Sabtu, 21 Juli 2018 | 20:53

Pramuka Pahlawan Penyelamat 12 Anak di Gua Thailand

Pembina Pramuka Siaga di United Kingdom, John Paul Volanthen.

INFOJAMBI.COM – Penyelamat 12 remaja dan satu pelatih tim sepak bola Thailand yang terjebak berhari-hari dalam sebuah gua, di Chiang Rai, Thailand, adalah seorang Pembina Pramuka Siaga di United Kingdom.

John Paul Volanthen (47), bersama rekannya, Richard Stanton, adalah yang pertama-kalinya menemukan ke-13 pemain sepakbola, di dalam gua tersebut yang dalamnya mencapai 14 Km.

Bersama 19 anggota tim penyelamat lainnya, John, dikenal sebagai penyelam andal yang sudah memiliki segudang pengalaman. John adalah penyelam-sipil anggota Organisasi Penyelamat Gua (Cave Rescue Organisation). Ia menyelam sebagai hobi dan melakukan penyelamatan secara sukarela.

Dalam kejadian ini, John yang dibesarkan di Kota Brighton, menjadi orang pertama yang berhasil melakukan kontak fisik dengan para korban yang terperangkap di Gua Tham Luang. Ia mengaku kepandaian dalam menyelam dan bermain di alam terbuka didapat dari Pramuka.

“Saat pertama menemukan ke-13 orang itu, yang saya tanyakan adalah berapa jumlah kalian,” ujarnya.

Karena dinilai sebagai pahlawan, organisasi Pramuka Kawasan Asia-Pasifik atau Asia-Pacific Regional Scout WOSM menerima usulan, agar memberikan penghargaan kepada John.

“Karena penyelamatan dilakukan di kawasan Asia-Pasifik, maka APR-WOSM Award Committee menerima usulan, agar mempertimbangkan pemberian penghargaan APR Bravery Award dalam konferensi APR di Manila Oktober 2018,” ujar Andalan Nasional Kwarnas Gerakan Pramuka Urusan Hubungan Luar Negeri, Brata T. Hardjosubroto, Rabu (11/7/2018).

Diketahui, tim sepakbola ini, terjebak dalam goa sejak 23 Juni 2018 saat menjelajah gua tersebut. Operasi penyelamatan mereka kemudian menjadi sorotan dunia. Penyelam dari sejumlah negara terjun langsung untuk menyelamatkan mereka. Bahkan, CEO SpaceX, Elon Musk datang ke Thailand untuk mengantarkan kapal selam-mini buatannya.

Kompleks gua Tham Luang tempat para remaja itu terperangkap sejak 23 Juni lalu, ibarat sistem labirin dengan celah beragam ukuran. Ketinggian beberapa celah melebihi 10 meter, sedangkan celah lainnya begitu sempit dan terendam air.

Hal ini menimbulkan potensi bahaya bagi regu penyelamat. Kematian seorang mantan penyelam Angkatan Laut Thailand, akibat kekurangan suplai udara, menjadi bukti bahaya tersebut.

Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka, Adhyaksa Dault, mendukung siapapun Pramuka yang berprestasi untuk diberikan penghargaan. Apalagi Jhon yang ikut berpartisipasi dalam penyelamatan 12 anak di gua yang berada di Thailand. Ia berharap, semangat Jhon sebagai relawan yang senang menolong terhadap sesama dapat memberikan inspirasi kepada adik-adik Pramuka di tanah air.

“Pramuka Indonesia juga tidak kekurangan orang yang memiliki karakter seperti Jhon yang suka menolong. Pramuka sejak awal memang dididik dan dilatih untuk memiliki jiwa patriot. Menolong tanpa pamrih adalah karakter Pramuka sejati,” ujar Adhyaksa. (RILIS)

Editor : M Asrori S

Kategori Pendidikan

Tags: ,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.