Mont ‘D Or Ditolong Tuhan…..

MELINTAS di jalan lintas timur (jalintim) Jambi – Riau, di Desa Dusun Mudo, Kecamatan Muara Papalik, Kabupaten Tanjung Jabung Barat (Tanjabbar), Jambi, ada sebuah kilang minyak. Lokasinya tidak terlalu luas.

Di lokasi ini SKK Migas – Mont ‘D Or melakukan eksplorasi minyak bumi. Lokasi di Lapangan Pematang Lantih ini berada di Blok Tungkal. Di lokasi ini Mont ‘D Or hanya memiliki satu sumur.

Meski cuma satu, produksi minyak sumur Pematang Lantih bisa menutupi cost eksplorasi Mont ‘D Or, di Pematang Lantih hingga 20 sumur di Blok Mangopeh, Desa Lubuh Madrasah, Kecamatan Tengah Ilir, Kabupaten Tebo.

Pengeboran minyak yang dilakukan Mont ‘D Or di Provinsi Jambi ternyata menyimpan kisah sedih. Awalnya, Mont ‘D Or mengebor minyak hanya di Blok Mangopeh. Eksplorasi di sana dimulai sekitar sepuluh tahun lalu.

Di Blok Mangopeh, Mont ‘D Or punya 20 sumur. Namun produksinya tidak stabil. Minyak yang disedot ke permukaan bumi jumlahnya berfluktuasi dari hari ke hari. Naik turun.

Field Operation Superintendent Mont ‘D Or Oil Tungkal, Andri Betmanto mengisahkan, tahun 2015, ketika harga minyak dunia anjlok, eksplorasi di Blok Mangopeh nyaris ditutup. Mont ‘D Or ketika itu sangat merugi.

Ruginya usaha di Blok Mangopeh terjadi lantaran biaya produksinya tidak sebanding dengan minyak yang diperoleh. Untuk membiayai satu sumur, dibutuhkan biaya sangat besar.

”Perbandingannya, minyak yang didapat hanya 500 barel, sedangkan biaya produksi bisa mencapai 1.000 barel lebih. Blok Mangopeh dipertahankan karena banyak orang yang bergantung hidup di sana,” jelas Andri.

Produksi minyak Blok Mangopeh terus menurun tiap tahun. Pada 2017, dari 20 sumur yang tersebar di empat PAD, rata-rata hanya produksi 507 barel minyak per hari (BMPH). Produksi tertinggi 685 BMPH, dan terendah 373 BMPH.

Untung saja Mont ‘D Or memiliki sumur di Pematang Lantih. Menariknya, kendati hanya ada satu, eksplorasi di sumur berkedalaman sekitar 1.300 meter ini tidak butuh biaya mahal. Minyak diperoleh secara natural flow, karena keluar sendiri dari perut bumi.

“Sumur di Pematang Lantih sangat unik. Kami tidak perlu mengeluarkan biaya seperti pengeboran di Blok Mangopeh yang semua sumur menggunakan pompa. Sangat luar biasa, Tuhan benar-benar telah tolong kami,” ungkap Andri.

Tahun ini, sumur di Lapangan Pematang Lantih mampu memproduksi minyak rata-rata 489 BMPH. Produksi tertingginya 568 BMPH dan terendah 436 BMPH. Produksi ini menurun dibanding ketika sumur ini baru dibuka tahun 2015, yang menghasilkan 1.300 BMPH dan 700 BMPH di tahun 2016. (Doddi Irawan — Jambi)

Kategori Pendidikan

Tags: ,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.