Pemkab Tanjabtim Seriusi Pengembangan Kopi Liberika

Laporan Willy Bronson

Romi Hariyanto

INFOJAMBI.COM — Rencana pengembangan kopi liberika di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi segera diwujudkan. Hal ini ditandai dengan kunjungan kerja bersama Pemkab Tanjabtim – PetroChina ke sejumlah lokasi pengembangan kopi, di Jember dan Bondowoso, Jawa Timur.

Kunjungan kerja bersama ini dipimpin langsung oleh Bupati Tanjabtim, H Romi Hariyanto dan Communication Manager PetroChina, Ginanjar. Sejumlah kepala OPD Pemkab Tanjabtim pun turut dalam rombongan.

PetroChina nanti support dan terlibat aktif mendukung program pengembangan kopi liberika di Tanjabtim.

Kunker dua hari ini dimulai dengan mendatangi Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Indonesia, di Jember, Senin (23/7/2018). Di sini, Romi dan Ginanjar bersama tim diberi penjelasan lengkap tentang pemgembangan kopi dan kakao.

Sekitar tujuh jam berada di Puslitkoka, Romi dan tim diberikan banyak paparan tentang seluk beluk kopi di Indonesia. Tim keliling di areal Puslitkoka, melihat langsung tahapan menghasilkan kopi dan kakao kualitas tinggi, mulai pembenihan, penanaman, panen, rousting hingga penyajian kopi secara profesional oleh barista dan produksi turunan kakao yang beraneka rupa.

Puslitkoka sendiri merupakan pusat rujukan bagi petani, pebisnis maupun penikmat kopi di Indonesia, bahkan mancanegara. Tak heran, dengan luasan areal sekitar 160 hektar, Puslitkoka dilengkapi berbagai fasilitas penelitian dan percobaan yang mumpuni.

Selain itu juga dilengkapi dengan fasilitas produksi produk turunan kopi dan kakao. Bahkan di sini juga diproduksi mesin-mesin pendukung produktivitas kopi dan kakao.

Bupati Romi sengaja memimpin langsung kunjungan ini, karena ingin memastikan langkah yang harus segera ia tuangkan dalam kebijakan. Usai mengunjungi Puslitkoka, banyak hal fundamental harus segera dilakukan Romi bersama tim.

Rencana awal, tahun ini akan dilakukan pengembangan bibit di lima hektar areal KTM (kota terpadu mandiri) Geragai, harus diserentakkan dengan pelaksanaan demplot minimal 10 hektar.

“Harus diaplikasikan langsung, supaya petani di sana lebih mudah memahaminya,” kata DR Agung Wahyu Susilo, Kepala Puslitkoka, saat mendampingi rombongan Bupati Romi berkeliling areal kebun.

Puslitkoka sendiri sangat mendukung upaya Pemkab Tanjabtim mengembangkan kopi liberika. Agung bersama sejumlah tim ahli Puslitkoka langsung menyatakan bersedia memenuhi undangan Romi berkunjung ke Tanjabtim dalam waktu dekat.

Sebagaimana arahan teknis Puslitkoka, sebelum program pengembangan di-launching, hal mendasar mutlak harus dilakukan adalah base land study. Langkah ini untuk identifikasi lahan yang potensial ditanami liberika. Soal penyediaan lahan untuk demplot dan areal pembibitan, Romi siap menyediakan minimal 20 hektar di lokasi KTM.

Romi tampak bersemangat mengikuti setiap tahapan kunjungan kerjanya. Selama di Puslitkoka, Romi menyempatkan diri mencermati setiap tahapan pengolahan kopi dan kakao. Berdiskusi dengan sejumlah petani asal Papua, yang kebetulan sedang magang di sana.

Romi bahkan ikut turun ke lembah kawasan Javaijenraung, di Bondowoso, Selasa (24/7/2018), demi melihat langsung perkebunan kopi yang menjadi kebanggaan warga Bondowoso. Perkebunan ini menumpang di areal PT Perhutani yang merupakan areal perkebunan mahoni.

Di sini tampak jelas perkebunan kopi yang sebetulnya cuma tumpangsari dari mahoni, tertata rapi dan dikelola secara profesional. Perkebunan dikelola oleh kelompok tani setempat.

Menurut Sekretaris Dinas Pertanian Bondowoso, Sudjoko, tahun lalu berhasil dibukukan panen sejumlah 800 ton atas areal tanam 70 ribu hektar. Hasil panen itu sebagian besar dipasok ke 45 home industri yang ada di Bondowoso.

“Hanya sekitar 20 persen yang diekspor. Untuk lahan, saat ini ada lebih 14 ribu hektar yang sudah ada IG (indikasi geografis),” kata Sudjoko.

Sementara itu, Hasan, Ketua Kelompok Tani Desa Sukorejo, mengatakan, tingkat kesejahteraan anggotanya meningkat pesat sejak berkebun kopi. Apalagi saat ini permintaan kopi di dalam dan luar negeri terus meningkat.

Rencana pengembangan kopi liberika di Kabupaten Tanjabtim diwacanakan Bupati Romi sejak April lalu. Liberika yang diketahui cocok di lahan gambut, menurut Romi layak dikembangkan di Tanjabtim yang memang sebagian besar tanahnya bergambut.

Upaya tersebut bukan tanpa alasan. Romi ingin warganya yang bergelut di bidang perkebunan punya pilihan komoditas, selain kelapa sawit untuk dikembangusahakan. Secara keekonomian, kopi liberika dianggap mampu menandingi kelapa sawit. Romi optimis pengembangan 150 hektar di tahap awal program nanti bisa sukses berjalan.

“Tadi Pak Ginanjar sudah menyatakan PetroChina pada prinsipnya sangat support. Ini sejalan dengan dukungan Pemprov Jambi yang juga mengalokasikan bantuannya bagi Tanjabtim. Keseriusan dukungan Petrochina itu membuat saya optimis,” ujar Romi.

Bagaimana dengan petani kopi yang saat ini sudah menjalankan aktivitasnya secara tradisional ? Di sejumlah desa, cukup banyak warga Tanjabtim menanam kopi dan kakao.

“Saya garansi mereka juga menjadi bagian sasaran visi besar ini. Bahkan saya sudah minta PetroChina melalui CSR-nya untuk dukungan teknologi sesuai standar Puslitkoka. Tentu agar produktivitas mereka semakin baik, pun petani kakao, kita optimis bisa sama-sama bergerak dan efektif,” Romi.

Konsumsi kopi Indonesia yang saat ini hingga 300 ribu ton per tahun, menurut Romi adalah peluang yang akan terus tumbuh. ***

Editor : IJ2

Kategori Ekonomi dan Bisnis,Tanjung Jabung Timur

Tags: ,,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.