Menjemput Fitri di Ujung Jalan: Seni 'Bermanja' dengan Ramadhan Sebelum Sang Tamu Beranjak Pergi

WAKTU seakan berlari lebih cepat di sepuluh malam terakhir bulan suci. Di saat sebagian besar masyarakat mulai tersedot dalam pusaran hiruk-pikuk persiapan logistik

Reporter: - | Editor: Admin
Menjemput Fitri di Ujung Jalan: Seni 'Bermanja' dengan Ramadhan Sebelum Sang Tamu Beranjak Pergi
Moch Idris

Oleh: Moch Idris | Jurnalis tinggal di Jambi

WAKTU seakan berlari lebih cepat di sepuluh malam terakhir bulan suci. Di saat sebagian besar masyarakat mulai tersedot dalam pusaran hiruk-pikuk persiapan logistik Lebaran mulai dari memadati pusat perbelanjaan hingga memantau arus mudik ada sebuah narasi sunyi yang seharusnya lebih nyaring terdengar: narasi tentang perpisahan dengan Ramadhan.

Baca Juga: Zola : Pemerintah Berupaya Jaga Stabilitas Harga dan Stok Sembako

"Bermanja bersama Ramadhan" bukan sekadar kiasan puitis. Ia adalah sebuah undangan spiritual untuk memperlambat tempo kehidupan ( slow living ) di tengah akselerasi duniawi yang kian menyesakkan. Sebelum fajar Syawal menyapa dan gema takbir membelah angkasa, setiap detik yang tersisa adalah peluang emas untuk melakukan rekonsiliasi batin dengan Sang Pencipta.

Secara sosiologis, fenomena akhir Ramadhan di Indonesia seringkali menampilkan paradoks yang tajam. Di satu sisi, masjid-masjid mulai memperketat barisan melalui ibadah i’tikaf. Di sisi lain, deru mesin kendaraan di jalan raya dan kepadatan di pasar-pasar tradisional menunjukkan bahwa fokus manusia mulai terbelah.

Baca Juga: Tidak Beri THR, Perusahaan Ditegur

Jurnalisme reflektif melihat ini sebagai momen kritis. Apakah kita sedang merayakan kedatangan hari raya, ataukah kita sedang merayakan "kepergian" beban berpuasa? Bermanja dengan Ramadhan berarti menempatkan diri kita sebagai seorang kekasih yang enggan melepas genggaman tangan di peron keberangkatan. Kita seharusnya memanfaatkan sisa waktu ini untuk "mengadu" lebih banyak, bersujud lebih lama, dan menyelami palung hati yang mungkin selama sebelas bulan terakhir tertutup debu kesibukan.

Narasi kemenangan yang kita dengungkan di awal Fitri tidak akan memiliki ruh jika kita tidak melewati proses "bermanja" ini. Kemenangan tanpa perjuangan batin hanyalah sebuah seremonial kosong yang akan hilang begitu hidangan ketupat habis disantap.

Baca Juga: Ulah Pelansir, Merangin Kekurangan Solar

Ramadhan bukan sekadar pergeseran jadwal makan atau perubahan pola tidur. Ia adalah sebuah "Laboratorium Karakter" yang didesain untuk menguji daya tahan manusia terhadap gratifikasi instan. Dalam kaidah jurnalistik yang mengedepankan fakta moral, kita melihat bahwa puasa mendidik seseorang untuk berkata "tidak" pada yang halal demi ketaatan, agar kelak ia mampu berkata "tidak" pada yang haram demi integritas.

Namun, di penghujung bulan ini, ujian sesungguhnya baru dimulai. Saat tubuh mulai lelah dan rasa kantuk akibat qiyamul lail memuncak, di situlah letak momen bermanja yang paling murni. Kita dipaksa untuk memilih: menyerah pada rasa lelah atau tetap bertahan di atas sajadah demi menjemput malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Kalimat-kalimat doa yang terucap di keheningan malam terakhir bukan sekadar permintaan duniawi. Ia adalah bentuk pengakuan atas keterbatasan manusia. Di sinilah letak kemewahan bermanja dengan Ramadhan; ketika seorang hamba merasa begitu dekat dengan Tuhannya, sehingga segala keluh kesah hidup terasa kecil di bawah naungan ampunan-Nya.

Kemenangan di hari raya adalah sebuah jawaban atas konsistensi. Idul Fitri, secara etimologis, membawa kita kembali ke "Fitrah" atau kesucian asal. Namun, perjalanan menuju kesucian itu memerlukan pembersihan sisa-sisa ego ( self-purification ).

​Banyak dari kita yang terlalu sibuk menyiapkan "bungkus" kemenangan baju baru, perabotan rumah yang segar, hingga kendaraan yang mengkilap namun lupa menyiapkan "isi" dari kemenangan itu sendiri. Padahal, esensi Fitri adalah keberhasilan kita menundukkan sifat-sifat destruktif seperti iri, dengki, dan keserakahan yang selama ini kita kekang selama tiga puluh hari.

Bermanja dengan Ramadhan di menit-menit terakhir adalah upaya untuk memastikan bahwa perubahan karakter yang kita bangun tidak ikut "pergi" bersamaan dengan hilangnya hilal bulan Ramadhan. Kita ingin agar spirit Ramadhan tetap menetap di dalam dada, menjadi kompas moral dalam menjalani kehidupan di bulan-bulan berikutnya.

Puncak dari bermanja dengan Ramadhan secara sosial adalah penunaian Zakat Fitrah. Secara jurnalistik, ini adalah momen redistribusi kekayaan yang paling masif dan sistematis. Namun lebih dari itu, zakat adalah cara kita "bermanja" dengan kemanusiaan.

​Setelah sebulan penuh kita merasakan lapar yang sama dengan mereka yang kekurangan, zakat menjadi bukti otentik bahwa pelajaran empati kita telah lulus sensor. Kemenangan Fitri menjadi sah ketika tidak ada lagi tetangga yang kelaparan saat takbir berkumandang. Ini adalah bentuk nyata dari kesalehan sosial yang lahir dari rahim madrasah Ramadhan.

Ketika senja terakhir Ramadhan jatuh di ufuk barat, akan ada rasa sesak yang menghampiri jiwa-jiwa yang tulus. Ramadhan akan pergi membawa rapor amalan kita. Ia akan menjadi saksi di hadapan sejarah tentang apa yang kita lakukan di setiap detiknya.

​Namun, kepergian Ramadhan bukanlah akhir. Ia adalah awal dari implementasi ilmu. Kemenangan awal Fitri yang kita jemput adalah sebuah komitmen untuk menjaga api konsistensi tetap menyala. Kita membalas kemenangan itu dengan menjadi pribadi yang lebih moderat, lebih peduli, dan lebih berintegritas.

​Mari kita gunakan sisa napas bulan suci ini untuk benar-benar bermanja dalam dekapan maghfirah-Nya. Jangan biarkan ia pergi tanpa kita sempat menciumi aroma ampunan yang ia tawarkan. Selamat menjemput kemenangan, selamat kembali ke fitrah yang sejati. ***

BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com

Berita Terkait

Berita Lainnya