SKK Migas Gandeng Solar Turbines, Penghematan Capai Rp.550 Miliar

INFOJAMBI.COM — Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menginisiasi kesepakatan strategis (strategic agreement) dengan Solar Turbines International Company.

Kesepakatan strategis ditandatangani Kepala SKK Migas, Amien Sunaryadi dan Presiden Solar Turbines, Pablo Koziner diwakili Vice President Customer Services, Juan Rojas, di kantor SKK Migas, Jakarta, Rabu (8/11/2017).

Estimasi penghematan dari kesepakatan strategis ini dalam lima tahun diperkirakan mencapai US$40,67 juta atau sekitar Rp550 miliar.

Penghematan ini berasal dari diskon pembelian dan perawatan yang sama untuk seluruh kontraktor kontrak kerja sama (Kontraktor KKS) yang ada di Indonesia.


Solar Turbines juga bertanggung jawab atas pengelolaan suku cadang terhadap penggunaan mesin-mesin yang ada di Indonesia.

“Tidak hanya untuk mendapatkan efisiensi biaya. Paling penting kerja sama ini akan meningkatkan kapasitas nasional,” kata Amien.

Amien menjelaskan, SKK Migas mendorong Solar Turbines membuat road map investasi di Indonesia, untuk mengembangkan kemampuan sumber daya manusia (SDM), membangun fasilitas manufaktur, serta menjadikan Indonesia sebagai pusat pasar Solar Turbines di Asia Pasifik.

“Mereka telah menyatakan komitmennya terhadap haltersebut untuk meningkatkan penggunaan komponen dalam negeri Indonesia,” kata Amien.

Di Indonesia, ditemukan beberapa merkturbomachinery, yang meliputi turbin dan/atau peralatan dengan penggerak utama turbin, seperti yang terdapat pada kompresor dan pompa.

Saat ini Solar Turbines menjadi peralatan turbomachineryterbesar yang digunakan di Indonesia dengan persentase mencapai 81 persen.

Deputi Pengendalian Pengadaan, SKK Migas, Djoko Siswanto menjelaskan, melihat jumlah yang cukup signifikan ini, SKK Migas merasa perlu membuat kesepakatan strategis.

Selain efisiensi biaya dan peningkatan kapasitas nasional, kesepakatan ini dapat meningkatkan kehandalan operasi dan menjamin dukungan layanan purna jual.

“Harapannya, penghentian operasi yang tidak direncanakan (unplanned shutdown) dapat diminimalisir,” kata Djoko.

Djoko mengungkapkan, sebelum adanya kesepakatan strategis ini, kerap kali ditemukan beberapa permasalahan yang muncul di lapangan.

Contohnya, adanya diskon yang berbeda di antara kontraktor KKS. Hal ini diakui Direktur Utama PT Indoturbines, Deny B Kurnianto, agen tunggal Solar Turbines di Indonesia.

Menurut Deny, besaran diskon sangat beragam, tergantung jumlah pembelian yang dilakukan masing-masing Kontraktor KKS. Makin besar pembelian, makin besar pula diskon yang diberikan.

“Adanya kesepakatan ini, diskon yang diberikan sama untuk seluruh Kontraktor KKS,” katanya.

Selain mengenai besaran diskon, acap kali ditemukan pemesanan inventori dari masing-masing Kontraktor KKS yang sering memunculkan tambahan biaya logistik dan pergudangan, serta fungsi peralatan menjadi kurang maksimum disebabkan waktu tunggu suku cadang yang cukup memakan waktu.

Tidak hanya itu, salah satu hal yang kerap menghambat proses pemeliharaan turbomachineries ini karena kegiatan overhaul dan pemeliharaan untuk tipe-tipe mesin tertentu masih harus dilakukan di kantor pusat Solar Turbines di Amerika Serikat.

“Belum ada training center untuk produk Solar Turbines ini di Indonesia,” kata Kepala Divisi Pengelolaan Pengadaan Barang dan Jasa SKK Migas, Erwin Suryadi.

Erwin berharap kontrak antara Solar Turbines dengan masing-masing Kontraktor KKS segera diimplementasikan. Kesepakatan strategis ini mendapat respon baik dari Kontraktor KKS.

SKK Migas dianggap dapat menjadi mitra kerja yang berorientasi pada efisiensi biaya dan kecepatan pengambilan keputusan, guna menjaga produksi migas Indonesia.

SKK Migas, kata dia, akan terus melakukan terobosan-terobosan positif lainnya guna menciptakan efisiensi di industri hulu migas Indonesia.

“Iklim investasi hulu migas di Indonesia akan semakin menarik dengan adanya terobosan-terobosan ini,” kata Erwin.

Sebelumnya, sudah ada beberapa terobosan yang dilakukan SKK Migas, khususnya dalam meningkatkan kapasitas nasional. Misalnya, kerja sama dengan bank-bank nasional sebagai tempat penyimpanan dana-dana wajib di industri hulu migas.

Kemudian kerja sama dengan maskapai nasional sebagai partner dalam melakukan perjalanan dinas, dan berbagai kerja sama lainnya. (RIL)

 

Kategori Ekonomi dan Bisnis

Tags: ,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.