Rabu, 18 Oktober 2017 | 16:18

Shalat Jum’at dan Bertemu Banyak Orang Indonesia di Pusat Kota Seoul

Masjid Si’ul Al Markaz merupakan mesjid terbesar di Kota Seoul, Korea Selatan, rombongan PWI yang berkunjung ke Korea dari tanggal 20 - 30 Oktober 2016 menyempatkan diri shalat di Mesjid yang artistik dan indah ini, yang terletak di perkampungan Muslim di Seoul.
Masjid Si’ul Al Markaz merupakan mesjid terbesar di Kota Seoul, Korea Selatan, rombongan PWI yang berkunjung ke Korea dari tanggal 20 – 30 Oktober 2016 menyempatkan diri shalat di Mesjid yang artistik dan indah ini, yang terletak di perkampungan Muslim di Seoul.

SEOUL — Diperkirakan ada puluhan jumlah mesjid di Korea Selatan. Salah satu mesjid terbesar berada di Kota Seoul, ibukota Korea Selatan. Mesjid besar juga terdapat di Kota Pusan, kota kedua terbesar di Korea Selatan.

Jumlah masyarakat Indonesia yang saat ini tinggal di Korea Selatan lumayan banyak, sekitar 40 ribuan orang. Sebagian besar berasal dari kalangan muslim. Mereka bekerja di perusahaan-perusahaan industri dan pekerjaan lainnya.

Hari Jum’at merupakan hari yang semarak bagi umat muslim Indonesia di Korea Selatan. Mereka berkumpul setelah datang dari berbagai lokasi. Tujuannya sama, shalat Jum’at sekaligus dimanfaatkan untuk silaturahmi sesama warga Indonesia.

Menurut Wakil Kepala Perwakilan Kedutaan Indonesia untuk Korea Selatan, Cecep Herawan, di kota Seoul terdapat sebuah mesjid yang berada di perkampungan muslim asal Arab, Pakistan dan India.

Rombongan wartawan dan pengurus Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dan sejumlah Ketua PWI provinsi, berkesempatan mengunjungi negara industri ini. Kunjungan tersebut guna memenuhi undangan organisasi wartawan Korea Selatan, Journalist Asosiasion of Korea (JAK).

Rombongan PWI dipimpin oleh Ketua Bidang Pembinaan Daerah PWI Pusat, Atal S Depari. Ada 10 orang Ketua PWI provinsi ikut dalam kunjungan tersebut, salah satunya Ketua PWI Provinsi Jambi, Mursyid Sonsang.

Hari pertama tiba di Seoul, Jum’at (21/10), rombongan PWI dari Bandara Icheon menuju mesjid untuk menunaikan shalat Jum’at. Sebelumnya mereka meletakkan barang bawannya di President Hotel —salah satu hotel bintang lima di Seoul.

Setiba dekat mesjid, terlihat mesjid itu cukup bagus dan bersih. Suara azan tanda masuknya waktu shalat Jum’at menggema di perkampungan Arab, di pusat kota Seoul itu. Mendengar suara azan, seperti sedang berada di negeri sendiri, tidak terasa sedang berada di Korea Selatan.

Bersama umat muslim dari Korea dan Afrika, di Soeul, Korea SelatanBersama umat muslim dari Korea dan Afrika, di Soeul, Korea SelatanMendengar suara azan, rombongan wartawan bergegas masuk ke Masjid Iteawon yang dibuka sejak tahun 1976, di Hannam-dong, Yongsan-gu. Sebagai satu-satunya masjid di Seoul, tidak sedikit warga Korea menjadikannya tempat wisata untuk dikunjungi pada akhir pekan atau mendengar pembicaraan tentang Islam.

Mesjid ini biasa disebut Mesjid Itaewon lantaran letaknya persis di pusat kota Seoul, di Itaewon. Mesjid ini juga sering disebut Mesjid Sentral Seoul. Mesjid permanen pertama di Korea Selatan ini dibangun dengan bantuan Pemerintah Korea dan Arab Saudi serta negara-negara Islam lainnya.

Masjid Itaewon terdiri dari tiga lantai. Masing-masing lantai memiliki fungsi berbeda. Lantai pertama, terdapat kantor Federasi Muslim Korea dan ruang pertemuan. Ruang shalat berada di lantai dua dan tiga.

Di kawasan mesjid ini juga dibangun madrasah, sebagai lembaga pendidikan Islam bagi anak-anak, Pusat Penelitian Kebudayaan Islam dan organisasi Islam lainnya.

Tak terasa, suara azan kian menikam. Sontak rombongan wartawan Indonesia bergerak cepat menuju Rumah Allah itu. Di tengah masyarakat yang minoritas Islam, suasana ibadah shalat Jum’at terasa berbeda. Kesibukan Kota Seoul tetap berjalan normal karena tak banyak kaum lelakinya yang ke mesjid.

Rombongan wartawan masih dapat ke mesjid karena dibantu seorang pengurus wartawan Korea. Dia tahu betul sebagian besar wartawan Indonesia memeluk agama Islam. Begitu sampai di Bandara Inchoen, Seoul, dia langsung menawarkan shalat Jum’at.

Rombongan wartawan Indonesia ini sempat tercenung. Pasalnya, shalat diikuti oleh umat Islam dari berbagai bangsa dan tempat di sekitar Seoul. Menariknya, Khatib menyampaikan ceramah menggunakan Bahasa Inggris, tapi membacakan rukun dan syarat shalat tetap menggunakan Bahasa Arab.

Selesai shalat, rombongan wartawan ini dikejutkan lagi dengan begitu banyaknya bertemu orang Indonesia. Mereka ada yang sedang liburan di Negeri Ginseng ini. Sebagian lagi ada yang kuliah dan bekerja. Kabarnya, cukup banyak tenaga ahli rekayasa teknik dari Indonesia ikut dalam pembuatan pesawat di Korea. ***

Catatan Mursyid Sonsang dari Seoul, Korea Selatan

 

Kategori Dunia

Tags:

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.