Rabu, 15 Agustus 2018 | 14:41

Petani ‘Menjerit’ Harga Komoditi Perkebunan Anjlok

Laporan Raini

Harga kelapa dalam merosot tajam.

INFOJAMBI.COM – Sebagian besar petani ‘menjerit’, lantaran semua harga komoditi perkebunan ditingkat penampung dan tengkulak merosot tajam.

Ambok Ule, salah seorang petani di Kuala Tungkal mengaku, sejak hasil perkebunan di daerahnya mengalami penurunan mulai sebelum puasa lalu, membuat dirinya tak bergairah untuk memanen buah sawit, pinang, kelapa dan kopi miliknya.

Dari informasi yang diperoleh, untuk harga TBS mengalami penurunan sebesar Rp 200 per kg, dari Rp 800/ kg, kini cuma dihargai Rp 600 ditingkat petani. Begitu juga harga pinang, dari Rp 10.500/kg turun menjadi Rp 8.000. Sementara harga kopi, ‎dari Rp 40 ribu kini menjadi 28.000/ kg. Untuk harga kelapa dalam hargai hanya Rp 800 per butir.

Menurut dia anjloknya harga komoditi ini, menjadi bumerang bagi petani. Kalau tidak dipanen, bagaimana memenuhi kebutuhan keluarga, tidak ada yang bisa dilakukan, selain pasrah dan menerima apa adanya.

“Kami petani di wilayah ini sangat berharap campur tangan pemerintah untuk menstabilkan harga komoditi perkebunan lagi. Saat ini harga jual hasil perkebunan ini, tidak sebanding dengan biaya yang dikeluarkan,” ungkapnya.

Ambok Ule dengan tiga anak ini, menambahkan, jika penurunan harga perkebunan ini berbanding terbalik dengan harga ayam dan telur yang justru mengalami kenaikan harga.

“Jangankan untuk sehari-hari, untuk menutupi biaya produksi saja kita pusing tujuh keliling,” tukasnya.

Yumi (66) warga Kelurahan Mekar Jaya juga mengaku sangat terpukul dengan anjlok harga hasil perkebunan, dirinya tetap melakukan panen.

“Meski harga sangat rendah, tapi tetap harus dipanen. ‎Ya, ibaratnya seperti buah simalakama,” ucapnya singkat.

Sumanto seorangn petani kelapa yang memiliki kebun di Seberang Kota, juga mengeluhkan hal yang sama. Beberapa hari lalu dia mengaku menjual kelapa bulat yang telah dikupas sabutnya, seharga Rp 800 per butir.

“Jauh selisihnya, dulu bisa sampai Rp 2.000 per buah. Kalau dicongkel memang harga tinggi, tapi biaya operasionalnya besar. Hitungan sama saja, mending jual kelapa bulat,” kata Endang.

Endang juga mengaku heran, harga jual komoditi pertanian di Tanjab Barat sewaktu-waktu dengan mudah berubah, sementara harga yang ditetapkan pemerintah bisa lebih dari itu.

“Jadi kami minta tolong kepada pemerintah, untuk bisa membantu petani mendongkrak harga jual komoditi perkebunan,” tambahnya.***

Editor : M Asrori S

Kategori Ekonomi dan Bisnis

Tags: ,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.