PETI Berujung Pertikaian, Satu Orang Kena Bacok

Laporan Jefrizal

Perundingan Dua Desa Yang Bertikai

INFOJAMBI.CO – Aktivitas Penambang Emas Tanpa Izin (PETI) di Kabupaten Merangin berujung pertikaian antar warga. Dimana dalam pertikaian antar warga tersebut, satu orang mengalami luka bacok dibagian kepala dan bahu.

Informasi yang didapat dilapangan, kejadian berawal pada, Jumat (27/4/2018) sekitar pukul 16.00 wib, saat seorang operator alat berat membawa alat berat keluar dari lokasi PETI Dusun Selayau, Kecamatan Tabir Barat. Alat berat jenis Eskavator itu akan dibawa ke Desa Muara Kibul, Tabir Barat.

Namun sesampai di Desa Batang Kibul alat berat tersebut diberhentikan oleh puluhan warga setempat. Warga mengatakan, setiap Eskavator yang melintas di desa mereka harus membayar Rp 4 juta. Jika tidak eskavator tidak boleh melintas.

Perundingan antara warga Batang Kibul dengan pihak pembawa eskavator yang diketahui milik warga Muara Kibul dilakukan. Namun perundingan memanas, karena pembawa eskavator tidak bersedia membayar uang yang diminta tersebut.

Pertikaian antara warga dan pembawa eskavator pun terjadi. Akibatnya, satu orang warga Batang Kibul bernama Firduas terkana bacokan benda tajam dibagian kepala dan bahu oleh pembawa eskavator bernama Hamdan (35).

Karena mengalami luka parah, warga langsung membawa korban ke rumah sakit umum Bangko. Sementara pelaku langsung kabur melarikan diri setelah kejadian itu.

Sementara itu, saat pertikaian terjadi ternyata puluhan warga Muara Kibul juga telah berjaga-jaga di jembatan Desa setempat. Warga siap-siap menghadang warga Batang Kibul yang melintas.

Kapolres Merangin, AKBP I Kade Utama melalui Kapolsek Tabir Ulu, Iptu Syahrial membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan, setelah mendapat kabar adanya pertikaian pihaknya langsung menuju TKP. “Di lokasi pihak kita langsung menenangkan warga yang bertikai tersebut,” kata Kapolsek, Sabtu (28/4/2018).

Diungkapkannya, situasi sempat memanas antara kedua desa yang bertingkai. Namun hal itu bisa mereka atasi setelah memberikan pengertian bahwa persoalan ini telah ditangani polisi. “Setelah mendengar penjelasan kita, masyarakat akhirnya membubarkan diri sekitar pukul 2.00 Wib, Sabtu (28/4/2018) dini hari,” ungkapnya.

Setelah masyarakat bubar lanjutnya, pihaknya langsung memasang policeline terhadap satu eskavator yang dibawa tersebut. Saat ini eskavator yang diketahui milik oknum kades itu dititipkan di depan kantor camat.

“Sampai saat ini kondisi masyarakat dua desa tersebut aman dan kondusif,” sebutnya.
Namun untuk memastikan kondisi di dua desa benar-benar kondusif, Kapolsek Tabir Ulu memanggil seluruh tokoh yang di segani di Dua Desa tersebut untuk melakukan perundingan agar tidak terjadi aksi serupa di dua desa.

Sekitar pukul 16.00, Sabtu (28/4/2018), pertemuan di lakukan di aula kator Camat Tabir Ulu, diikuti dua kepala desa yang warganya bertikai dan tokoh adat, camat serta kapolsek dan danramil, dimana dari pertemuan tersebut, Kapolsek Tabir Ulu menekankan tiga hal agar tidak di lakukan lagi.

Eskavator Pemicu Pertikaian

Yang pertama, meski ada kesepakatan damai antara kedua belah pihak ataupun penyelesaian secara adat, namun untuk proses hukum terus berlanjut, dan meminta kepada kepala desa Muara Kibul untuk secepatnya menyerahkan pelaku ke Polres Merangin. Kemudian, untuk aktifitas PETI di Dua Kecamatan, yaitu Kecamatan Tabir Barat dan Tabir Ulu tidak ada lagi yang beroperasi.

Jika tiga hal tersebut tidak di penuhi, maka pihak kepolisian akan mengambil tindakan tegas bagi pelaku PETI yang masih beroperasi.

Editor Wahyu Nugroho

Kategori Merangin

Tags: ,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.