Si Kancil Penjegal Raksasa di Asian Games 2018

Laporan Bambang Subagio

Tim Rugby Sevens Indonesia (baju merah putih) ikut Asian Games 2018 (foto Bambang Subagio)

INFOJAMBI.COM – Kancil atau pelanduk diceritakan di berbagai dongeng Nusantara sebagai hewan yang cerdik dan banyak akalnya. Tunduk kepada harimau, sang penguasa rimba, tidak ada di dalam kamus si hewan nakal namun bijak bestari tersebut. Gelar kancil pantas kita sematkan kepada Tim Nasional Rugby Sevens yang akan bertanding di Asian Games 2018.

“Rata-rata tinggi badan pemain kita di Timnas hanya sekitar 170 cm. Tapi ingat, ini Rugby Sevens. Kecepatan dan agility adalah kunci utama, ketimbang postur yang besar. Pemain kita boleh diadu untuk dua hal ini,” ucap Manajer Timnas Rugby Sevens Dudi Gambiro di Jakarta, Selasa (14/8/2018).

Benar kata Dudi, Rugby Sevens memiliki peraturan yang berbeda dengan Rugby XV yang lebih populer, terutama dengan hadirnya Tim Nasional Selandia Baru yang lebih dikenal dengan The All Blacks. Bahkan olahraga yang popular di banyak negara Persemakmuran (Commonwealth) ini telah difilmkan melalui sisi pandang kemanusiaan di negara Afrika Selatan, dengan tajuk Invictus.

Dengan dimensi lapangan yang sama, Rugby Union memiliki formasi 15 pemain pada dua tim yang berlaga, sedangkan Rugby Sevens memiliki jumlah sesuai dengan namanya. Jelas, dengan jumlah pemain yang lebih banyak, para pemain Rugby Union memiliki postur yang jauh lebih besar karena banyaknya benturan fisik di setiap pertandingan. Beda dengan Rugby Sevens yang lebih fokus kepada kecerdikan untuk menyusuri sisi kosong lapangan dalam mencetak skor atau Try.

“Saat ini kita belum punya atlet profesional. Sekitar 80 persen itu mahasiswa, sisanya pekerja. Bayangkan saja, mereka ini adalah orang biasa seperti kita, tapi kita tempa dengan disiplin untuk jadi atlet terbaik yang bisa mengharumkan nama bangsa,” lanjut Dudi.

Para pemain Timnas kerap mendapatkan aplaus dari penonton dan lawan, ketika bertanding di luar negeri. Murni karena postur badan yang terbilang lebih kecil dari lawannya, namun mampu menunjukkan spirit bertanding yang luar biasa melalui kecepatan dan ketangkasan.

Saat ini seluruh atlet Timnas Putra dan Putri sedang mengikuti Training Camp yang sudah berjalan selama delapan bulan di Parangtritis, Yogyakarta. Selama Training Camp yang terisolir, seluruh pemain sudah seperti layaknya saudara sedarah. Bahkan menurut Dudi, Pelatih Kepala George Wilson tidak memilih masing-masing kapten di Timnas Putra maupun Putri. Para pemain yang berembuk untuk memilih siapa yang tepat untuk memimpin skuad merah putih. Sungguh demokratis.

Rugby Sevens merupakan olahraga yang relatif baru di Indonesia. Karenanya tidak masuk hitungan atau dianggap anak bawang di Asia, karena selalu berada di urutan terakhir di berbagai kejuaraan internasional.

Dalam menyongsong Asian Games, Indonesia serius mempersiapkan Timnas Rugby Sevens dengan mendatangkan pelatih bersertifikat Internasional dari New Zealand, begitu pula dengan tenaga pendukung handal seperti fisioterapis, ahli nutrisi dan pelatih fisik.

Editor Wahyu Nugroho

Kategori Olahraga

Tags:

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.