Soal Guru Tampar Murid, Ini Kata Sutan Adil

H Sutan Adil Hendra

INFOJAMBI.COM – Pimpinan komisi X DPR, mendesak agar masalah guru yang menampar peserta didik, diselesaikan secara arif dan bijaksana.

Pihak berwajib setelah memperoleh laporan, hendaknya mempelajari dulu apakah benar ada tindak kekerasan terhadap si anak, karena terkadang kasus kekerasan seperti itu, tidak sepenuhnya kesalahan pada guru.

“Jangan mereka menjadi korban untuk sesuatu yang belun jelas. Konfirmasi para pihak sangat penting, sebelum kita bersikap,” ujar Wakil Ketua Komisi X DPR, Sutan Adil Hendra, di gedung DPR Jakarta, Kamis (7/9), menanggapi adanya pelaporan orangtua Feri Gunadi (42) terhadap ES, guru SD Negeri 64/IV Kota Jambi ke Polresta Jambi, Rabu (6/9) menyusul terjadinya penamparan terhadap anaknya, pada Selasa (5/9).

Jika pihak berwajib setelah memperoleh laporan, hasil penyelidikan ditemukan terjadi kekerasan, Sutan menyarankan, kasus itu untuk tidak dibawa ke ranah hukum.

“Jika seandainya memang terjadi kekerasan guru tersebut, harus di beri sanksi tegas, namun juga jangan sampai ke ranah hukum,” kata politisi Fraksi Partai Gerindra itu.

Ditambahkan Sutan, untuk menyelesaikan kasus kekerasan itu, kuncinya musyawarah ditingkat sekolah yang melibatkan kepala sekolah.

“Sejauh mana kebenarannya, bagaimana kejadiaanya atau hanya salah persepsi dan komunikasi, ” kata legislator dapil Jambi.

Aksi penamparan berawal dari aksi saling sikut antara anak Feri, PTR (11), dengan seorang temannya, di dalam barisan saat upacara bendera, Senin (4/9). Kejadian itu jadi masalah bagi ES, yang kebetulan ibu teman PTR.

Senin itu tidak ada gejolak. PTR dan anak ES biasa-biasa saja. PTR juga belajar dan bermain seperti biasa di sekolah yang berada di Kelurahan Mayang Mangurai, Kota Baru itu.

Keesokan hari, Selasa (5/9), di saat jam pelajaran berlangsung, PTR pamit pada gurunya untuk membeli pena, di koperasi sekolah. Di situ PTR bertemu ES, persis di depan pintu ruang koperasi. ES memanggil PTR. Mereka kemudian terlibat pertengkaran, sampai akhirnya ES dipanggil kepala sekolah keruangannya. PTR juga dibawa ke ruang kerja kepala sekolah.

Bersamaan dengan itu, Feri mendapat laporan bahwa anaknya ada masalah dengan gurunya di sekolah. Feri pun langsung meluncur ke sekolah anaknya.

PTR lantas dibawa pulang. Setiba di rumah, Feri menanyakan masalah yang terjadi pada PTR. Awalnya PTR tidak mau cerita. Tapi karena ayahnya terus memaksa, akhirnya murid kelas enam ini buka mulut. PTR mengaku ditampar oleh gurunya, ES.

Tamparan yang mengena pipi dan telinga kiri itu, membuat PTR kesakitan. Fatalnya lagi, setelah kejadian itu PTR jadi takut ke sekolah. Malam setelah kejadian, Feri membawa PTR berobat ke dokter. PTR juga sudah divisum. (Bambang Subagio – Jakarta)

Kategori Nasional

Tags: ,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.