Rabu, 22 November 2017 | 23:23

Pekan Olahraga untuk Menyegarkan Wartawan Profesional

Asnelly Ridha Daulay
Asnelly Ridha Daulay

MALAM semakin larut. Di bawah lampu jalan yang redup, kios-kios pedagang kaki lima meringkuk berselimutkan mantel plastik. Sekali-sekali masih terdengar suara kendaraan dan angkot melintas, lalu berganti dengan keheningan. Di seberangnya, di pelataran sebuah hotel bintang tiga, duduk sekelompok laki-laki berkaos olahraga dan celana training. Tulisan di kaos menunjukkan asal daerah mereka. Suara tawa sekali-sekali pecah. Di lantai bekas puntung rokok dan gelas kertas berisi ampas kopi berserakan.

Sebuah baliho besar terpampang di gerbang hotel. Selamat Datang Kontingen PORWANAS XII di Kota Bandung. Jauh sejak siang hari, hotel yang tenang dan rapih tersebut sontak gegak. Mereka mendapat bagian melayani rombongan wartawan yang akan berlaga di PORWANAS dari tanggal 25-30 Juli 2016. Tidak kurang ada empat kontingen yang ditampung di sini, jumlahnya mendekati 250 orang. Office boy menyeret karung plastik dan mengumpul kotak-kotak kue, gelas mineral dan kertas yang bertebaran di setiap sudut lobi hotel.

Pemandangan pada hari pertama rombongan PORWANAS sampai di Kota Bandung mungkin cukup mengagetkan orang lain yang tidak tahu bagaimana keseharian wartawan. Ngerokok, ngopi dan tidur larut, adalah tiga aktivitas yang amat melekat pada wartawan, tak terkecuali ketika mereka diutus menjadi atlet dalam ajang olahraga wartawan tiga tahunan ini.

“Saya agak kaget, kok atlet merokok? Tidurnya juga larut,” ucap Widi Septino sambil tertawa. Laki-laki 30-an ini adalah Liaison Officer (FO) yang diberi tugas memfasilitasi kontingen PWI Provinsi Jambi. Sebagai seorang sarjana olahraga lulusan UPI Bandung, dia amat tahu bahwa kebiasaan merokok dan tidur larut pantang dilakukan seorang atlit.

“Seharusnya lebih banyak minum air putih kan Mbak? Mungkin karena wartawan itu ya,” ucapnya mencoba mencari jawaban atas keheranannya.

Kecendrungan wartawan untuk “memberontak” aturan, mungkin tak disadarinya cukup menyulitkan pihak lain. Menejer Zest Hotel misalnya, pada malam kedua kontingen PORWANAS menginap, terpaksa memanggil semua menejer kontingen dan kembali mengingatkan tentang aturan untuk tidak merokok di sembarang tempat. Meski banyak tertulis peringatan tentang denda Rp.500 ribu bagi tamu yang merokok di sembarang tempat, aturan tersebut cenderung ditabrak.

”Kita malu harus diingatkan begitu,” ucap Nono Wahyu Nugroho, salah seorang ketua kontingen asal Sumatra yang terpaksa kembali nyinyir kepada anggotanya perihal larangan itu dan dendanya.

Cukup sulit menemukan profil olahragawan ideal di kalangan atlet PORWANAS.  Ajang ini sendiri sejatinya memiliki tiga tujuan;  mengisi panji-panji olahraga, menciptakan keakraban profesi diantara sesama wartawan serta memantapkan pemahaman tentang arti dan makna olahraga. Namun agaknya untuk mendapatkan prestasi atau catatan baik, yang bisa disandingkan dengan catatan Pekan Olahraga Nasional (PON), agak mustahil. Sebagai contoh, biliar yang merupakan salah satu olahraga favorit di kalangan wartawan, hanya ada satu atau dua atlet keluaran PORWANAS yang bisa unjuk gigi. Salah satunya Jefri, atlet andalan biliar dari kontingen Riau.

Pelatih biliar kontingen PORWANAS Jawa Timur, Tonny Ho (57 tahun) punya jawaban untuk ini.

“Jadi atlet itu tidak cukup modal suka saja. Waktu latihan harus banyak, minimal 6 sampai 8 jam sehari. Apa wartawan bisa? Kapan lagi mereka mengerjakan tugas jurnalistiknya?” jelasnya.

Selain itu, atlet biliar dari kalangan wartawan bertarung tanpa dilandasi teori yang memadai.” Mereka atlet otodidak,” jelasnya lagi.

Harapan ajang PORWANAS dapat menghasilkan atlet skala nasional, mungkin sulit sekali terwujud. Selain atletnya tidak lagi segar alias sudah berumur, gaya hidup tidak sehat yang akrab dengan wartawan ikut mempengaruhi. Berdasar itu, semakin kuat keinginan di kalangan wartawan untuk menjadikan pertemuan ini sebagai sarana membangun solidaritas wartawan dalam bingkai negara kesatuan Republik Indonesia. Namun, ini pun rawan dicederai karena solidaritas terbangun harus berdasar kejujuran. Ungkapan tentang atlet cabut atau atlet yang dipelihara, masih bergaung meski tidak sekencang dulu.

Hal ini nampaknya disadari oleh pengurus PWI Pusat yang telah menerapkan aturan komposisi atlet yang 80 persennya harus pemegang kartu Uji Kompetisi Wartawan (UKW).

“Ini untuk menghindari dipakainya  atlet cabut,” jelas Ketua PWI Pusat Margiono dalam berbagai kesempatan. Namun, peluang bermain curang itu tetap ada karena 20 persen peserta PORWANAS dibolehkan dari kalangan wartawan pemegang kartu biru.

Pada pembukaan PORWANAS di stadion UPI Bandung, Selasa (26/7), Margino menegaskan ke depannya seluruh atlet yang bertanding di PORWANAS harus memegang kartu UKW. Nampaknya inilah jawaban tuntas untuk menutup peluang curang tersebut. Atlet yang tidak bekerja di bidang jurnalistik mustahil lolos uji kompetensi wartawan.

Terdapat terobosan baru pada PORWANAS kali ini yang membuka harapan ajang ini bisa bertahan lebih lama, yakni dengan diselenggarakannya lomba jurnalistik berbentuk lomba karya tulis, foto jurnalistik dan reportase radio. Khusus lomba karya tulis yang sifatnya dikerjakan di tempat, merupakan uji nyali bagi wartawan untuk mengukur kemampuannya menulis dengan cepat berdasarkan informasi yang dikumpul sehari sebelumnya.

Disadari, gebyar PORWANAS makin berkurang. Memang masih disambut girang di daerah-daerah yang atletnya memperoleh dukungan dana APBD. Namun di sebagian wilayah lainnya, mereka harus bersikap realistis, terpaksa mengirimkan atlit atau kontingen dalam jumlah terbatas karena kesulitan mengumpulkan dana.

PORWANAS Membentuk Karakter Jujur

Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan pada acara jamuan makan malam di Gedung Sate pada Senin Malam, 25 Juli lalu mengungkapkan kekhawatirannya pada pemberitaan media massa. Sebelumnya sudah banyak tokoh dan pemimpin negara ini yang baik secara halus maupun terbuka mengungkapkan kekhawatirannya pada berita-berita yang ditulis, diantaranya yang diungkapkan Presiden Jokowi pada peringatan Hari Pers Nasional tahun 2016 lalu di Lombok.

Gubernur Aher, dengan kelakar namun serius mempertanyakan apakah paradigm bad news is good news bisa dirubah.

“Saya prihatin, di negara ini semua hal berusaha dibuat curang. Bahkan di acara seperti MTQ-pun upaya-upaya curang untuk dapat medali ada. Saya berharap wartawan tidak seperti itu. Bisa tidak good news is good news dan bad news is bad news?” tanyanya.

Meski pertanyaaan tersebut kurang jelas, dapat ditangkap harapan di balik itu. Para pejabat, tokoh-tokoh di negara ini telah lelah mendengar berita buruk yang dipublikasikan media massa. Apakah itu karena kualitas bangsa itu yang buruk atau wartawan luput dari berita berisi kabar baik atau mengabaikannya sebab dianggap tidak layak jual atau tidak digemari pembaca?

Menulis berdasarkan fakta utuh, bukan separuh-paruh, merupakan harapan yang makin menguat di masyarakat saat ini. “Berita-berita buruk itu, apalagi yang sumbernya tidak jelas nyatanya tidak bisa memperbaiki bangsa ini. Bahkan membuat kita semakin pesimis,” ucap Presiden Jokowi pada pidato HPN-nya di Lombok.

PORWANAS dapat menjadi ajang untuk membangun karakter wartawan karena olahraga pada hakekatnya bertujuan membangun manusia yang sehat fisiknya, sportif dan jujur. Sikap jujur dan sportif akan membuat wartawan juga bekerja dengan jujur, menulis sesuai fakta dan mengenyampingkan kepentingan pribadi. Apalah jadinya jika wartawan yang dicitrakan suka mengkritik, membangkang, ngotot ternyata sama saja dengan yang dikritiknya? Bagaimana mungkin akan dihasilkan berita yang jujur dan seimbang dari seorang wartawan yang tidak menjunjung kejujuran dan sportivitas?

Diharapkan pada PORWANAS ini para wartawan bisa me-refresh dirinya menjadi lebih sportif, jujur dan sportif dalam menjalankan profesinya. (Asnelly Ridha Daulay/infojambi.com)

 




Kategori Opini

Tags: ,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.