Perkebunan Teh Kayu Aro , tidak Lepas dari Pengaruh Kolonialisme Belanda

PENULIS : NURPADILAH
PRODI : PENDIDIKAN SEJARAH
UNIVERSITAS JAMBI

INFOJAMBI.COM – Teh merupakan salah satu minuman yang paling populer di dunia. Percaya atau tidak, salah satu teh hitam dengan kualitas terbaik di dunia ternyata berasal dari Indonesia, lebih tepatnya dari Propinsi Jambi di kawasan Gunung Kerinci. Di sana terdapat Perkebunan Teh Kayu Aro. Kebun Teh Kayu Aro ini terletak di Sungai Penuh, Kerinci, Jambi. Kebun teh ini memiliki beberapa keistimewaan. Pertama,  ini adalah kebun teh tertua di Indonesia telah ada sejak masa penjajahan Belanda pada tahun 1925. Telah ada sejak zaman penjajahan Belanda, hasil teh dari kebun Kayu Aro ini menjadi salah satu yang terbaik di dunia, terutama di Indonesia.

Kebun teh ini menghasilkan Teh Ortodox atau nama lainnya teh hitam. Teh hitam ini sebenarnya berasal dari negara India. Dulu, para Ratu Belanda dan Inggris seperti Ratu Wilhelmina, Ratu Juliana, hingga Ratu Beatrix menjadikan Teh Ortodox ini sebagai sajian favorit dikarenakan memiliki cita rasa dan aroma yang lebih harum.

Perkebunan Teh Kayu Aro didirikan oleh Perusahaan Belanda bernama Namlodee Venotchaat Handle Verininging Amsterdam sejak 1925. Pada tahun 1959, melalui PP No. 19 Tahun 1959 perkebunan ini diambil alih Pemerintah Indonesia, pengawasan dan pengelolaannya dilakukan oleh PT. Perkebunan Nusantara VI dan hingga kini perawatan, pemeliharaan tanaman, pemetikan pucuk teh, pengolahan di pabrik, sampai pengemasan dan pengeksporan ke berbagai negara.

Kebun Teh Kayu Aro adalah tempat yang cocok untuk bersantai dan rileks. Hamparan pohon teh dan udara yang bersih dapat memberikan ketenangan jiwa. Menelusuri perkebunan teh sambil melihat para pekerja memetik teh tentu merupakan kegiatan yang menyenangkan.

Pabrik teh yang sudah ada sejak zaman Belanda ini tidak banyak berubah dari kondisi awalnya. Untuk memasuki area pabrik teh ini harus ada izin pada PT Perkebunan Nusantara, sebab untuk menjaga keamanan,ketertiban di dalam pabrik. Artinya tidak sembarang orang yang bisa memasuki area pabrik teh itu . Anda dapat menyaksikan proses pengelolaan teh mulai dari proses pemetikan dan proses pelayuan. Anda juga bisa melihat teh tersebut dikeringkan menggunakan lori gantung dan pengangkutannya menuju ke tempat penggilingan.

Proses fermentasi sampai proses pembuatan bubuh teh juga menarik untuk disaksikan. Jika beruntung, Anda bisa melihat pekerja yang sedang memisahkan bubuk teh berdasarkan kualitas teh dan pengujian teh berkualitas di ruang pengujian.

Belanda sebagai salah satu negara penjajah mempunyai peran dalam sejarah Perkebunan terutama yang telah meletakkan dasar bagi Perkebunan di Indonesia.

Pembukaan lahan pekebunan swasta melalui pengawasan pemerintah kolonial Belanda meluas ke seluruh wilayah di Hindia Belanda, bahwa aparat negara kolonial menonjol dalam  mendukung hegemoni perusahaan-perusahaan dengan peran serta dan persetujuan dalam bentuk pemaksaan Sumatera salah satunya, memiliki wilayah yang luas.

Pihak Pemerintah Belanda disamping menguasai alam Kerinci dan memungut pajak terhadap rakyat juga merintis dan membuka areal perkebunan teh di alam Kerinci, dan secara historis awalnya perkebunan teh yang dikembangkan oleh perusahaan Belanda yaitu NV. HVA (Namlodse Venotchhhaaf Handle Veriniging Amsterdam) pada tahun 1925.

Sebelumnya usaha pembukaan lahan perkebunan teh dilaksanakan di kawasan yang belokasi di Kebun Baru Kecamatan Gunung Raya. Kebun ini dihentikan penanamannya karena ketersediaan lahan yang kurang memadai, dilain pihak dikawasan ini pada zaman penjajahan Belanda merupakan kawasan hutan lebat yang merupakan daerah tangkapan air dan hulu sungai Lempur yang dimanfaatkan penduduk untuk kebutuhan hidup dan untuk mengairi lahan persawahan masyarakat.

Pada saat itu para pemimpin Adat di Gunung Raya melarang keras pihak perusahaan Belanda untuk membuka lahan perkebunan di kawasan itu. Dengan pertimbangan yang matang akhirnya pihak Belanda memindahkan ke kawasan hutan di dataran tinggi yang sekarang dikenal sebagai perkebunan teh Kayu Aro dikaki gunung Kerinci yang saat ini disebut dengan wilayah Kecamatan Kayu Aro yang memiliki iklim sejuk/dingin dengan ketinggian 1.400 s/d 1.700 meter diatas permukaan laut.

Untuk mengolah lahan perkebunan teh tersebut, pihak Belanda mendatangkan para pekerja dari para pekerja pekerbunan yang berada di Pulau Jawa, sebagian besar didatangkan dari Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Pada masa selanjutnya setelah kemerdekaan Indonesia diraih dan perusahaan perkebunan diambil alih oleh Indonesia para pekerja perkebunan dari Pulau Jawa itu tetap menetap di Kayu Aro dan melanjutkan pekerjaan sebagai pekerja di areal perkebunan dan Pabrik Teh Kayu Aro.***

Kategori Opini

Tags:

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.