Sherrin Tharia : PKK Tingkatkan Varian Pangan Berbahan Ikan

JAKARTA — Ketua Forum Peningkatan Konsumsi Ikan (Forikan) Provinsi Jambi, Sherrin Tharia Zola, mengajak meningkatkan konsumsi ikan. Forikan akan bekerjasama dengan Dinas Kelautan dan Perikanan dan semua pihak terkait.

“Mari tingkatkan varian pangan berbahan ikan. Bukan hanya meningkatkan kuantitas variannya, tapi juga kualitas pangannya,” kata Sherrin dalam Rakornas Forikan, di Auditorium Tuna Gedung Mina Bahari 4, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta, Kamis (6/4).

Rakornas mengusung tema “Sinergitas Program Peningkatan Konsumsi Ikan untuk Mewujudkan Generasi yang Sehat”. Dibuka oleh Sekjen Kementerian Kelautan dan Perikanan, Rifky Effendi Herdianto, diikuti Ketua Forikan se-Indonesia.

Langkah meningkatkan varian ikan diantaranya dengan meningkatkan berbagai makanan berbahan ikan di kantin anak-anak sekolah. Menu berbahan ikan lebih banyak lagi disajikan dalam acara-acara resepsi pernikahan dan aqiqah.

“Di Sumatera, konsumsi makan ikan sudah lumayan. Kami dari PKK juga sudah merancang dan mendesain supaya di setiap desa percontohan ada kolam ikan. Hasilnya bisa untuk konsumsi keluarga,” ujar Sherrin.

Sherrin menjelaskan, Desa Percontohan PKK ditargetkan ada di seluruh kabupaten/kota se-Provinsi Jambi. Di Muaro Jambi, ditargetkan setiap anak sekolah mengonsumsi ikan. Di kantinnya ada pengelolaan aneka macam konsumsi ikan, seperti fish nugget, sosis ikan dan lain-lain. Itu disukai anak-anak.

“Kami sudah menggalakkan peningkatan konsumsi ikan karena side effect (efek samping) ikan sangat sedikit dibanding daging ayam dan sapi, kolesterol tidak ada, nutrisi bagus untuk otak, ada Omega 3 dan untuk pertumbuhan anak. Ikan sangat baik. Apalagi kehalalannya sudah terjamin,” ungkap Sherrin.

Sherrin berharap konsepnya itu diterima masyarakat dan direalisasikan ke anak-anak. Dalam resepsi pernikahan, lebih banyak daging ayam dan daging sapi dibanding ikan. Ini mindset, daging lebih mahal, pasti lebih bagus, sedangkan ikan justru lebih murah, tapi kandungan gizinya sangat baik, protein lemaknya, mudaratnya sangat sedikit, malah bisa dibilang tidak ada.

“Ikan sangat bagus untuk otak, otot, obesitas juga tidak ada. Mindset yang ingin kita tularkan, misalnya di acara pernikahan dan aqiqah, supaya lebih banyak varian lauk ikannya,” terang Sherrin.

Disebut oleh Sekjen Kementerian Kelautan dan Perikanan, bahwa konsumsi ikann di Jambi sudah tinggi. Diharapkan menularkan berita baik ini ke provinsi-provinsi lain, seperti di Jawa, karena tingkat konsumsi daging ayam dan sapi sangat tinggi di Jawa.

“PKK akan berperan lebih aktif dalam sosialisasi dan edukasi peningkatan konsumsi ikan. Biasanya tugas ibu masak di dapur. PKK ikut memanage, apa saja varian ikan untuk dikonsumsi mulai dari bapak sampai anak,” pungkas Sherrin.

Plt Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi, Hernowo, menjelaskan, konsumsi makan ikan di Provinsi Jambi angka tahun ini sudah di atas 36. Target nasional 38. Untuk memenuhi target nasional, tinggal sedikit kurangnya, tapi bisa dicapai.

Menurut Hernowo, masyarakat Jambi di pedalaman ada yang tiap hari makan ikan. Untuk meningkatkan konsumsi ikan, perlu edukasi ke masyarakat supaya paham bahwa ikan bukan hanya bergizi tinggi, tapi juga aman dimakan.

Membudidayakannya pun kalau ada penyakit ikan, tidak akan melulari orang yang membudidayakan dan yang mengkonsumsinya. Berbeda dengan hewan darat. Ada flu burung dan sapi gila. Kalau ikan, nyaris tanpa resiko, gizinya tinggi, bangkainya pun halal, mudah diproduksi secara massal.

Sekjen Kementerian Kelautan dan Perikanan, Rifky Effendi Herdianto mengemukakan, peningkatan konsumsi ikan selain untuk meningkatkan giizi, juga membenahi infrastruktur industri ikan yang diarahkan pada kemandirian pangan.

Peningkatan konsumsi makan ikan turut menggerakkan perekonomian domestik, dibanding dengan konsumsi tahu dan tempe yang 99 % komponennya impor.

Rifky memuji Provinsi Jambi dengan berbagai varian makanan berbahan ikan. Di Jambi, varian makanan ikannya luar biasa.

Staf Kepresidenan, Teten Masduki, mengungkapkan, 2/3 wilayah Indonesia terdiri dari lautan. Itu merupakan gudang protein, yakni ikan dan rumput laut. Konsumsi ikan masih rendah, makanya mengimpor sapi, padahal selain daging sapi kebutuhan protein juga bisa diasup dari konsumsi ikan.

Teten mengatakan, target konsumsi ikan pada 2019 adalah 54 kg ikan per kapita. Untuk meningkatkan konsumsi ikan, peran ibu-ibu sangat penting, karena yang biasa mengatur menu di keluarga adalah ibu. Dalam peningkatkan konsumsi ikan, pemerintah melibatkan ahli gizi dan ahli kuliner.

Dirjen Peningkatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan, Nilanto Perbowo, menuturkan, peningkatan konsumsi ikan dicanangkan pada 4 April 2004. Forikan dibentuk tahun 2006 untuk menciptakan keterpaduan dalam gerakan peningkatan konsumsi ikan.

Nilanto megatakan, saat ini 34 provinsi di Indonesia sudah memiliki Forikan, 228 kabupaten dan kota dan 113 kecamatan juga sudah memiliki Forikan. Peningkatan konsumsi ikan ditujukan untuk menyiapkan generasi yang sehat dan cerdas. Dengan Forikan diharapkan bisa meningkatkan keterlibatan pubik dalam kampanye dan edukasi meningkatkan konsumsi ikan.

Pada kesempatan tersebut dilakukan penandatanganan kerjasama program Forikan oleh Kementerian Koordinator Kemaritiman, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia, Rumput Laut Center dan Yayasan Jenang Indonesia. (infojambi.com/d)

Penulis : Mustar Hutapea

 

Kategori Keluarga

Tags: ,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.