Sekali Panen Bisa Rp 180 Miliar. Mauuu ???…

Bupati Tanjabtim, Romi Hariyanto, meninjau tambak ikan toman, di Tanjungkapur || foto : willy

TANJUNGPINANG — Bupati Tanjabtim, Romi Hariyanto, sangat tertarik dengan prospek budidaya ikan toman, saat berkunjung ke Kota Tanjungpinang, Kepulauan Riau (Kepri), belum lama ini.

Ketertarikan itu spontan muncul, karena Romi melihat kesamaan karakteristik lokasi budidaya ikan itu. Menurut bupati muda ini, lokasi budidaya ikan toman di Tanjungpinang mirip dengan sebagian besar wilayah Tanjabtim.

“Kondisi air, lahan sekitar maupun tata kelola air di kawasan tambak. Apalagi prospek ekonomisnya sungguh menjanjikan,” kata Romi kepada INFOJAMBI MEDIA, di Tanjungpinang.

Bayangkan saja, untuk setiap tambak ikan toman seluas satu hektar, dengan masa produksi delapan bulan, bisa menghasilkan hingga 180 ton ikan toman siap ekspor.

“Dengan sepuluh tambak ini, kami bisa panen 1.800 – 2.000 ton,” kata Aleng, pengelola tambak ikan toman di Tanjungkapur, menjelaskan pada Bupati Tanjabtim yang berkunjung bersama sejumlah stafnya, Selasa kemarin.

Usaha tambak ikan toman di Tanjungkapur, Gunungkijang, Pankalpinang itu terbilang sangat sukses. Setiap kilogram ikan toman dijual seharga Rp 90 ribu di Singapura. Jika ditotal, omzetnya bisa lebih Rp 100 miliar setiap kali panen.

Memang, investasi untuk bisnis budidaya ikan toman ini tidak murah. Selain ketersediaan lahan dan sistem kerja yang harus terukur, persoalan pakan jadi pengeluaran produksi yang paling tinggi.

Untuk mencukupi suplai pakan bagi 10 hektar tambak, dibutuhkan sedikitnya 30 ton setiap hari. Pakannya adalah ikan sampah atau biasa disebut ikan rucah.

Pakan itu tidak bisa dipenuhi dari lokal, melainkan harus didatangkan dari Kabupaten Tanjabbar dan Tanjabtim. Harga pakan sampai di Tanjungpinang bisa hingga Rp 5 ribu per kilogram.

“Sebetulnya tidak efisien, disamping harga jadi tinggi, kualitas pakan juga jauh menurun setelah sampai di sini,” ungkap Aleng.

Aleng mengaku, pimpinannya, Ahe, sangat tertarik membangun tambak ikan toman di Tanjabtim. Alasannya, waktu dan jarak tempuh antara Muarasabak (Tanjabtim) ke Singapura dianggap cukup ekonomis.

Aleng maupun Ahe yang merupakan warga negara Singapura merasa sangat tertarik dengan ajakan Bupati Romi. Terlebih kepada mereka secara tegas Romi menyampaikan bahwa persoalan birokrasi akan dipermudah.

“Saya jamin aktivitas investasi di Tanjabtim akan nyaman dan adil bagi setiap investor. Soal perizinan saya garansi, tidak sulit,” tandas Romi.

Adapun pola investasi yang ditawarkan Romi untuk usaha tambak ikan toman ini, salah satunya kemitraan dengan masyarakat setempat. Kemungkinan pola kemitraan inti – plasma.

“Saya ingin masyarakat sekitar bisa diberdayakan dan ikut menerima manfaat dari investasi yang masuk ke sekitar mereka,” jelas Romi. (infojambi.com/DD)

Laporan : Willy

 

Kategori Ekonomi dan Bisnis

Tags: ,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.