Perang AS vs Iran Habiskan 34 Triliun Rupiah Sehari

Eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran hingga Maret 2026 bukan sekadar manuver geopolitik

Reporter: DOD | Editor: Admin
Perang AS vs Iran Habiskan 34 Triliun Rupiah Sehari
Ilustrasi by Gemini

INFOJAMBI.COM - Eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran hingga Maret 2026 bukan sekadar manuver geopolitik, tapi telah menjelma menjadi beban fiskal raksasa dengan estimasi pengeluaran gabungan mencapai Rp25–34 triliun per hari. 

Angka tersebut mencerminkan mahalnya perang modern yang tidak hanya menguras amunisi dan logistik, tapi juga menggerus kapasitas anggaran negara secara signifikan.

Baca Juga: Pro Palestina, Israel Boikot Kedatangan Menlu Swedia

Berbicara di Jambi, Selasa, 3 Maret 2026, Pengamat ekonomi, Dr. Noviardi Ferzi, menilai perang saat ini pada hakikatnya adalah adu daya tahan fiskal.

Amerika Serikat diperkirakan mengeluarkan Rp13–22 triliun per hari, termasuk biaya operasional armada tempur dan kapal induk yang saja bisa mencapai sekitar Rp109 miliar per hari.

Baca Juga: AS Tuduh Rusia Campuri Pemilu, Pejabat Rusia Sindir AS Tentang Saddam Hussein

Serangan udara awal yang melibatkan jet tempur dan sistem persenjataan canggih dilaporkan bernilai sekitar 779 juta dolar AS atau setara Rp13 triliun, belum termasuk mobilisasi aset regional yang telah menembus Rp22 triliun bahkan sebelum hari kedua operasi.

Di sisi lain, Israel menghabiskan sekitar 725 juta dolar AS atau Rp11,8 triliun per hari. Sekitar 593 juta dolar dialokasikan untuk operasi ofensif, sementara sisanya untuk sistem pertahanan seperti intersepsi rudal.

Baca Juga: DPR : Kunjungan MUI Ke Israel Melanggar Kepatutan

Dalam hitungan sederhana, total gabungan pengeluaran harian kedua negara berada di kisaran Rp25–34 triliun, angka yang dalam sebulan penuh bisa melonjak hingga Rp750–1.000 triliun jika eskalasi berlanjut tanpa jeda.

“Perang modern bukan hanya soal dominasi militer, tetapi juga ketahanan anggaran. Ketika belanja militer melonjak tajam, defisit fiskal melebar dan tekanan utang meningkat. Dampaknya bisa merembet ke inflasi global, pasar energi, hingga stabilitas nilai tukar di negara berkembang,” ujarnya.

Ia menegaskan, total kumulatif belanja militer Amerika Serikat dalam operasi terkait sejak 2025 diperkirakan telah mencapai sekitar Rp569 triliun, sementara Israel sudah menghabiskan Rp81,6 triliun hanya dalam pekan pertama konflik. 

Angka ini belum termasuk bantuan militer tambahan Amerika Serikat kepada Israel yang nilainya mencapai 21 miliar dolar AS, serta kerugian ekonomi tidak langsung akibat terganggunya perdagangan dan naiknya premi risiko global.

Menurut Noviardi, dunia kini menghadapi risiko tekanan ekonomi lanjutan jika konflik meluas. 

“Setiap hari puluhan triliun rupiah terbakar di medan perang. Pasar global tidak pernah benar-benar kebal terhadap eskalasi seperti ini. Cepat atau lambat, dampaknya akan terasa pada harga energi, inflasi, dan pertumbuhan ekonomi dunia,” tegasnya.

Dalam hal ini ia mengingatkan negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, agar memperkuat bantalan fiskal dan menjaga stabilitas makroekonomi. 

Dalam situasi global yang rapuh, perang bernilai puluhan triliun rupiah per hari bukan hanya persoalan kawasan, melainkan ancaman nyata bagi keseimbangan ekonomi dunia. ***

BERITA KAMI ADA DI GOOGLE NEWS | Ikuti juga Channel WhatsApp INFOJAMBI.com

Berita Terkait

Berita Lainnya