Pencapaian Jambi dalam Ekspor Nasional


oleh : Usman Ermulan

UNTUK meningkatkan ekspor komoditi dan produk Industri dari daerah, seperti yang diharapkan oleh KEIN (Komite Ekonomi dan Indutri Nasional) suatu LEMBAGA yang resmi dibentuk oleh PRESIDEN RI dengan Peraturan Presiden Nomor 8 Tahun 2016, tentang Komite Ekonomi dan Industri Nasional, dengan harapan guna memberikan arah pembangunan di bidang Ekonomi dan Industri di Indonesia. Jika suatu daerah akan mengembangkan produk-produknya, tidak lagi hanya semata-mata bahan mentah maupun bahan setengah jadi, tapi minimal sudah menjadi bahan jadi agar dapat mengarahkan produksi dalam bentuk produk siap pakai.

Dikarenakan selama ini bahan-bahan baku industri dari produksi pertanian maupun bahan baku lainnya yang masih melimpah di beberapa daerah, masih berupa bahan mentah. Hingga daerah juga sudah seharusnya mendukung pengusaha dengan cara mempermudah dan menyiapkan sarana dan fasilitas seperti Infrastruktur, mempermudah proses perizinan agar industri barang dalam bentuk siap pakai dapat tercapai.

Contohnya, kita lihat produksi CPO di Provinsi Jambi yang sudah mencapai 1,5 juta ton setiap bulannya. Produksi CPO ini dikirimkan ke luar daerah Jambi untuk di olah kembali oleh daerah lain. Maka timbullah pertanyaan, apa yang dapat diperoleh daerah Jambi jika menghasilkan bahan mentah terus menerus seperti CPO ini?


Sedangkan CPO tersebut dapat diolah menjadi berbagai bahan jadi yang nilainya lebih tinggi, seperti minyak sayur. Dan produk yang keluar dari Jambi sudah dalam bentuk produk siap pakai baik untuk kebutuhan konsumsi masyarakat di daerah ini maupun untuk kebutuhan di daerah lainnya. Bahkan untuk kedepannya dapat di ekspor. Maka, dengan ini berdampak pada peningkatan tenaga kerja yang akan diserap dan pendapatan daerah sendiri serta dapat juga meningkatkan income negara guna mendorong surplusnya neraca perdagangan nasional.

Akan tetapi kenyataannya dari sekian puluh Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Provinis Jambi hanya satu pabrik yang baru mengolah produk CPO nya menjadi produk dalam bentuk minyak sayur kemasan dan telah di pasarkan ke daerah Batam dan provinsi tetangga bahkan sampai ke Pulau Jawa. Namun, tidaklah seimbang jika jumlah puluhan PKS tersebut hanya terdapat satu PKS yang menghasilkan produknya dalam bentuk siap pakai.

Seharusnya Pemda mendorong PKS lainnya untuk memproduksi produk-produk dalam bentuk siap pakai. Pemda harus memberikan dorongan dan aturan sehingga produk yang keluar tidak dalam bentuk CPO lagi. Sebab untuk produksi TBS saja, petani sudah sangat berjuang sehingga bisa menghasilkan 1,5 juta ton CPO yang di kelola oleh seluruh PKS di daerah Jambi.

Pertanyaannya lagi apakah kita di daerah Jambi cukup puas dengan hanya menjadi petani-petani kelapa sawit saja di Kebun? Hal ini perlu mendapat perhatian Pemda, khususnya terhadap nasib anak-anak petani tadi. Apakah mereka tidak perlu diberikan kesempatan juga selain menjadi petani di kemudian hari? Apakah mereka tidak dapat memperoleh kesempatan untuk berpenghasilan dan ikut serta dalam pengemasan produk dan lainnya yang berasal dari sawit tersebut? Dan banyak lagi hal lain yang dapat menyerap tenaga kerja nantinya.

Jika hal ini tidak segera dicarikan solusinya oleh Pemda, maka angka pengangguran semakin hari akan terus membengkak. Dari luas areal perkebunan sawit baik milik swasta maupun petani sudah cukup luas, sehingga bisa menghasilkan satu setengah juta ton CPO setiap bulannya. Tapi apakah kita semua sudah puas dengan hal itu?

Dari tahun ke tahun, Pemda sebaiknya jangan terlena dengan produksi PKS selama ini yang hanya memproduksi bahan setengah jadi seperti CPO. Hal ini menyebabkan daerah juga terlena dengan hasil dari bahan setengah jadi tersebut. Padahal masih banyak yang dapat diambil keuntungan oleh Pemda. Sudah saatnya kita semua berpikir ke arah untuk meningkatkan income daerah dan mengurangi tingkat pengangguran yang semakin hari terus bertambah.

Perlu Pengawasan Pemerintah

Salah satu modal kita yang ada sekarang ini adalah 1,5 ton CPO dari daerah Jambi, yang setiap hari terus mengalir keluar daerah bagaikan air sungai Batang Hari yang terus mengalir ke Muara Sungai dan dimanfaatkan oleh daerah lain. Daerah-daerah lain tersebut sangat pandai memanfaatkan bahan baku yang kita biarkan mengalir seperti air sungai Batang Hari. Indikasinya adalah kita seolah-olah tidak berdaya dan tidak mampu untuk memanfaatkannya guna kepentingan masyarakat dan Pemda di daerah ini sendiri.

Maka, disinilah seharusnya Pemda dan DPRD membuat aturan-aturan yang dapat menciptakan nilai tambah sehingga apa yang lebih bermanfaat dan bernilai, dapat meningkatkan pendapatan Pemda dan pendapatan masyarakat di Provinsi Jambi serta tingkat pengangguran jelas akan berkurang. Hal ini juga dapat membantu surplus neraca perdagangan nasional.

Pengawasan dari pemerintah terhadap penggunaan bahan-bahan kimia (pupuk) yang digunakan petani maupun kebun-kebun swasta untuk meningkatkan produksi TBS-nya juga perlu diperhatikan. Jika tidak tingkat kesuburan tanah akan semakin berkurang atas dampak bahan-bahan kimia yang terus di masukkan ke Bumi Sepucuk Jambi sembilan Lurah ini.

Pemerintah perlu memberikan pengawasan untuk tidak mengunakan bahan-bahan tidak ramah lingkungan, sehingga daerah Jambi yang terkenal akan kesuburannya tidak akan menjadi kering kerontang. Seperti yang pernah dikatakan oleh salah satu Dosen Fakultas Pertanian di Institut Pertanian Bogor, Bungaran Saragih sebelum beliau menjabat Menteri Pertanian RI sekitar tahun 1998.

Di depan Komisi IX DPR-RI pada saat itu, yang membidangi ekonomi dan keuangan, ia mengatakan bahwa suatu saat nanti Indonesia akan menjadi gersang dan kering kerontang seperti Ethiopia, jika kita tidak berhati -hati dalam pengelolaannya. Saat ini Air masih banyak bahkan dalam kota terjadi kebanjiran di mana-mana. Sungai Batang Hari yang dulu merupakan pentas kehidupan masyarakat Jambi, kini kondisinya tak menentu, dilihat dari kualitas air-nya yang keruh. Namun air tersebut masih digunakan sehari-hari oleh masyarakat yang hidup di sepanjang sungai Batang Hari. Maka perlu perhatian khusus terhadap pengelolaan lingkungan dan hasil alam daerah Jambi sendiri. (infojambi.com)

 

Kategori Opini

Tags: ,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.