Jumat, 28 Juli 2017 | 23:44

Presiden dan Wapres Hadiri HUT PDI Perjuangan

Oesman Sapta bersama tokoh PDIP ll Bambang Subagio

JAKARTA – Presiden Joko Widodo, Wapres Jusuf Kalla, Ketua MPR Zulkifli Hasan dan Wakil Ketua MPR Oesman Sapta Odang, serta sejumlah Menteri, terlihat hadir diantara ribuan kader PDI perjuangan dalam peringatan HUT ke 44 PDI Perjuangan bertema “Rumah Kebangsaan Untuk Indonesia Raya” berlangsung di Hall Jakarta Convention Centre (JCC) Jakarta, Selasa (10/1).

Selain itu juga turut hadir Ketua Partai, di antaranya Muhaimin Iskandar (PKB), Surya Paloh (Nasdem), Romahurmuzy (PPP), Djan Farid (PPP), Idrus Marham (Partai Golkar),  A.M. Hendropriyono (PKPI) dan pengamat politik.

Ketua Umum PDI P, Megawati Soekarnoputri, saat itu lebih banyak berbicara tentang Pancasila. Megawati mengapresiasi pemerintah yang telah menetapkan tanggal 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila.

“Pancasila sebagai pendeteksi sekaligus tameng proteksi terhadap tendensi hidupnya  “ideologi tertutup” yang mengancam persatuan dan kesatuan bangsa,” kata Megawati.

Menurut Presiden Kelima RI itu, ideologi tertutup jelas bertentangan dengan Pancasila. Ideologi tertutup bersifat dogmatis dan muncul dari suatu kelompok tertentu.

“Mereka memaksakan kehendaknya sendiri, tidak ada dialog apalagi demokrasi. Tidak hanya itu, mereka benar-benar anti kebhinnekaan. Itulah yang muncul dengan berbagai persoalan sara akhir-akhir ini,” tambah Megawati.

Sebaliknya, lanjut Megawati, Pancasila mampu menjadi “leidstar” bintang penuntun dan penerang bagi bangsa Indonesia. Pancasila selalu relevan dalam menghadapi setiap tantangan yang sesuai perkembangan jaman, ilmu pengetahuan serta dinamika aspirasi rakyat.

“Pancasila mampu menjadikan keberagaman, sebagai kekuatan untuk membangun kehidupan yang berperikemanusiaan dan berperikeadilan,” pungkasnya.

Sementara Presiden, Joko Widodo, mengungkapkan berbagai keberhasilan pemerintah dalam pembangunan dua tahun terakhir. Salah satunya adalah pertumbuhan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,18 merupakan pertumbuhan ekonomi tertinggi ketiga setelah India dan Cina dalam kelompok G-20.

“Pembangunan yang sedang dijalankan mengacu pada ekonomi Pancasila, yaitu membangun dari daerah pinggiran dan pertumbuhan ekonomi disertai pemerataan,” katanya. (infojambi.com)

Laporan : Bambang Subagio ll Editor : M Asrori

Kategori Politik

Tags: ,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.