Selasa, 11 Desember 2018 | 09:49

Palu Sulteng Diguncang Gempa dan Sunami

Laporan Tim Liputan

INFOJAMBI.COM – Gempa bumi dengan magnitudo 7,4, yang mengguncang Palu Sulawesi Tengah, Jumat, (28/9/2018), getarannya terasa hingga beberapa daerah. Selain Gorontalo, Poso, Kendari, hingga Makassar, gempa juga terasa di Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara, kata Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, dalam jumpa pers dikantornya, Jakarta, Jumat (28/9/2018).

Dwikorita mengatakan, getaran gempa juga dirasakan Kabupaten Toli-toli, Sulawesi Tengah dengan intensitas MMI 5. Akibat getaran itu, bangunan menjadi bergoyang dan mengalami kerusakan, seperti rumah warga, fasilitas umum dan rumah ibadah.

“Di Donggala intensitas MMI mencapi 4, di Gorontalo, Poso, Palu mencapai skala 3 hingga 4 MMI. Begitu juga di Majene dan Soroako guncangan mencapai skala MMI 3. Kemudian di Kendari, Kolaka, Konawe Utara, Bone dan Sengkang, intensitas MMI 2 dan 3. Makassar, Gowa intensitas MMI mencapoai 2. Artinya memang dirasakan,” ujar Dwikorita.

BMKG menyatakan tsunami yang terjadi di Palu Sulawesi Tengah setinggi 1,5 meter. Tsunami dinyatakan telah selesai.

“Tsunami tersebut telah berakhir pukul 17.36 WIB atau 18.36 WITa,” kata Dwikorita.

Berikut adalah sejumlah fakta bergeraknya lempeng bumi di Pulau Sulawesi yang terjadi, Jumat (28/9/2018), yang dirangkum dari berbagai sumber.

Pertama, disebabkan bergeraknya Sesar Palu-Koro. Sesar Palu-Koro adalah patahan kerak bumi yang membentang dari Teluk Palu hingga ke Lembah Koro. Ini sesar aktif yang melewati Kota Palu, Toraja, Poso, dan Teluk Bone.

Gempa bermagnitudo 7,4 di Donggala disebabkan, karena pergerakan Sesar Palu-Koro. Pergerakannya adalah sesar mendatar (slike-slip), artinya antara lempeng bumi satu dan lempeng bumi lain bergerak sejajar.

“Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenter, gempa bumi yang terjadi merupakan jenis gempa bumi dangkal, akibat aktivitas Sesar Palu Koro,” demikian pernyataan Deputi Bidang Geofisika BMKG, Muhamad Sadly, dalam keterangannya, Jumat (28/9/2018).

Kedua, kemungkinan terpicu Gempa sebelumnya. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, menjelaskan, gempa di Kabupaten Donggala yang bermagnitudo 7,4 pukul 17.02 WIB, bukanlah gempa susulan dari gempa sebelumnya, yakni yang terjadi pukul 14.00 WIB dengan Magnitudo 6.

Keduanya punya pusat gempa yang berbeda. Namun demikian, gempa M 7,4 itu bisa jadi dipicu oleh gempa M 6 sebelumnya.

“Tapi gempa magnitudo 6 itu, bisa memicu terjadinya gempa 7,4, karena pusat gempanya berdekatan. Tapi masih perlu kami kaji lagi,” kata Dwikorita dalam jumpa pers di kantor BMKG Yogyakarta, Jumat (28/9/2018).

Ketiga, mengakibatkan Tsunami di Palu. Usai gempa M 7,4 di Donggala, tsunami terjadi dan menerjang Kota Palu, Ibu Kota Sulawesi Tengah. Ketinggian air sekitar 3 meter.

“Tinggi tsunami sekitar 3 meter,” kata Kepala BNPB Sutopo Purwo Nugroho, lewat akun Twiternya, Jumat (28/9/2018).

Tsunami diperkirakan terjadi mulai pukul 17.22 WIB dan berakhir pukul 17.36 WIB. Rumah-rumah di Palu hancur diterjang tsunami itu. Dampak tsunami belum bisa didata.

Keempat, mengakibatkan Tsunami di Donggala. Tsunami akibat gempa tak hanya terjadi di Palu. Tsunami juga menerjang wilayah Donggala, Sulawesi Tengah.

“Tsunami telah menerjang Pantai Talise di Kota Palu dan pantai di Donggala,” kata Sutopo Purwo Nugroho, Jumat (28/9/2018).

Kelima, terasa sampai Pulau Kalimantan. Berdasarkan penjelasan BMKG, guncangan gempa bumi dirasakan di Palu dan Mapaga pada III SIG (Skala Intensitas Gempa) BMKG, Donggala III SIG BMKG, Gorontalo dan Poso II SIG BMKG, Majene dan Soroako II SIG BMKG, Kendari, Kolaka, Konawe Utara, Bone, dan Sengkang II SIG BMKG, Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara II SIG BMKG, Makassar, Gowa, dan Toraja I SIG BMKG.

Skala Intensitas Gempa (SIG) BMKG merentang dari I sampai V, semakin I paling lemah dan V paling berat menimbulkan kerusakan.-


Kategori Nasional

Tags: ,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.