Senin, 19 November 2018 | 18:39

”Lho Guru kok Jarang Ngajar”

Oleh : Pujiono, S.Pd


Sekolah adalah salah satu tempat untuk memperoleh ilmu pengetahuan. Di sekolah para siswa di didik oleh bapak ibu guru. Berbagai bidang ilmu akan diperoleh siswa dari guru yang mengajar mulai dari mata pelajaran Agama, PKN, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, IPS Matematika, PJOK, Seni Budaya dan Prakarya. Siswa yang datang ke sekolah memiliki keinginan dan harapan akan memperoleh ilmu yang bermanfaat pada hari itu. Guru yang mengajar dan masuk di kelas tersebut memfasilitasi mengarahkan dan membimbing peserta didik sehingga memperoleh kecakapan pada mata pelajaran yang diampunya.

Undang-Undang Republik Indonesia nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, mengisyaratkan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Profesionalisme dalam pendidikan perlu dimaknai bahwa guru haruslah orang yang memiliki instink sebagai pendidik, mengerti dan memahami peserta didik. Guru harus menguasai secara mendalam minimal satu bidang keilmuan. Guru harus memiliki sikap integritas profesional. Kedudukan guru sebagai tenaga profesional sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) berfungsi untuk meningkatkan martabat dan peran guru sebagai agen pembelajaran berfungsi untuk meningkatkan mutu pendidikan nasional. Yang dimaksud dengan guru sebagai agen pembelajaran (learning agent) adalah peran guru antara lain sebagai fasilitator, motivator, pemacu, perekayasa pembelajaran, dan pemberi inspirasi belajar bagi peserta didik (wordpress.com).

Pada kurikulum 2013 yang telah diberlakukan di semua jenjang pendidikan di SD, SMP maupun SMA bahwa peran guru adalah : Pertama, guru sebagai disainer pembelajaran. Sebagai guru professional, guru mendisain bagaimana corak pembelajaran yang akan dijalankan. Disain pembelajaran itu sudah terekam dalam perangkat pembelajaran yang terstruktur, praktis dan bisa diterapkan. Kedua, guru sebagai seniman pembelajaran. Pembelajaran di ruang kelas memiliki nilai dan sentuhan seni sehingga menimbulkan rasa senang bagi siswa. Sebelumnya guru telah melakukan perancangan terhadap pembelajaran yang mengandung unsur seni sehingga rancangan tersebut dapat dijalankan oleh guru. Ketiga, motivator pembelajaran. Peran tersulit dialami guru adalah membangkitkan semangat dan kemauan siswa untuk mengeksplorasi materi belajar sebanyak mungkin. Motivasi yang cukup akan membuat siswa terangsang untuk belajar secara maksimal. Keempat, mediator pembelajaran. Kehadiran guru dalam pembelajaran sebagai perantara antara sumber belajar dengan siswa. Guru menyajikan pokok permasalahan pembelajaran kepada siswa dan siswa menerima, menelaah, dan membahas materi itu sehingga menjadi miliknya. Kelima, inspirator pembelajaran. Guru menjadi sumber inspirasi utama bagi siswa dalam mengelola materi pelajaran. Pemikiran dan strategi yang disampaikan guru akan menggerakkan siswa belajar secara mandiri dan kreatif (matrapendidikan.com).

Terhitung 10 hari menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhajir Effendy menegaskan kesuksesan sistem pembelajaran di sekolah ada pada guru, bukan kurikulum. Muhajir berulang kali mengatakan kurikulum hanyalah sebuah silabus. Sementara guru yang memiliki peran penting. “Meski tidak ada kurikulum kalau guru sudah prosfesional, dia pasti sudah tahu apa yang akan diajarkan pada muridnya. Bukan berarti kurikulum tidak penting. Hanya jangan sampai kita terpancing dengan sebutan kurikulum 2006, 2013, seolah kalau kurikulum 2013 diberhentikan lalu kiamat, kuncinya ada di guru. Kurikulum itu hanya nama saja. Kurikulum saat ini tetap akan kami perbaiki,” terangnya usai memberikan sambutan (surabaya.tribunnews.com Sabtu, 6 Agustus 2016 16:33).

Program sertifikasi guru adalah salah satu program pemerintah untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mengajar. Setiap guru yang telah memperoleh sertifikat sertifikasi maka akan berhak tambahan penghasilan sebesar gaji pokok. Harapan pemerintah program ini mampu meningkatkan kinerja guru. Namun kenyataannya masih ada guru yang berlevel sertifikasi masih malas mengajar. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengkritisi masih banyaknya guru tetap di Indonesia yang bekerja tidak secara maksimal. Dia pun menyoroti sejumlah guru bahkan sengaja mengikuti sertifikasi hanya demi mendapatkan tunjangan profesi guru, namun setelahnya bekerja dengan bermalas-malasan (kumparan.com 10 Juli 2018 12.14 WIB). Miris sekali apa yang disampaikan ibu menteri. Apalagi jika ada “oknum guru” di sekolah yang melakukan seperti pernyataan ibu Menteri. Aduh malunya.

Realitanya, ada beberapa guru bahkan mungkin banyak guru yang tidak masuk ke kelasnya pada saat jam pelajarannya. Hal ini menjadi fenomena pada sekolah-sekolah tertentu. Dari hasil wawancara dengan beberapa siswa SMP dan SMA di Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Provinsi jambi ada banyak penyebab atau alasan kenapa guru tidak masuk di kelasnya. Alasannya antara lain adalah alasan keluarga atau anak sakit. Ada kegiatan lain di luar mengajar, misalnya sibuk di organisasi. Malas masuk ke kelas kelas yang super ribut atau super menyebalkan. Selain itu ada guru yang lupa jadwal mengajarnya sendiri.

Tingginya angka anak putus SD salah satunya dipicu oleh angka ketidakhadiran guru di area-area miskin. Menurut Totok Amin Soefijanto – Education and Knowledge Management Specialist, ACDP Indonesia, dalam 10 tahu terakhir, ketidakhadiran guru tinggi. Tercatat sekitar 23,2 persen guru malas mengajar siswanya. “Sekitar 9,7 persen guru Indonesiatidak hadir di sekolah dan 13,5 persen guru tidak masuk ke dalam kelas meski mereka berada di lingkungan sekolah. Itu berarti guru-guru tidak mengajar anak-anaknya” beber Totok dalam diskusi pendidikan di Kantor Kemdikbud (reportaseguru.com:24 September 2015).

Begitu penting nya peran guru di dalam proses pembelajaran,mengingatkan kita pada pentingnya seorang guru untuk dapat masuk di kelasnya sesuai dengan jadwal mengajarnya. Para siswa merindukan guru yang mampu mendesain pembelajaran sehingga menjadi menarik. Para siswa rindu akan sosok “artis” di kelas yang mempu memotivasi, memfasilitasi mereka dalam menemukan ilmu pengetahuan. Dari hasil wawancara ini juga diketahui hal-hal yang dirasakan dan dilakukan siswa ketika ada jam pelajaran yang kosong. Para siswa merasa senang kalau ada pelajaran yang kosong. Bisa bermain dengan teman di kelas, bisa ribut di kelas, bercanda sama teman-teman. Tentu hal ini sangat riskan jika terus terjadi. Ribut di kelas dapat mengganggu kelas lain yang sedang belajar. Bermain yang berlebihan sesama murid bisa menimbulkan konflik antar siswa, bahkan parahnya bisa terjadi kecelakaan fatal, keributan maupun perkelahian. Wow begitu parahnya keadaan yang ditimbulkan dari tidak hadirnya sosok guru di dalam kelas.

Sebenarnya apa yang di inginkan seorang murid dalam belajar. Dari hasil wawancara dengan beberapa siswa SMP dan SMA di Kabupaten Tanjung Jabung Barat menyatakan bahwa mereka menginginkan guru yang mampu mendesain pembelajaran yang menyenangkan. Sikap guru yang tidak tegang saat mengajar. Belajar diesertai permainan, belajarnya tidak serius terus. Terus jika ada pertanyaan dari siswa direspon dengan baik (siswa jangan dicuekin). Dan yang terakhir tidak boleh sering marah-marah. Menurut siswa di sana,guru boleh marah untuk siswa yang sikapnya sudah melampaui batas norma kehidupan. Mereka juga menyatakan kami juga tidak suka guru yang lembek, membiarkan semua prilaku siswa dengan bermacam-macam tingkah polahnya.

Banyak cara yang dilakukan pihak sekolah untuk terus memotivasi guru untuk rajin mengajar. Beberapa orang kepala sekolah melakukan beberapa trik. Trik itu diterapkan oleh Pak Tri Januari, Kepala Sekolah (Kepsek) SMPN 41 Ragunan, Kecamatan Pasar Minggu, Jakarta Selatan. “Guru yang malas mengajar sebaiknya berhenti mengajar. Itu motto saya,” katanya kepada JawaPos.com saat pelaksanaan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK), Selasa (2/5/2017). Pria yang lahir di bulan Januari ini menjelaskan, semangat itu terus ditanamkannya dan bisa memacu anak buahnya serta guru lainnya. Menurutnya, guru bukan hanya sekadar pintar secara akademis, tapi harus pandai menyampaikan pemahaman kepada siswa. “Untuk memacu diri kami para guru supaya mau terus belajar. Seseorang itu bisa karena terbiasa,” katanya. Tri memahami guru di era digital saat ini harus lebih kreatif dan inovatif. Tantangannya adalah masih banyak guru yang gagap teknologi (gaptek). Sekolahnya menjadi sanggar dari 27 sekolah untuk memberikan pelatihan bagi proktor atau pengawas server saat UNBK. “Gaptek sedikit masih ada. Kami biasakan setiap kali supervisi harus menggunakan teknologi. Guru harus mau belajar,” jelasnya.

Dari gambaran di atas ternyata siswa mengharapkan kehadiran Bapak Ibu guru dikelasnya. Ingatlah jadwal mengajar dengan cara membuat jadwal dan menuliskannya pada tempat-tempat yang mudah untuk dilihat atau membuat pengingat pada ponsel(gadget). Mereka mengharapkan hadirnya “desainer” dan “artis” pembelajaran. Mereka merindukan sosok motivator dan fasilitator untuk menuntun mereka belajar. Mereka rindu permainan-permainan yang membuat mereka lebih bergairah dalam belajar. Pertanyaannya, apakah sebagai seorang guru kita telah melakukannya? Ya.. jawabannya ada dalam diri Bapak dan Ibu guru masing-masing. Mari sikapi ini dengan bijak, santun dan elegan. Berusahalah terus bersama siswa. Setiap tetes ilmu yang bapak ibu guru berikan adalah bekal mereka menghadapi realita hidup pada masa mendatang. Motivasi mereka untuk terus berkembang sesuai dengan bakatnya. Mengajarlah dengan tulus agar mereka juga memahami bahwa bapak ibu guru adalah juga manusia dengan segala macam permasalahannya. Semangat mengajar guru-guru Indonesia.

Penulis adalah guru SMPN 1 Kuala Tungkal


Kategori Opini

Tags:

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.