Pengembangan Sumberdaya Genetik Khas Jambi; Bukan Sekedar Tuntutan Konservasi

PENULIS : DR. ASNELLY RIDHA DAULAY
Kabid Ekbang Badan Litbang Daerah Provinsi Jambi

AGAKNYA banyak diantara orang Jambi belum mengenal jeruk Pamelo Astano. Jeruk big size ini merupakan tanaman sumberdaya genetik asli Muaro Jambi yang telah diluncurkan sebagai varietas unggul nasional. Namun paska peluncurannya, kiprah budidaya jeruk ini tidak terdengar sehingga kini diklaim terancam punah. Padahal jeruk yang berberat mencapai 10 kilogram per buah ini sangat potensial dikembangkan karena rasanya yang manis dan tentu saja bentuk luarnya yang unik. Terdapat beberapa varietas lokal Jambi yang bernasib sama, contohnya jeruk keprok pulau tengah (Kerinci), cempedak sebapo (Muaro Jambi) dan pisang bernas (Kota Jambi).
Terminologi sumberdaya genetik telah banyak didengar meski hanya segelintir yang paham maksudnya. Menurut International Treaty on Plant Genetic Resources for Food and Agriculture, sumber daya genetik (SDG) atau plant genetic resources adalah semua unsur keragaman materi genetik dalam tanaman yang dibudidayakan berupa varietas lokal, modern, tipe liar dan kerabat liar pada setiap spesies tanaman yang dimanfaatkan pada masa lalu, sekarang dan akan datang untuk kegiatan pertanian. Provinsi Jambi termasuk daerah yang kaya tanaman lokal dengan keunggulan genetik yang luar biasa. Hal ini didukung oleh kondisi geografis daerah ini yang memiliki empat taman nasional yaitu Taman nasional Kerinci Seblat (TNKS), Taman Nasional Bukit 30, Taman Nasional Bukit 12 dan Taman Nasional Berbak serta 7 cagar alam.
Sebagian SDG lokal Jambi berasal dari hutan. Sumberdaya genetik tersebut akan aman tersimpan di sana seandainya hutan tidak terancam penjarahan serta tuntutan yang makin tinggi untuk menyuplai kebutuhan manusia. Dilatari ancaman yang sulit dikendalikan tersebut, pelestarian SDG di tengah masyarakat harus digalakkan dan mendapat perhatian yang besar.
Sebagian anggota masyarakat kita menginisiasi budidaya tanaman lokal yang memiliki keunggulan berdasarkan penilaian mereka sendiri. Terpantau di lapangan, tanaman yang ditangkar dan diperbanyak secara mandiri oleh masyarakat seperti bulian, gaharu, berjenis-jenis pisang (pisang telor, pisang merah, pisang kumpay), bawang adro, dan padi gogo Marinai. Namun penjualan dan sebaran benih tanaman tersebut sangat terbatas, bahkan sebagian ditanam hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga saja.
Peluncuran beberapa varietas lokal menjadi varietas unggul nasional melalui keputusan menteri pertanian hanyalah langkah awal untuk melestarikan dan mendongkrak nilai ekonomi suatu varietas tanaman. Sayangnya upaya tersebut berhenti di situ saja. Tanpa dukungan yang kuat dari pengambil kebijakan di daerah, sumberdaya lokal yang telah diakui keunggulannya dan diluncurkan secara resmi akan berakhir atau tertera di dokumen surat keputusan saja.
Rendahnya daya pikat mengembangkan SDG lokal khususnya yang telah diluncurkan Kementrian Pertanian cukup mengkhawatirkan. Mungkin karena Indonesia memiliki banyak varietas lainnya sehingga kehilangan satu, dua ataupun lusinan varietas unggul kontribusi dari Provinsi Jambi dianggap belum merupakan kehilangan besar. Namun masalahnya tidak sepicik itu. Pengembangan SDG khas Jambi sebenarnya merupakan kebutuhan petani karena kecocokan iklim, lahan dan faktor lingkungan lainnya untuk pertumbuhan ideal serta menekan resiko gagal/kekurangberhasilan tanam. Sehingga wajar dikatakan jika pengembangan SDG lokal bukan sekedar tuntutan konservasi tapi mengandung nilai ekonomi serta kebanggaan bagi daerah bersangkutan.
Hal ini tergambar dari ungkapan salah seorang petani padi di Desa Kunangan Kabupaten Muaro Jambi, Uun Suheli. Darinya diperoleh informasi bahwa petani di desanya sebenarnya loyal menanam varietas lokal padi gogo Marinai. Seluas 120 ha sawah di desa tersebut,70 ha diantaranya ditanami Marinai. Sisanya memilih menanam padi varietas unggul nasional dengan alasan mereka tidak akan mendapat subsidi pemerintah jika menanam benih padi Marinai yang memang belum diluncurkan secara nasional dan belum berlabel. Meskipun subsidi tersebut nilainya tidak terlalu besar, berkisar Rp400.000 per ha sawah yang ditanam, namun petani kecil masih berharap menerimanya.
Secara genetik, petani lebih menyukai padi gogo asli daerah mereka karena rasanya yang enak dan ancaman hama yang lebih rendah. Namun jika mereka menanam padi tersebut, mereka tidak dapat mengklaim subsidi benih dan pupuk kepada pemerintah. Hal ini terkesan sangat diskriminatif dimana petani Jambi dipaksa menanam varietas yang berasal dari luar daerah yang kondisi geografisnya belum tentu sesuai. Pemerintah pusat seakan mengabaikan ‘selera tanam’ petani lokal meskipun demi alasan kepentingan nasional yakni menjaga produksi nasional dalam rangka ketahanan pangan nasional.
Saat ini kondisi pertanian pangan lebih baik dimana Kementrian Pertanian mengklaim produksi padi nasional meningkat dan ketergantungan pada beras impor berhasil ditekan. Ini  waktunya untuk mengintroduksi padi gogo lokal Jambi dan mempermudah petani menggunakannya sebagai benih tanam di sawah-sawah mereka.
Kemudahan dan insentif juga harus didukung Pemerintah Kabupaten/Kota yang memiliki SDG lokal tersebut. Banyak penangkar yang berbekal kecintaan terhadap tanaman varietas lokal memerlukan binaan dan publikasi agar menjadi terkenal dan produk benihnya dicari. Seandainya terdapat kegiatan pengadaan untuk lingkup daerah, apa salahnya dipesan kepada penangkar tersebut sehingga mereka memperoleh manfaat ekonomi dan SDG lokal itupun tersebar dengan cepat. Adalah suatu kemirisan ketika beberapa waktu lalu digencarkan program budidaya duku namun benih yang dibagikan ke masyarakat merupakan benih duku unggul dari Palembang (Sumsel). Lalu dimana keberpihakan terhadap SDG lokal duku kumpeh yang terkenal tersebut? Demikian juga ketika terdapat program Dinas Kehutanan Provinsi Jambi membagikan benih durian, benih yang disebarkan ternyata didrop dari Jawa sedangkan Jambi sejatinya memiliki durian yang tak kalah lezat dan dicintai masyarakatnya.
Langkah promosi lainnya adalah menggratiskan benih-benih SDG lokal seperti yang dilakukan Pemeritah Kota Jambi kala membagikan benih jambu  air Mayang Mangurai kepada masyarakat. Kegiatan tersebut akan mendapat apresiasi yang tinggi menimbang minat masyarakat perkotaan untuk bercocok tanam (urban farming) yang kian menggeliat. Beragam cara tersebut akan menempatkan pelestarian dan peningkatan nilai ekonomi SDG lokal di pusaran memori masyarakat. ***

Kategori Opini

Tags:

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.