Pejuang Legendaris Dagestan Imam Shamil “Jika Napoleon adalah percikan perang, maka Imam Syamil adalah tiang apinya” ( bagian 2 habis)

EDITOR : PM

Sebagai penganut Islam yang taat, masyarakat Dagestan terlahir sebagai petarung sejati. Dengan latar belakang sejarah dan kondisi alamnya yang sangat ekstrim.

Sejarah masyarakat pergunungan Kaukasus ini terjepit kekuatan besar dunia sebelah utara Rusia, sebelah barat Romawi dan selatan Turki masa otoman serta sebelah timur Parsia dan Monggol. Silih berganti kekuatan besar masa lampau ini mencamplok daerah ini.

Rusia dari zaman Tsar, era Uni Soviet hingga Rusia sekarang ini, Dagestan dijajah bangsa ini. Walau ada upaya untuk memisahkan diri selalu di patahkan Rusia. Tidak ingin Dagestan merdeka. Tetapi tetap masuk daerah Federasi Rusia.

Zaman Tzar Rusia berkuasa muncul pejuang tangguh yang sangat legendaris Imam Syamil lahir di Gimry Daghetsan, 26 Juni 1797. Dia meninggal di Madinah pada 4 Februari 1871, pada umur 73 tahun. Ia  adalah seorang ulama dan Imam dari wilayah Kaukasus dan tokoh tarekat Naqsyabandiyah.

Dia menjadi legenda karena keberanian dan kepemimpinanya ketika melawan pendudukan Rusia di Kaukasus. Karena jasanya, hingga kini di kenang rakyat Daghestan sebagai pahlawan nasional.

Imam Shamil Lebih Legendaris dan Hebat  Dari Napoleon

Sehingga seorang sejarawan Turki terkenal Albay Yashar Inoglu samai begini menulis tentang soal sosok Imam Syamil. “Dalam sejarah umat manusia tidak ada komandan seperti Syamil. Jika Napoleon adalah percikan perang, maka Imam Syamil adalah tiang api,” tulisnya.

Baca juga : Dagestan Negeri Muslim Lahirnya Petarung MMA Tidak Terkalahkan ( Bagian..1) 

Di saat terjadi perang Gimrah, ia harus rela menyaksikan sahabat karibnya, Ghazi Muhammad  dan beserta dengan mujahid lainnya syahid. Selang beberapa tahun, tepatnya 19 September 1843, pemimpin kedua Dagestan Imam Hamzah Bik gugur ketika memasuki Masjid Khunzakh. Setelah itu, Imam Syamil dibaiat menjadi pemimpin perjuangan pada usia 39 tahun.

Setelah diangkat menjadi leader, Imam Syamil berhasil membuat pasukan yang ia pimpin menjadi momok menakutkan bagi tentara-tentara Rusia. Ia juga berhasil mempersatukan etnis-etnis Muslim di Kaukasus untuk berjuang dan berjihad bersama dijalan Allah. Ia menerapkan syariat Islam secara menyeluruh di daerah yang dipimpinnya, Dagestan dan Chechnya. Imam Syamil banyak menggelontorkan dana untuk kegiatan sosial dan pendidikan.

Pada Agustus tahun 1839 terjadi pertempuran yang terkenal dengan nama The Siege Of Akhulgo. Akhulgo adalah sebuah tempat di Dagestan yang terletak di selatan Gimri, tempat syahidnya Ghazi Muhammad. Perang ini merupakan lanjutan dari tahun sebelumnya pada tahun 1837. Saat itu, tentara-tentara Rusia dibawah komando Jenderal Faesy menyerang dan menghancurkan daerah yang bernama Ashilta.

Pertempuran ini melibatkan 1000 mujahid yang dipimpin Imam Syamil melawan 13,500 tentara komunis dibawah pimpinan Pavel Grabbe. Pertempuran ini menyebabkan kerugian yang tidak sedikit. Ada sekitar 900 orang Kaum Muslimin yang ditawan oleh pihak Rusia yang terdiri wanita, anak-anak, dan orang tua. Sedangkan di pihak Rusia, ada 512 orang tewas dan 1722 orang menderita luka berat.

Dalam pertempuran ini, Imam Syamil kehilangan istri keduanya, Djavarat dan saudara perempuannya, Fatimah. Namun, Syamil juga mendapatkan berita gembira yaitu kelahiran putra dari istri pertamanya yang bernama Khazi Muhammad. Peperangan ini benar-benar menjadi pukulan berat bagi Imam Syamil. Pasalnya ia harus angkat kaki dari daerah itu dan harus kehilangan keluarganya.

Imam Syamil tidak tinggal diam, dalam tempo waktu 6 bulan setelah kekalahan di Akhulgo, ia berhasil kembali menyusun strategi  dan menghimpun suku-suku di Kaukasus guna menggempur pasukan Rusia. Teror demi teror terus dilancarkan oleh Rusia, hingga beberapa kali sempat mengancam nyawanya. Qadarullah ia masih selamat.

Kepiawaian Shamil Dalam Perang Dargo, Kalahkan 18 Ribu Pasukan Rusia

Pada tahun 1845, terjadi pertempuran yang begitu besar di wilayah Dargo, Chechnya. Pada saat itu, Rusia memomibilasi 18.000 pasukan dibawah komando Mikail Voronstov. Sedangkan pasukan Mujahidin Kaukasus berjumlah 6000 saja. Syamil menyadari bahwa akan begitu sulit menghadapi pasukan yang jumlahnya besar dengan persenjataan yang lengkap pula.

Imam Syamil yang dibantu oleh Isa Gendergonevsky menggunakan siasat yang jitu untuk mengalahkan Rusia. Syamil memanfaatkan wilayah Dargo yang notabene masih berupa hutan lebat. Ia memancing pasukan Rusia untuk masuk ke tengah-tengah hutan agar lebih mudah dikalahkan. Ia juga membakar persediaan makanan yang ada disekitar Dargo. Ketika sejumlah tentara dalam jumlah besar memasuki hutan, maka kuantitas pasukan itu justru menjadi titik kelemahan.

Pasukan Rusia diserang dari berbagai arah sehingga mereka hanya bisa terdiam dan terus terpojok. Pasukan Rusia berusaha melawan, tapi apa daya tanpa bisa berpindah tempat akhirnya mereka tumbang juga. Hasilnya Rusia mengalami kekalahan telak, setidaknya mereka harus kehilangan 3 jenderal, 195 perwira dan 3433 tentara tewas.

Pada 25 Agustus 1859, Imam Syamil beserta keluarga dan pasukannya yang berjumlah 50 orang terjepit di daerah Gunib, Daghestan. Secara mental, Imam Syamil siap bertempur habis-habisan, tetapi karena saat itu ia bersama dengan anak dan istrinya, ia lebih memilih menyerah. Pada tahun 1864, Syamil beserta keluarganya dibawa ke St Petersbug untuk menghadap Tsar Alexander II. Setelah itu, ia dibawa menuju daerah bernama Kaluga yang terletak di barat daya Moskow. Rusia berhasil merebut Kaukasus, dikarenakan kekosongan pemimpin disana.

Meninggal Dunia di Medinah

Setelah mengalami masa tahanan, pada tahun 1866 Imam Syamil dibebaskan. Ia dipindahkan ke kota Kiev, selama disana ia tetap mendapat penjagaan ekstra ketat, tak seorang pun boleh menemuinya. Pada tahun 1869, Syamil diizinkan untuk berangkat ke Tanah Suci Makkah. Ia berangkat dari Kiev menuju Odessa, kemudian berlayar menuju Istanbul dan bertemu Sultan Abdul Aziz. Disana ia diterima sebagai tamu kehormatan. Setelah dari Turki, ia melanjutkan perjalanannya menuju Makkah untuk berhaji.

Qadarullah, Imam Syamil wafat setelah menunaikan ibadah haji pada tahun 1871, tepatnya tanggal 10  Dzulqaidah 1287 H. Banyak orang yang datang untuk menshalati jenazahnya. Jenazahnya dimakamkan di Baqi, Madinah Al-Munawwarah. ( Habis..Dirangkum berbagai sumber)

Kategori Agama

Tags: ,,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.