Senin, 19 November 2018 | 18:40

Program Hibah PDS : Jembatani Komunikasi dan Interaksi Dosen dan Guru, 22 Dosen UNP Mengajar di SD, SMP, SMA dan SMK

Press Release

DOSEN dan guru memiliki peran sentral dalam kontestasi pendidikan dan pembelajaran. Di Indonesia, guru dihasilkan oleh LPTK dan guru mengajar di sekolah. Faktanya, LPTK berada di bawah Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi sedangkan sekolah berada dalam wewenang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Di LPTK, dosen mempersiapkan calon guru dan di sekolah guru mendidik peserta didik. Dosen dan guru adalah dua pihak yang memiliki bertanggung jawab besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Kualitas dosen dalam pembelajaran di PT akan memberikan pengaruh kepada kualitas calon guru yang dihasilkan LPTK.

Hanya saja, selama ini terkesan bahwa dosen dan guru ibarat dua profesi yang terpisah sama sekali. Apalagi dengan kebijakan pemisahan antara kemenristekdikti dengan kemendikbud yang oleh sebagian orang dipahami sebagai langkah yang menyebabkan penyelenggaraan pendidikan semakin rumit. Namun disisi lain, keberadaan LPTK di bawah kemenristekdikti menyebabkan LPTK lebih leluasa menyelenggarakan Tridharma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Sedangkan kemendikbud lebih fokus mengurusi pendidikan di tingkat dasar dan menengah. Hal ini dapat dipahami jika mau menelaah lebih jauh UU Pendidikan Tinggi Pasal 1 butir 2 tentang Tridharma PT dan pasal 2 butir 1 tentang tujuan pendidikan tinggi serta UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas yang menjadi pedoman utama Kemendikbud.

Terlepas dari kondisi di atas, Kolaborasi merupakan tren pembelajaran masa kini dan merupakan salah satu kecakapan abad 21 yang tidak hanya ditujukan kepada peserta didik namun juga kepada pendidik. Menurut UU nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, pasal 39 ayat 2 menjelaskan bahwa pendidik merupakan tenaga profesional yang bertugas merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan, serta melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, terutama bagi pendidik pada perguruan tinggi. Pendidik disini termasuk guru dan dosen (UU nomor 20 tahun 2003, Bab 1, Pasal 1). Atas dasar itulah, dosen dan guru harus bersinergi dalam tugas untuk mencerdaskan anak bangsa.

Program PDS (Penugasan Dosen ke Sekolah) 2018 yang diluncurkan oleh Kemenristekdikti Jakarta, khususnya Direktorat Pembelajaran, merupakan program Hibah unggulan sebagai salah satu upaya dalam menjembatani komunikasi dan interaksi antara dosen dan guru. Melalui PDS ini, LPTK sebagai pusat pengembangan keilmuan dan riset kependidikan bisa menerapkan hasil riset dan temuan-temuan terbaru di bidang pendidikan (novelty) di sekolah melalui suatu kerangka program dan kerja sama yang saling memberi manfaat.

Universitas Negeri Padang pada tahun 2018 mendapatkan kepercayaan dari Kemenristekdikti untuk menyelenggarakan PDS bersama 89 PT lainnya di Indonesia. Di tingkat UNP di ketuai oleh Prof. Dr. Festiyed, MS. Kegiatan ini melibatkan 22 orang dosen UNP dari 22 Prodi berkolaborasi dengan 22 orang guru mata pelajaran mulai tingkat SD, SMP , SMA berasal dari sekolah Pembangunan Laboratorium UNP dan dari SMA N 3 Padang, SMAN 10 Padang serta SMKN 5 Padang.

PDS UNP dilaksanakan mulai bulan Juli – sampai bulan oktober 2018. Dosen bertindak sebagai guru dan guru beritindak sebagai observer pembelajaran. Dosen bertindak sebagai guru di sekolah adalah bagian tak terpisahkan dalam upaya mengalirkan sinergi kualitas pendidikan di segala bidang terutama mengalirkan perkembangan IPTEKS pembelajaran yang dikembangkan di LPTK kepada sekolah tempat PDS berlangsung. Perkembangan yang pesat dan intensif dalam hal teori pembelajaran yang dikaji di LPTK perlu didesiminasikan melalui PDS.

PDS memiliki fungsi ganda, yaitu sebagai upaya pengaliran informasi terkini dari LPTK ke sekolah mitra dan upaya pembinaan kualitas pembelajaran. Peningkatan profesionalitas guru dalam pembelajaran dapat diidentifikasi dari kemampuannya melengkapi pembelajaran dengan metode yang sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013 edisi revisi 2017 yang mengutamakan Mengintergrasikan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), Menstimulus keterampilan 4C (Creative, Critical thinking, Communicative, dan Collaborative); Mengintegrasikan HOTS (Higher Order Thinking Skill) dalam pembelajaran.

Metode pembelajaan Scintific Approach merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran yang dilaksanakan. Mengingat kemampuan guru untuk mendesain metode scientific approach sesuai kurikulum 2013 direvisi 2017 masih perlu pembinaan, maka tujuan PDS ini adalah sebagai berikut:

1. Dosen dapat melaksanakan tugas pembelajaran di sekolah dengan metode scientific approach sesuai kurikulum 2013 direvisi 2017 yang mengutamakan Mengintergrasikan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK), Menstimulus keterampilan 4C (Creative, Critical thinking, Communicative, dan Collaborative); Mengintegrasikan HOTS (Higher Order Thinking Skill) dalam pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

2. Terlaksananya Penugasan Dosen Di Sekolah menjadi model bagaimana melaksanakan penyusunan RPP, pelaksanaan pembelajaran dan pelaksanaan penilaian bersama sama dengan guru sesungguhnya di sekolah.

3. Terlaksananya Pendampingan dan pelatihan melalui PDS bagi guru dapat meningkatkan (a) kemampuan memahami Scientific Approach, (b) kemampuan menyusun RPP dengan pendekatan Scientific Approach, dan merancang medianya (c) kemampuan melaksanakan pembelajaran outentik dengan pendekatan scientific approach, (d) Kemampuan melaksanakan penilaian outentik dengan pendekatan sains, (e) Terlaksananya Pendampingan Pengembangan Kualitas Metode Pembelajaran berbasis SCAP.

4. Terlaksananya Pendampingan dan pelatihan melalui PDS bagi dosen dapat menambah wawasan dan pemahaman tentang persekolahan, tambahan pengalaman tentang cara mengemas pembelajaran yang sesuai dengan karakteristik dan tingkat perkembangan peserta didik, tambahan pemahaman tentang cara siswa belajar, berpikir, dan mengemukakan gagasan, mampu membangun kemitraan sejati dengan guru, mampu membantu guru menyusun karya ilmiah. ***


Kategori Pendidikan

Tags: ,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.