Mengenang Jejak Para Wali dan Penjajah di Maluku Tengah

PERASAAN diberkahi terasa megah ketika kami meninggalkan Jazirah Lehitu, Kecamatan Hilu, Kabupaten Maluku Tengah untuk kembali ke Kota Ambon. Tidak terbayang sebelumnya, dari Pulau Sumatra nan jauh di barat, kami bisa melabuhkan pandangan di belahan timur nusantara yang menyimpan sobekan catatan sejarah bangsa Indonesia dan itu tidak kami ketahui sebelumnya. Kalau bukan karena acara peringatan Hari Pers Nasional di Kota Ambon, agak mustahil kami bisa ke sini. Kami sampai di pantai Desa Hila setelah menempuh satu jam berkendara melewati jalan sempit yang sisinya dipenuhi semak, kebun dan pohon pala penduduk.

Setelah menikmati makan siang yang tertunda di sebuah bale-bale di samping benteng Amsterdam, kami menuju komplek masjid tua Wapaue di Desa Kaitetu untuk melaksanakan sholat jamak zuhur dan asar. Jiwa ingin tahu wartawan dan petualang di diri kami langsung terjaga melihat penampilan luar masjid tersebut; bangunan putih berdinding kayu, jendela berhias tirai lusuh dan atap terbuat dari daun rumbia. Sangat sederhana dan kuno, namun menjadi mencolok karena rumah-rumah di sekitarnya tak satupun lagi yang terbuat dari kayu.

Bagian dalam masjid semakin mengokohkan kesepuhannya. Menurut Syahrial dan Yus Iha yang menjaga masjid Wapaue, hampir semua bagian dalam masjid masih asli sebagaimana awal pendiriannya pada tahun 1414. Masjid ini dibangun oleh para raja dari lima kampung di sekitar Gunung Wawane dengan dibimbing oleh para dai dari tanah Arab. Mereka datang dengan membawa seperangkat perlengkapan masjid seperti Kitab Quran tulisan tangan, tongkat kayu untuk khatib, bedug dan timbangan yang berbadul batu dengan berat 2,5 kilogram. Timbangan tersebut aslinya dipakai untuk menakar sagu yang dizakatkan umat Islam.

Dibangun oleh para wali yang memiliki karomah, masjid ini dipercayai penduduk sekitar telah berpindah tempat beberapa kali sejak pembangunanya pada enam abad lalu. Masjid ini juga menjadi bagian dari perlawanan penduduk terhadap penjajah Belanda yang masuk pada abad 16. Di kaki mimbar masjid, berkibar bendera merah putih yang dulu pernah diturunkan oleh Belanda namun dipasang kembali oleh masyarakat.

Jazirah Lehitu pastilah sangat penting sehingga bangsa Portugis yang masuk pada tahun 1523 merasa perlu membangun sebuah benteng di pinggir pantainya. Benteng yang kemudian dikuasai Belanda tersebut kemudian dinamai Amsterdam. Benteng ini tidak terlalu besar namun kokoh. Di sini dulunya disimpan hasil rempah-rempah yang dijarah dari penduduk, sekaligus digunakan memantau kedatangan kapal Portugis yang terus berusaha merebut wilayah itu dari Belanda. Sambil berpose dari balkonnya, kami dapat melihat air laut Seram yang tenang dan membayangkan kapal-kapal yang melintas di masa lalu membawa kekayaan daerah ini ke daratan Eropa.

Tidak jauh dari benteng, dan hanya berjarak 150 meter dari masjid Wapaue, berdiri gereja Imanuel yang juga beratap rumbia. Gereja ini dibangun tahun 1846 dan telah dipugar beberapa kali dengan tetap mengacu ke bentuk aslinya. Menurut seorang penduduk, gereja tersebut masih dipakai umat Protestan untuk beribadah sampai saat ini. Ketiga bangunan bersejarah ini telah ditetapkan menjadi cagar budaya dan dijaga kelestariannya oleh pemerintah dan masyarakat setempat.

Sebelum kembali ke Kota Ambon, kami sempat menikmati goreng pisang dan singkong yang manis serta kopinya yang beraroma segar. Sempat kesal oleh lalu lintas yang sembraut di tengah kota menjelang puncak peringatan HPN 9 Februari, perjalanan kami sore itu menyisakan kesan lain tentang Pulau Maluku. Sebuah pulau yang kaya sejarah, aroma rempah yang pekat serta buah-buahan dan umbi-umbiannya yang manis –pisang, singkong, jambu bol dan kecapi (yang seumur-umur baru kali ini kami cicipi)-, juga orang-orangnya yang polos serta rendah hati.

Seandainya Maluku bisa dirancang menjadi destinasi wisata khusus, yang mengungkap sejarah gelap bangsa ini yang dikutuk justru karena limpahan sumberdaya, ini mungkin akan sangat menarik. Berwisata ke Maluku akan membuka mata anak bangsa tentang betapa menggiurkannya negeri ini bagi bangsa asing. Oleh alasan itu, kita harus benar-benar menjaganya. (infojambi.com/ARD)

Kategori Wisata - Seni - Budaya

Tags:

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.