Senin, 18 Desember 2017 | 17:54

Saniatul Lativa Gelar Sosialisasi Empat Pilar di Lapangan Futsal

INFOJAMBI.COM — Anggota MPR RI Saniatul Lativa kembali menggelar sosialisasi empat pilar dan memberikan pemahaman kehidupan berbangsa dan bernegara untuk menyikapi semakin melorotnya nilai -nilai nasioanlisme di tengah masyarakat belakangan ini.

Dalam kegiatan sosialisasi empat pilar yang digelar di lapangan futsal kecamatan Rimbo Bujang, kabupaten Tebo, Jambi, pada Sabtu (2/12/2017) dan dihadiri ibu PKK se-Rimbo Bujang, Saniatul Lativa yang akrab disapa -Bu Sani- itu mengatakan bahwa tujuan diselenggarakan acara tersebut, guna menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan dan nasionalisme sesuai dengan semangat proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia Tahun 1945.

“Tujuan pelaksanaan sosialisasi ini adalah untuk menggali nilai-nilai yang terkandung dalam Empat Pilar Kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, agar dapat dipahami secara utuh dan menyeluruh,” ujar legislator dari daerah pemilihan Jambi tersebut.

Ditambahkan politisi dari Fraksi Partai Golkar itu, untuk mencegah agar tidak terpengaruh dan tergelincir dengan kehidupan yang negatif, empat pilar MPR RI hendaknya dijadikan sebagai pegangan hidup dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

“Dengan adanya pembekalan dan pemahaman empat pilar ini, kita berharap akan mampu mencegah pengaruh-pengaruh negatif,” kata Sani.

Karenanya, mengingat Indonesia sebagai bangsa besar dan majemuk serta terdiri atas berbagai suku, bahasa dan budaya, agama serta adat istiadat, maka harus betul-betul memahami empat pilar yang menjadi pegangan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara agar negara kesatuan tetap terpelihara yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

“Persatuan dan kesatuan bangsa ini harus tetap terpelihara dan diperjuangkan dengan harapan agar negara terus bersatu dalam NKRI, ” ujar anggota Komisi V DPR itu.

Sani menambahkan Pancasila sebagai ideologi negara harus dipahami secara utuh dan menyeluruh. Diakuinya, kebebasan berpendapat memang menandai lahirnya era reformasi, tapi sering kali kebebasan tersebut di maknai sebagai kebebasan tanpa batas.

Pemahaman Pancasila yang tidak sesuai orisinilitasnya kata Sani, dikhawatirkan nanti masyarakat akan bias dalam perilaku sehari-hari, seperti menuding memprovokasi serta hal negative lainnya.

“Ini sebuah gejala yang harus cepat kita mengambil upaya-upaya, agar anak bangsa kembali kepada pemahaman yang benar tentang Pancasila, ideologi negara, pandangan hidup, etika, moral dan sebagainya,” katanya. (Bambang Subagio — Jakarta)

Kategori Nasional

Tags:

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.