Ditemukan Makam Keramat, Konon Makam Syekh Isa bin Syam Al-Bagdadi

Konon, ini makam Syekh Isa bin Syam Al-Bagdadi, yang wafat tahun 702 Hijiriyah || foto : raini

KUALATUNGKAL — Warga RT 05 Dusun Kampungtengah, Desa Pematanglumut, Betara, Tanjabbar, heboh ditemukannya makam keramat, di desa mereka. Makam di pinggir sungai ini diduga berusia ribuan tahun.

Disebut-sebut makam tua ini adalah makam murid Syekh Abdul Qadir Al Jailani. Namanya Syekh Isa bin Syam Al-Bagdadi, wafat tahun 702 Hijiriyah. Tidak tanggung-tanggung, panjang makam ini mencapai tujuh meter.

Penemuan kuburan tua ini bermula dari beberapa orang jemaah pengajian. Mereka minta Abuya Habib Husin Al At’tas asal Kalimantan Selatan, warga Jalan Benua Kapayang, Desa Ta’al, RT 02 RW 01, Labuan Amas Selatan, Hulu Sungai Tengah, Barabai, menerawang keberadaan makan tersebut.

Pada malam tahun baru, Sabtu 31 Desember 2016, beberapa jemaah Abuya Habib Husin Al At’tas berziarah dan melaksanakan haul di makam yang sekarang sudah berada di tengah pemakaman umum.

Hasil terawangan Abuya Habib Husin Al At’as, nama dari yang bermakam di tempat tersebut adalah Syekh Isa bin Syam Al Bagdadi. Beberapa jemaah, Ijal dan Ikrom, mengaku senang dan haru melihat makam itu.

Menurut Ijal, awalnya makam ini hanya diziarahi kerabat saja. Ada kejadian, para pekerja proyek pengerukan sungai membawa alat berat (eksavator) ke dekat makam itu. Tiba-tiba mereka didatangi seekor ular besar.

Para pekerja itu lari ketakutan dan meninggalkan alat beratnya di lokasi. Keesokan hari datanglah para pekerja itu dengan membawa beberapa ustadz. Lalu dilakukan pembacaan Surath Yaasin dan doa di makam.

“Sejak saat itu para pekerja tadi lancar bekerja,” cerita Ijal yang diaminkan Ikrom.

Kabag AKRK Setda Tanjabbar, M Arif, akan membentuk tim survey. Tim ini akan meninjau makam tersebut. Sejak mencuatnya cerita macam-macam seputar makam ini, warga Desa Pematanglumut jadi resah.

Makam itu telah dipugar dengan konstruksi cor beton sepanjang tujuh meter. Tidak hanya itu, makam juga diberi kubah dengan kelambu kuning, sebagai tanda makam keramat.

“Perlu penelitian yang jauh untuk memastikan di dalam makam itu bersemayam jasad seorang ulama besar. Kami diminta MUI mecari kebenaran kabar itu,” kata Arif.

Keraguan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tanjabbar terhadap makam keramat ini, didasari oleh analisa Ketua MUI Tanjabbar, KH Abdul Halim Kasim.

Menurut KH Abdul Halim Kasim, ada rentang waktu 212 tahun antara wafatnya Syekh Abdul Qadir Al Jailani (561 Hijiriyah atau 1166 Masehi) dan Syekh Isa bin Syam Al Bagdadi (702 Hijiriyah atau 1303 Masehi).

“Selisih 212 tahun ini yang tidak memungkinkan keduanya bertemu,” ujar Arif.

Selain masalah tahun wafat, batu nisan yang terdapat pada makam ini tidak sama bentuknya dengan batu nisan pada makam ulama-ulama, pada awal penyebaran ajaran agama Islam di Indoneia. Ciri makam juga meragukan MUI.

Camat Betara, Wanwan Irawan, belum bisa diminta keterangan terkait sejarah dan keberadaan makam yang menghebohkan daerahnya. (infojambi.com/DD)

Laporan : Raini

 

Kategori Wisata - Seni - Budaya

Tags:

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.