya, Pak HBA Itu Orang Baik…..

Penulis : Doddi Irawan || Editor : —

INFOJAMBI.COM — Anggota Komis V DPR RI dari Daerah Pemilihan Provinsi Jambi, H Hasan Basri Agus (HBA), mengajak para driver ojek online (ojol) makan malam bersama, Jumat (13/3/2020).

HBA sengaja mengundang para driver ojol ini ke Restorat Pagi Sore, di kawasan Sipin Ujung, Kota Jambi malam hari. “Saya tidak mau mengganggu kalian siang hari. Saya tahu kalian pasti sedang mencari rezeki,” ujar HBA membuka pembicaraan.

Ada cerita mengejutkan, sekaligus mengharukan dalam pertemuan ini. Seorang driver ojol, Bayu Kartilo menceritakan sebuah kejadian yang menurutnya tidak bisa dia lupakan seumur hidup.

Ceritanya, belasan tahun silam, saat pulang dari shalat tarawih, Bayu tersasar ke rumah dinas seorang pejabat Pemkot Jambi. Rumah itu ternyata rumah dinas Sekretaris Daerah Kota Jambi.

Bayu tidak tahu, apalagi kenal dengan penghuni rumah itu. Tahu berada di rumah pejabat pemerintah, Bayu pun langsung kecut. Saat Bayu berada di halaman rumah mewah tersebut, keluar seorang laki-laki paruh baya.

Dalam benak Bayu, pasti dia akan diusir. Mantan mahasiswa di Yogyakarta ini pun pasrah saja. Tapi apa yang terjadi kemudian, sungguh mengejutkan Bayu.

Laki-laki yang ternyata HBA itu malah menyuruhnya duduk di teras. Mereka sempat mengobrol ringan. Bayu bahkan disuguhkan segelas teh.

“Saya rasa tidak percaya. Sekarang saya bertatapan muka lagi dengan Pak HBA. Kesimpulannya, Pak HBA itu orang baik. Saya yang tukang ojek ini yakin bapak akan memperjuangkan nasib kami,” ujar Bayu yang berusia sekitar 50-an tahun.

Acara itu tidak sekedar makan malam. HBA ingin menyerap langsung aspirasi dari masyarakat Jambi, khususnya para driver ojek online. HBA juga sengaja membawa dua staf ahlinya, Syahrasaddin dan M Rum.

Bayu yang tergabung dalam aplikator Gojek, mendapatkan kesempatan menyampaikan aspirasi, mengungkapkan seluruh keluhan para driver ojek online di Jambi.

Bayu mengakui, bergabung di Gojek, mereka masih diperlakukan seperti manusia. Mereka tidak merasa seperti sapi perahan.

Komunikasi antara driver dan manajemen aplikator Gojek cukup baik. Program asuransinya cukup membantu.

Kendati begitu, bukan berarti Bayu dan teman-temannya di Gojek tidak punya persoalan. Salah satunya soal pendidikan anak-anak dan masalah tempat tinggal.

Bayu juga miris dinilai pemerintah daerah, bahwa keberadaan mereka tidak memberi kontribusi pada daerah.

Padahal, untuk menjadi seorang driver ojek online, mereka menyumbang pemasukan daerah dari pengurusan Surat Izin Mengemudi (SIM). Mereka juga membayar pajak kendaraannya.

“SIM dan STNK kendaraan kami tidak boleh mati. Tapi kami dianggap tidak memberi kontribusi pada daerah,” ujar Bayu.

Menyedihkan lagi, ternyata sekitar 90 persen driver Gojek di Jambi belum memiliki rumah sendiri. Untuk mengkredit rumah sederhana, mereka terkendala oleh syarat slip gaji.

“Kami ini cuma bermitra dengan aplikator. Dibilang karyawan swasta bukan, wiraswasta juga bukan. Jadi tolong Pak HBA perjuangkan bagaimana kami bisa mendapatkan rumah kredit,” ungkap Bayu.

Bayu juga berharap HBA menyampaikan di Gojek Pusat, agar memperhatikan masalah pendidikan anak-anak mereka. Dia berharap anak-anak para driver ojol juga mendapat fasilitas beasiswa.

Satu lagi, Bayu menyampaikan harapan mereka soal pinjaman lunak. Pinjaman ini bisa dimanfaatkan oleh isteri-isteri mereka untuk membuka usaha, untuk membantu ekonomi keluarga.

“Bisa berupa kredit usaha rakyat, atau melalui UMKM. Kami bayar angsurannya, bukan minta gratis,” kata Bayu disambut tepuk tangan rekan-rekannya yang lain.

Harapan yang disampaikan Bayu dari Gojek ini hampir sama dengan para driver aplikator lainnya, Grab maupun Maxim. Jumlah mereka di Jambi cukup banyak. Masing-masing aplikator beranggotakan sekitar 400 – 500 orang.

Semua aspirasi yang disampaikan dicatat oleh HBA yang bertugas di Komisi V yang menangani masalah infrastruktur, transportasi, daerah tertinggal dan transmigrasi, meteorologi, klimatologi dan geofisika.

Dalam pertemuan ini HBA ingin mendapatkan informasi mengenai adanya pemotongan jasa aplikasi, penyerapan tenaga kerja ojol dan kehidupan ekonomi mereka.

Menurut HBA, di beberapa provinsi di Indonesia, seperti Yogyakarta, masalah pemotongan jasa aplikasi dipermasalahkan oleh para driver ojol. Begitu pula dengan asuransi.

“Penyerapan tenaga kerja dari ojek online di Jambi sangat luar biasa. Saya tampung semua aspirasi ini,” ungkap HBA yang menjabat Gubernur Jambi pada tahun 2010 – 2015.

HBA tidak ingin para driver ojol di Indonesia, termasuk Jambi, menjadi sapi perahan pengusaha aplikator ojek online.

Semua keluhan dan harapan mereka akan disampaikan pada rapat komisi, terutama dengan para pengusaha aplikator ojek online di jakarta.

“Insya Allah saya perjuangkan aspirasi yang disampaikan malam ini,” tutup HBA. ***

Kategori Politik

Tags: ,,,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.