Novelis Muda Batanghari yang Minim Dukungan Pemerintah

Penulis : Dwi Danial || Editor : Redaksi

Muhammad Aryuda Pratama

INFOJAMBI.COM – Semua orang tentunya bisa menulis, namun untuk orang yang dianugerahi ide dan kreatifitas dalam menulis sangatlah jarang. Di Batanghari sendiri sedikit kita temukan novelis atau pun komikus, entah karena kurang promosi ataupun minimnya dukungan dari pemerintah daerah Batanghari. Saat ini ada salah satu penulis muda yang sudah mempunyai karya novel dan baru berusia 21 tahun dari Kabupaten Batanghari.

Dia adalah Muhammad Aryuda Pratama, akrab disapa Yuda. Pria yang lahir pada 25 Juni 1999 ini memiliki perawakan yang kurus, rambut hitam lurus, dan berkulit gelap. Dia sendiri lahir dari keluarga yang tidak kaya, orangtua hanya menjual bensin ‘ketengan’. Dengan penghasilan yang pas-pasan, kedua orang tua Yuda menghidupi tiga orang anak. Yuda sendiri merupakan anak pertama dari tiga bersaudara.

Pendidikan awalnya, Yuda mengenyam pendidikan sekolah dasar di Medan, kemudian melanjutkan pendidikan di MTs Al-Ikhlas Batanghari sembari berjualan kaset untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari serta membayar biaya pendidikan, dan saat SMA ia bersekolah di SMAN 6 Batanghari.

Setelah tamat SMA, dengan keuangan yang seadanya, ia pun mencoba untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dengan mengikuti seleksi program bea siswa bidik misi dari pemerintah pusat. Pemuda ini pun lolos di prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Jambi.

Saat dijumpai awak media, pria yang beralamat di Jalan Gajah Mada, Kelurahan Pasar Baru, Kecamatan Muara Bulian ini mengatakan bahwa sudah ada dua novel karyanya dipublikasi oleh penerbit dari Provinsi Jawa Barat. Pertama pada tahun 2019 dengan novel berjudul “Terkubur di Atap Sumatera” dan pada bulan Oktober 2020 lalu buku berjudul “Mimpi” juga sudah terbit dan dipasarkan, kini kedua novel tersebut sudah menghiasi perpusatakaan nasional dan perpustakaan daerah Jawa Barat.

Kedua novel karya pemuda Batanghari bertema pertualangan dengan dibumbui kisah-kisah romantis. Meski pun bersifat fiksi, namun pembaca akan terhanyut dalam cerita tersebut. Yuda pun menceritakan sekilas pengalaman dan usahanya dalam memperjuangkan karya novelnya agar terpublish ke masyarakat. Awal mula dirinya masuk ke dunia menulis yakni saat ia mulai mengenal dunia perkuliahan.

“Awalnya saya mau ambil jurusan ilmu filsafat, tapi justru lulus di pendidikan bahasa dan sastra. Dari situ saya mulai menggeluti dunia menulis,” ujarnya.

Saat dirinya menyelesaikan novel, Yuda sempat kebingungan untuk mencari perusahaan atau pihak yang bersedia menerbitkan karyanya. Saat melihat di website, di Provinsi Jambi ada beberapa penerbit dan dia pun mencoba menemui beberapa pihak, namun semua biaya dan bentuk promosi diserahkan kepada pribadinya.

“Kami sempat berfikir untuk minta bantuan pemerintah daerah, tapi kami tidak punya koneksi. Dan lagi di Batanghari belum ada wadah untuk panggung kreatifitas anak muda,” kata dia.

Tak menyerah di situ, Yuda mencoba mencari penerbit diluar daerah Jambi, dan menemukan ada penerbit minor yang siap mempublish karya-karyanya. Namun ada beberapa syarat dan perjanjian yang harus dipenuhi. Setelah ia memenuhi persyaratan, akhirnya karya Yuda pun dipublish oleh pihak penerbit dari Provinsi Jawa Barat.

“Penerbit minor tidak pernah mencetak buku jika tidak ada yang membeli. Boleh dibilang, ada pembeli ada buku, jika tidak ada ya sudah naskah disimpan saja,” bebernya.

Yuda pun berharap, kedepannya pemerintah Kabupaten Batanghari memperhatikan dan menyiapkan wadah untuk anak anak muda yang mempunyai ide, gagasan dan kreatifitas. Sehingga para anak muda Batanghari mempunyai kesempatan untuk mengenalkan karya-karya mereka ke publik. Sebab tak sedikit di Batanghari ini anak mudanya mempunyai karya yang luar biasa, namun minim perhatian dari pemerintah.

“Kita harapkan kedepannya pemerintah batanghari menyiapkan panggung kreatifitas untuk anak muda. Dan di sana menampung para pelaku seni, penulis dan lainnya,” kata dia.

Dalam waktu dekat ini, Yuda juga akan merilis satu novel barunya berjudul ‘AGAPE’ yang juga dipublish oleh penerbit dari daerah Provinsi Jawa Barat. Karena hingga saat ini karya belum dilirik oleh pihak pemerintah Kabupaten Batanghari.

“Insya Allah sebulan lagi karya terbaru kami akan dirilis, mudah-mudahan karya kami dapat menginspirasi para anak muda Batanghari agar terus berkreasi dan berkarya, baik dalam bentuk tulisan maupun seni,” pungkasnya. ***

Kategori Batanghari

Tags:

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.