Sudirman : Komunitas Akan Kelola Candi Muaro Jambi

Penulis : Richi || Editor : Redaksi

INFOJAMBI.COM — Penjabat Sekretaris Daerah Provinsi Jambi, H Sudirman mengemukakan, pengelolaan Candi Muaro Jambi akan diterapkan pola komunitas yang ada di kawasan percandian tersebut.

Sampai saat ini sudah ada beberapa komunitas pelestari dan pengembangan Candi Muaro Jambi yang sudah melakukan.

Hal tersebut dikemukakan Sudirman usai melakukan video conference dengan Tema Bincang Bincang Kawasan Cagar Budaya Nasional Muaro Jambi, di Ruangan Utama Kantor Gubernur Jambi, Selasa (28/4/2020).

“Upaya kita bersama mengembangkan kawasan percandian Muaro Jambi menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk semua, baik sektor pariwisata, ekonomi, budaya dan sejarah. Pengelolaan Candi Muaro Jambi akan kita terapkan menggunakan pola komunitas di kawasan percandian,” ujar Sudirman.

Pengelolaan Candi Muaro Jambi berbeda dengan pengelolaan Candi Borobudur, yang pengelolaannya dilakukan swasta.

“Semoga pengelolaannya menjadi lebih baik lagi melalui pola komunitas yang diterapkan. Saat ini sudah mulai tumbuh komunitas-komunitas yang peduli dengan Candi Muaro Jambi,” tambah Sudirman.

Komunitas ini merupakan orang-orang sekitar yang peduli dengan warisan budaya dan para komunitas inilah yang membantu pemerintah mengembangkan pariwisata dan mengelola Candi Muaro Jambi.

“Semoga dengan pengelolaan secara mandiri melalui pola komunitas bisa lebih baik dibandingkan dengan pengelolaan melalui swasta,” kataya.

Ada beberapa catatan penting untuk menjadikan Candi Muaro Jambi sebagai situs warisan dunia yang ditetapkan UNESCO. Salah satunya kemanfaatan dari keberadaan candi bagi masyarakat sekitar harus membawa dampak positif, bukan hanya dari segi pariwisata.

“Kita akan mengembangkan sistem zonasi untuk kawasan percandian Muaro Jambi dan menghidupkan kembali kanal-kanal yang ada sebagai salah satu upaya mendorong Candi Muaro Jambi sebagai situs warisan dunia,” ungkap Sudirman.

Direktur Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Hilmar Farid mengatakan, dampak covid-19 sangat luas. Salah satunya terhentinya rencana pengembangan kawasan cagar budaya nasional Muaro Jambi yang sudah sejak awal direncanakan bersama oleh pemerintah pusat dan daerah.

“Saya kira masa covid-19 ini merupakan suatu kesempatan untuk memperbaiki semuanya terkait tata kelola yang lebih baik kedepannya pada suatu cagar budaya, khususnya kawasan percandian Muaro Jambi,” kata Hilmar.

Hilmar mengingatkan, dalam pengembangan kawasan percandian Muaro Jambi bukan hanya fokus pada fisiknya, berupa peninggalan peninggalan sejarah, tapi harus juga mengembangkan pengetahuan yang muncul dari masa ke masa terkait dengan kepedulian terhadap situs cagar budaya yang ada. Contohnya kepedulian pengetahuan tradisional yang semakin meningkat setiap tahun seperti jamu.

“Saya yakin kawasan percandian Muaro Jambi banyak sekali pengetahuan tradisional, dari segi lingkungan maupun tanamannya karena kawasannya berdekatan dengan hutan yang kaya sumber daya. Saya mengharapkan kedepannya kawasan percandian Muaro Jambi lebih mengedepankan kepedulian terhadap pengetahuan terkait dengan situs yang ada, khususnya kesehatan tradisional,” pungkas Hilmar. ***

Kategori Provinsi

Tags: ,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.