Jumat, 16 November 2018 | 19:22

Tak Ridho Anaknya Dipaksa Nikah, P Batubara Desak Pihak Berwajib Amankan Habib

Laporan Raden Soehoer

INFOJAMBI.COM – P Batubara, ayah kandung MG (18), seorang santriwati Pondok Pesantren di Pemayung Kabupaten Batanghari. MG jdi korban pernikahan paksa yang dilakukan Habib B (70) beberapa bulan lalu.

P Batubara mendesak pihak berwajib untuk segera mengamankan Habib. Karena sebagai orang tua, dirinya tidak ridho putrinya dinikahi secara paksa tanpa seizinnya serta istri.

Kekecewaan semakin dalam setelah melihat putri tercintanya MG, kini selalu mengurung diri dalam kamar sejak kejadian itu. Trauma yang cukup dalam terlihat diraut wajah putrinya, karena dinikahi Habib B secara paksa.

“Saya minta pihak berwajib segera mengamankan Habib B. Atas kejadian itu, Habib B serta pihak Pesantren Irsyadul Ibad Pemayung, harus bertanggung jawab. Pernikahan itu tidak sah karena tidak ada izin dari saya selaku orang tua, MG,” tegas P Batubara, Minggu (23/9/2018).

P Batubara menegaskan, jika kasus ini tidak digubris oleh pihak yang berwenang, maka selaku orang tua korban, dirinya akan terus melaporkan kasus tersebut.

“Jika tidak digubris, sampai kapanpun saya akan tetap melaporkan kasus ini. Demi Allah, saya tidak ridho anak saya diperlakukan seperti ini,” kesalnya.

P Batubara menuturkan, dalam kasus itu pihak MUI serta Kemenang Kabupaten Batanghari, terkesan tutup mata. Bahkan, MUI mengeluarkan surat terkait pernikahan Habib B dengan MG yang menurut MUI sudah sah menurut Islam.

“Tak habis pikir saya dengan kasus ini. Bayangkan saja, sudah jelas jelas pernikahan tanpa sepengetahuan saya, tanpa seizin saya, malah MUI mengeluarkan surat yang isinya pernikahan itu sah dilakukan menurut ajaran Islam. Untuk itu, kepada pihak dan para ulama yang mendegarkan keluhan ini, kami mohon petunjuk, apakah benar pernikahan tanpa seizin orang tua itu sah, dilakukan menurut ajaran Islam,” kesal, P Batubara.

MG (korban-red) mengaku tidak terima datas kejadian yang menimpa dirinya. Apa lagi dia dinikahi oleh sang Habib B, tanpa sepengetahuan orang tuanya.

“Saya tidak mau menikah. Tapi saat itu saya diam saja, saya takut karena memang di pesantren, namanya seorang habib itu diagungkan,” kata MG dengan wajah kesal.***

Editor : M Asrori S


Kategori Lensa

Tags: ,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.