INFOJAMBI.COM — Di tengah derasnya arus perubahan industri media, satu pertanyaan terus mengemuka di ruang redaksi media- media daerah. Bagaimana tetap relevan, ketika pola konsumsi informasi berubah begitu cepat?
Pengalaman tirto.id mengembangkan media digital menjadi salah satu pelajaran penting. Ilmu itu dibagikan kepada para wartawan, pada kegiatan capacity building yang diadakan Bank Indonesia bersama Forweb Jambi, di Yogyakarta.
Baca Juga: Kasus BPN vs Wartawan Ada Kemungkinan Sampai ke Mabes Polri
Kegiatan bertema Transformasi Jurnalistik di Era Multi-platform itu menjadi ruang berbagi pengalaman. Khususnya terkait tantangan dan peluang yang dihadapi media massa saat ini.
Perubahan lanskap digital, dominasi platform distribusi, serta bergesernya pola belanja iklan, membuat media tidak lagi bisa bertumpu pada cara-cara lama.
Baca Juga: Kerja Sama Humas Merangin dan Media Kian Ketat, Ini Dia Persyaratannya.....
Pemimpin Redaksi tirto.id, Rahmadin Ismail, mengingatkan bahwa media harus berani menyesuaikan diri dengan perubahan. Model bisnis konvensional yang selama ini diandalkan tidak lagi menjamin keberlanjutan usaha media.
Menurutnya, kunci utama terletak pada kemampuan media menjaga relevansi di hadapan audiens yang semakin selektif dalam memilih informasi.
Baca Juga: Festival Media, Memajukan Masyarakat dan Jurnalis
“Media harus memiliki relevansi dengan audiens. Konten yang dihasilkan harus memiliki nilai dan karakter yang membedakannya dengan media lain,” ujar pria yang akrab disapa Madin itu.
Bagi media daerah, peluang itu justru terbuka lebar. Saat banyak media bersaing memperebutkan isu yang sama, media lokal punya kekuatan yang tidak dimiliki pemain nasional, yaitu kedekatan dengan masyarakat dan pemahaman terhadap persoalan setempat.
Madin menilai, media daerah dapat memperkuat posisinya melalui penggarapan isu-isu lokal yang unik. Isu yang dekat dengan kehidupan warga, dinilai memiliki potensi besar untuk menarik perhatian pembaca, apabila disajikan mendalam dan berkualitas.
Tidak hanya soal pemberitaan. Madin juga menekankan pentingnya membangun jejaring serta komunitas pembaca. Hubungan yang kuat dengan audiens menjadi modal penting dalam menjaga keberlangsungan media di tengah persaingan yang semakin ketat.
“Yang dibangun bukan hanya jumlah pembaca, tapi komunitas pembaca yang memang relevan dengan konten kita,” katanya.
Dalam paparannya, Madin menjelaskan, strategi konten harus disesuaikan dengan karakter setiap platform. Website tetap menjadi rumah utama bagi karya jurnalistik mendalam.
Di sana, media dapat menyajikan liputan berkualitas, berbasis data, dilengkapi visual menarik, serta diperkuat dengan optimalisasi Search Engine Optimization (SEO).
Sementara itu, media sosial (medsos) memiliki pendekatan berbeda. Platform seperti Instagram, TikTok, Facebook, Threads, dan YouTube, lebih mengandalkan kekuatan visual dan interaksi dengan pengguna.
Konten tidak cukup hanya dipindahkan dari website ke media sosial. Setiap platform membutuhkan pengemasan yang disesuaikan dengan perilaku dan kebutuhan audiensnya.
“Format, penyajian, hingga cara bercerita harus diolah kembali, agar mampu menjangkau pengguna secara lebih efektif,” jelasnya.
Pandangan tersebut lahir dari kenyataan bahwa keberhasilan media saat ini tidak lagi semata-mata ditentukan oleh angka trafik. Besarnya jumlah klik belum tentu berbanding lurus dengan kekuatan sebuah media dalam membangun hubungan dengan pembacanya.
Madin menegaskan, masa depan bisnis media sangat bergantung pada kemampuan memahami kebutuhan audiens. Media harus mampu menghadirkan konten yang relevan, menjaga kualitas, serta membangun komunitas yang memiliki keterikatan dengan produk jurnalistik yang dihasilkan.
Suasana diskusi di Yogyakarta itu mencerminkan kegelisahan, sekaligus harapan insan media daerah dalam menghadapi perubahan zaman.
Ketika teknologi terus berkembang dan kebiasaan membaca terus bergeser, tantangan yang dihadapi media menjadi semakin kompleks.
Kegiatan tersebut juga dihadiri Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi, Robby Fathir Nashary.
Capacity building yang rutin diadakan setiap tahun itu bagian dari upaya meningkatkan kapasitas insan media, agar mampu beradaptasi dengan perkembangan jurnalistik dan perubahan model bisnis media di era digital.
Di tengah ketidakpastian yang menyelimuti industri media, pesan yang dibawa tirto.id terdengar sederhana, namun penting.
Relevansi, kedekatan dengan audiens, dan kemampuan membangun komunitas menjadi bekal utama bagi media daerah untuk bertahan sekaligus tumbuh di masa depan.
Bukan sekadar mengejar banyaknya pembaca, menghadirkan karya jurnalistik yang bernilai dan benar-benar dibutuhkan masyarakat juga sangat penting. ***
BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com