Pentingnya Youth Participation dalam Pembangunan Daerah

Oleh: Zuhri Triansyah

Digulirkannya otonomi daerah pasca reformasi telah membawa sistem pemerintahan dari yang bersifat sentralistik menuju desentralistik, sekaligus diimbangi dengan memberikan kewenangan serta tantangan bagi berbagai daerah untuk mengatur sendiri kepentingan masyarakat bahkan dalam membentuk serangkaian regulasi yang berorientasi pada pengembangan serta kemajuan daerah dalam upaya mempercepat tercapainya kesejahteraan masyarakatnya.

Dalam konteks pembangunan daerah yang lahir dari konsep demokrasi dan otonomi daerah yang diproyeksikan untuk kemajuan daerah kedepannya, maka youth participation atau partisipasi anak muda adalah sebuah keniscayaan. Lebih dari itu, partisipasi merupakan hak yang bersifat fundamental dalam konteks negara hukum dan demokrasi kontemporer. Secara konseptual, memang tidak ada kesepakatan universal mengenai definisi antara remaja dan anak muda atau youth itu sendiri.

Namun, jika mengacu pada perspektif United Nations, definisi youth merupakan penduduk yang berada pada rentang usia 15 – 24 tahun, kategori remaja (adolescents) merupakan penduduk yang berusia pada rentang usia 10-19 tahun, kemudian kombinasi dari remaja dan anak muda atau yang dikatakan sebagai anak muda (young people) ialah individu yang berusia 10-24 tahun. Di Indonesia sendiri, mengacu pada UU Nomor 40/2009 mendefinisikan anak muda sebagai individu yang berusia 16 hingga 30 tahun.

Lebih dari itu, data sensus penduduk yang diterbitkan oleh BPS tahun 2020 di Provinsi Jambi dengan jumlah total 3,55 juta jiwa menunjukkan bahwa, Gen Z (–lahir tahun 1997 – 2002) merupakan peringkat pertama dengan populasi terbanyak dengan persentase 29,18%, disusul peringkat kedua oleh kaum milenial (–lahir tahun 1981-1996) dengan total 26,80%, kemudian peringkat ketiga yaitu Gen X (–lahir tahun 1965-1980) dengan persentase 21,43%, peringkat keempat yakni Post Gen Z (lahir tahun 2013 dst) dengan total 11,60%, peringkat kelima yakni Baby Boomer (lahir tahun 1946-1964) persentase 9,72%, kemudian yang terakhir yaitu Pre-Boomer (lahir sebelum tahun 1945) dengan total 1,27%. Berdasarkan data tersebut dapat dipahami bahwa penduduk di Provinsi Jambi saat ini didominasi oleh anak muda yang masuk dalam kategori Gen Z dan sebagian kaum Milenial.

Pentingnya peran pemuda tentunya membawa konsekuensi untuk menciptakan hubungan integral antara pemerintah dan anak muda dalam upaya memformulasikan suatu program atau kebijakan yang relevan dengan kebutuhan anak muda kedepannya. Mengacu pada pandangan Roger Hart dari The Children’s Environments Research Group dan Continuum of Youth Participation dikembangkan oleh Jack Nowicki. Setidaknya terdapat 8 (delapan) indikator tingkatan dalam mengakomodir Youth Participation yang diterbitkan oleh Texas Network of Youth Services yakni:

Decoration, dalam indikator ini anak muda diberdayakan untuk mendukung sebuah tujuan tertentu dengan cara yang relatif tidak langsung, meskipun orang dewasa dapat berpura-pura bahwa tujuan tersebut diilhami oleh kaum muda.;

Tokenism, kaum muda seperti diberikan pilihan, tetapi pada kenyataannya mereka hanya memiliki sedikit atau tidak sama sekali pilihan tentang apa yang mereka lakukan atau tentang bagaimana mereka berpartisipasi; Assigned but Informed, pada indikator ketiga ini anak muda diberikan peran khusus dan diinformasikan tentang bagaimana dan mengapa mereka perlu terlibat.

Dalam hal ini, termasuk juga keterlibatan anak muda yang bersifat temporer seperti Focus Group Discussion atau mengikuti survey; Informed Dialogue, indikator ini menjabarkan bahwa anak muda berperan dalam memberikan masukan yang berkelanjutan tentang proyek atau program yang dirancang dan dijalankan oleh orang-orang dewasa. Anak muda diberitahu tentang bagaimana masukan mereka akan digunakan terhadap hasil dari keputusan yang dibuat oleh orang dewasa. Dalam hal ini, anak muda juga terlibat dalam evaluasi program tersebut;
Adult-initiated, share decision-making, proyek atau program diprakarsai oleh orang dewasa namun pengambilan keputusan dibagi dengan anak muda.

Upaya ini dilakukan dengan menggunakan prosedur dan penyampaian yang mudah dipahami oleh anak muda tersebut; Youth-Initiated Partnerships, indikator ini menjabarkan bahwa anak muda dan orang dewasa bergabung bersama secara setara untuk menyelesaikan program, merencanakan kegiatan, mengoperasikan program, atau menyelesaikan sebuah tugas tertentu; Youth-Initiated Leaderships, anak muda memberikan pelayanan sebagai pemimpin dalam usia yang sebaya dalam kapasitas diberikan upah atau volunteer. Anak muda memimpin kegiatan dengan teman sebayanya atau dengan orang dewasa.

Dalam hal ini, orang dewasa hanya terlibat sebagai peran pendukung;
Organizing and Governing, pada tingkatan yang tertinggi dan terakhir ini anak muda memiliki peran sentral dalam struktural organisasi, mendorong keputusan yang terprogram atau strategis dari pemerintah daerah. Anak muda diberdayakan untuk menjadi bagian dari proses pengambilan keputusan bersama dan memiliki kesempatan bagi anak muda untuk belajar dari pengalaman hidup dan keahlian dari orang dewasa.

Namun, menurut Roger Hart, tiga tingkatan pertama ini belum dapat dikategorikan sebagai partisipasi, karena ketiga hal tersebut hanya mencerminkan nilai-nilai “adultism” terhadap anak muda, namun pada tingkatan keempat hingga kedelapan sudah masuk dalam kategori bentuk partisipasi.

Pentingnya tingkatan youth participation ini tentunya dapat dijadikan refleksi bagi anak muda untuk dapat berpartisipasi aktif dalam setiap kegiatan publik yang memiliki dampak positif, di sisi lain pemerintah daerah sekiranya dapat memberikan keleluasaan ruang bagi anak muda dalam berbagai sektor, sehingga diharapkan dapat menciptakan sebuah hubungan demokrasi yang ideal.

Dengan menggunakan delapan indikator ini, serta jika dikaitkan dengan konsep pembangunan daerah berbasis partisipasi anak muda dalam konsep demokrasi kontemporer, hal ini tentunya dapat mendorong partisipasi anak muda (young people) khususnya dalam berbagai program dan kebijakan sektor baik ekonomi, sosial, budaya, kesehatan, lingkungan hidup, serta industri kreatif sekaligus dalam upaya membangun Provinsi Jambi untuk kedepannya. (Penulis adalah akademisi Fakultas Syariah UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.)

Kategori Opini,Uncategorized

Tags: ,,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.