Jumat, 22 September 2017 | 18:43

Teh Kayu Aro… Aset Dunia Punya Kita

Tri Lestari, Si Cantik Pemetik Teh…

Hampir seluruh orang pernah minum teh. Minuman ini terbuat dari daun teh (herbathea). Di beberapa negara, teh menjadi minuman sehari-hari. Tapi tidak semua negara punya lahan dan cuaca cocok untuk komoditi ini. Jambi beruntung. Memiliki kebun teh terluas di dunia dalam satu hamparan. Letaknya persis di kaki gunung, di Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci. Perkebunan ini sudah ada sejak tahun 1928. Bagaimana kondisinya kini ? Berikut hasil liputan wartawan INFOJAMBI MEDIA, Doddi Irawan dan Suhairi, serta photografer, Badril Doni.

KUNJUNGAN ke Perkebunan Teh Kayu Aro, di Kecamatan Kayu Aro, Kerinci, sengaja dilakukan di penghujung tahun 2016. Tujuan utamanya, menyaksikan langsung kondisi terakhir perkebunan teh itu.

Selain potensial di bidang perkebunan, Perkebunan Teh Kayu Aro juga sudah lama dikenal sebagai objek wisata terindah di Jambi. Hamparan kebunnya yang terluas di dunia, bak permadani hijau.

Tiga hari mengunjungi Kebun Teh Kayu Aro, 20 – 22 Desember 2016, sangat mengasikkan. Untuk sampai di Kayu Aro, karena datang dari Kota Jambi, kami melewati kawasan Danau Kerinci.

Sayangnya ketika melintas di sana hari sudah gelap. Hanya terlihat titik-titik putih, berasal dari cahaya lampu rumah-rumah penduduk. Ya… danau terluas di Provinsi Jambi ini memang dikelilingi oleh belasan desa.

Tak lama menjelang waktu shalat isya, kami memasuki wilayah Kecamatan Kayu Aro. Udara sejuk yang sudah terasa sejak di perbatasan Merangin – Kerinci, makin menyelimuti kulit.

Tiba di mess milik PT Perkebunan Nusantara (PTPN) 6 sekitar jam 8 malam. Tak disangka, kami —juga ada wartawan Jambiindependent.com dan RRI— disambut langsung oleh Manager Kebun, Dariansyah Damanik dan jajaran.

Tidak ada acara seremonial. Santai. Setelah meletakkan barang di kamar, kami pun makan malam. Menunya sederhana, tapi nikmatnya luar biasa. Sehabis makan kami disuguhkan minuman hangat, tentunya teh Kayu Aro.

“Di sini lebih nikmat minum teh ketimbang kopi. Udaranya sejuk, tehnya harus panas,” ujar pelayan mess tersenyum, sembari menghidangkan teh panas dan tiga piring ubi goreng hangat di meja makan.

Perkebunan teh Kayu Aro memiliki luas lahan 3.020 hektar. Letaknya 1.600 meter Diatas Permukaan Laut (DPL). Posisi geografis inil membuat Kayu Aro sangat sejuk. Apalagi di bulan Desember intensitas hujan cukup tinggi.

Seusai mandi air hangat dan sarapan, kami meluncur dari mess. Liputan dimulai. Tujuan pertama, ke Afdeling F di Desa Kersiktuo, sekitar lima kilometer dari mess.

Jalan menuju salah satu kebun ini bagus. Mulus, walau ada aspal terkelupas di beberapa titik. Medannya berkelok-kelok, diantara jutaan pohon teh. Hamparan kebun ini dibelah oleh jalan raya yang tak lebar.

Wanita pemetik teh. Sudah puluhan tahun

Singkat cerita, pagi itu kami melihat sejumlah pekerja pemetik teh. Semua wanita. Mereka dibagi dalam beberapa blok. Tiap blok diawasi seorang mandor.

Tidak ada pakaian khusus yang dikenakan para pemetik teh. Mereka kompak mengenakan caping, baju lengan panjang dan “bersarung” karung plastik, plus sepatu boots.

“Seragam” ini dikenakan para pemetik teh di Perkebunan Teh PTPN 6 Kayu Aro. Mereka bekerja setiap hari, dari pukul 06.30 hingga 16.00 WIB, kecuali hari Minggu dan libur nasional.

Untuk menghasilkan teh berkualitas, para pemetik punya teknik khusus saat memetik. Tidak asal petik. Para pemetik hanya boleh memetik tiga daun teratas, plus peco —daun teh paling pucuk atau muda.

“Ada pelatihan khusus memetik teh saat diterima menjadi karyawan PTPN 6,” ujar Seniwati (46) yang sudah jadi pemetik teh sejak 1989.

Saat menjadi karyawan pemetik teh, Seniwati baru saja menikah. Dia tetap bertahan sampai sekarang. Baginya, upah yang diterima sudah cukup untuk biaya hidup keluarganya.

“Gaji pertama Rp 32 ribu per bulan. Sekarang Rp 2 juta lebih. Saya sudah karyawan tetap dari pertama bekerja,” ujar warga Dusun Lindungjaya, Kersik Tuo ini.

Selain gaji tetap, Seniwati juga mendapat Tunjangan Hari Raya (THR), bonus, baju dan lain-lain. Hanya saja tahun lalu dia tidak dapat bonus. Dia berharap tahun–tahun selanjutnya bonus ada lagi.

“Kami berharap seperti dulu lagi, dapat bonus. Kalau bisa ditingkatkan,” timpal pemetik teh lainnya.

Seniwati senang jadi pemetik teh. Meski capek, tapi sesuai dengan imbalan yang didapat. Dia bisa membiayai kuliah anak bungsunya di STMIK Jaya Nusa, Padang, Sumatera Barat. Satu lagi anaknya sudah menikah.

Suami Seniwati juga bekerja di Kebun Teh Kayu Aro. Dia ,mendapat job di bagian pembersihan lahan. Terkadang suaminya juga ikut membantu memetik teh.

Muptinah, pemetik teh lainnya, juga mengaku senang menjadi pemetik teh. Sudah 30 tahun dia melakoninya. Meski capek, tapi karena sudah terbiasa, Muptinah jadi enjoy. Makanya dia tidak berhenti.

Dari bekerja sebagai pemetik teh, Muptinah bisa membeli rumah dan isi-isinya. Dia dan pemetik teh lainnya tidak khawatir dengan kehadiran mesin petik teh, yang kini mulai dipakai perusahaan.

Menurut Seniwati, Muptinah dan pemetik lainnya, mesin itu bukan “musuh”, tidak mengganggu jatah mereka. Apalagi sekarang banyak karyawan petik yang pensiun.

Pensiun berlaku bagi karyawan jika sudah berusia 55 tahun. Penerimaan karyawan tetap sekarang tidak ada lagi. Sistemnya kini karyawan dikontrak dua tahun dan bisa diperpanjang lagi.

Selama 26 tahun bekerja, Seniwati merasa senang saja, tidak ada dukanya. Bahkan saat hari hujan pun dia tetap memetik teh. “Timbangan daun teh jadi bertambah berat,” ujarnya senyum-senyum.

Setiap hari pemetik teh diberi target oleh perusahaan. Tiap orang mesti dapat 40 kg daun teh.Jika lebih, dihitung sebagai premi atau bonus. Target ini dirasa tidak berat. Semua pemetik bisa memenuhinya.

Seniwati rata-rata bisa dapat 70-80 kg sehari. Bahkan sering juga mencapai 90 kg. Penimbangan hasil pemetikan daun teh dilakukan tiga kali, pukul 09.30, 14.00 dan 16.00 WIB.

Usai dipetik, daun teh ditimbang

Usai daun teh ditimbang dan dikumpulkan, truk mengangkutnya ke pabrik untuk diolah. Mesin pengolahannya sudah berumur cukup tua. Walau ada beberapa bagian diganti, bentuknya tidak ada yang berubah.

“Ya beginilah bentuk mesin pengolahan daun teh. Di seluruh dunia sama. Tidak ada yang berbeda. Kalaupun diganti, hanya tahun keluarannya saja yang berubah,” ujar Syaiful Bahri, Humas PTPN 6 yang ikut menemani kami.

Proses pengolahan teh di PTPN 6 Kayu Aro masih tradisional. Perusahaan ini memakai mesin-mesin lama. Serbuk teh yang dihasilkan tidak memakai bahan pengawet atau pewarna tambahan.

“Saat mengelola daun teh, pekerja dilarang memakai kosmetik. Itu untuk menjamin kualitas teh,” jelas sang manager, Dariansyah Damanik.

Usai daun teh dipetik, ditimbang dan dikumpulkan, di pabrik ditimbang lagi. Turun dari truk, daun teh langsung masuk ke palung atau kotak pelayuan (whithering trought). Tahap ini dinamakan proses pelayuan.

Kepala Pabrik Teh Kayu Aro, Delvi, menjelaskan, palung pelayuan dilengkapi kipas untuk menghembuskan angin ke dalamnya. Daun teh dibiarkan selama 14-18 jam, untuk mengurangi kadar air sekitar 50-56 persen.

Setelah layu, daun teh dinaikkan ke kursi monorel berjalan, lalu dimasukkan ke mesin penghancur (OTR). Proses penggilingan dilakukan untuk memecah sel-sel daun.

Daun teh yang sudah hancur kemudian masuk ke mesin pengayakan. Setelah halus, bubuk teh masuk ke ruang fermentasi. Tujuannya menjaga rasa dan aroma.

Hasil pengayakan yang masih kasar digiling lagi. Kalau masih kasar juga, diletakkan kembali ke mesin rotorvane, untuk mengecilkan partikel bubuk teh. Terakhir masuk tahap pengeringan, sortasi dan pengepakan.

“Lama proses tiga tahap terakhir itu tidak boleh lebih dari 145 menit. Inilah yang membuat teh Kayu Aro sangat terkenal di dunia,” jelas Delvi yang sempat pindah dari Kayu Aro tapi akhirnya dikembalikan lagi ke sana.

Satu hal lagi yang terpenting, setelah masuk ke mesin pengeringan, hasilnya disampaikan ke petugas khusus penguji rasa (tester). Jika ada sesuatu di luar standar, pengolahan dihentikan dan diulang.

“Kalau tester sudah bilang oke, barulah proses dilanjutkan lagi. Perubahan rasa itu sangat penting. Tester kami ini punya kemahiran khusus,” ungkap Delvi.

Sampai disitu, proses pengolahan daun teh menjadi bubuh teh siap seduh, rampung sudah. Ada dua macam teh yang dihasilkan, CTC dan Orthodok. Namun untuk CTC kini tidak diproduksi lagi, karena peminatnya berkurang dan harganya pun rendah.

Teh Orthodok (teh hitam) yang diproduksi PTPN 6 terdiri dari 12 jenis, meliputi BOP1, BOP, BOPF, PF, Dust 1, BP, BT, PH II, Dust II, BP II, BT II dan Dust III. Teh jenis ini semuanya berkualitas ekspor.

Penulis, Doddi Irawan (kanan), bersama Manager Kebun Teh Kayu Aro, Dariansyah Damanik (kiri)

Bagaimana teh sampai ke para penikmat ? Tidak ada yang berubah dalam sistem pendistribusian dan pemasarannya. Dariansyah yang saat itu baru sepekan menjabat manager kebun pun membeberkan mekanismenya.

Untuk pemasaran, setiap hari Rabu ada lelang di Kantor Pemasaran Bersama (KPB), di Jakarta. Setiap PTPN mengirim sampel. Lelang ini diikuti seluruh PTPN se-Indonesia.

“Sebagian dikirim ke kantor PTPN 6 di Kota Jambi untuk di-packing lalu dilempar ke pasaran,” ujar Dariansyah.

Perusahaan yang ikut tender pun ada puluhan, kebanyakan dari luar negeri, seperti Afghanistan, India, Bangladesh, Srilanka, Colombo dan negera-negara Eropa serta Timur Tengah. Harganya rata-rata US.$.1,7 per kg. Harga tertinggi yang pernah dicapai US.$.2,09.

Pada tahun 2016, produksi teh Kayu Aro berkisar 32 ton per hari, atau 9.600 ton setahun. Jumlah ini diperoleh dari hasil pengalian 300 hari, karena hari libur dan Minggu teh tidak dipetik.

Dariansyah mengakui, produksi 2016 turun dibanding 2015 yang mencapai 12 ribu ton. Penyebabnya, tahun 2016 ada program peremajaan (replanting) pohon tua. Luasnya 300-an hektar dari 2.600 hektar luas kebun yang ada.

Untuk tahun 2017, Dariansyah yakin produksi bakal naik lagi. Pasalnya, pohon-pohon tua yang sudah ditebang terganti dengan pohon yang mulai produksi. Luasnya ada 400-an hektar. Ditargetkan produksinya bisa 2,4 ton per hektar.

Dariansyah tidak menampik bahwa saat ini harga teh dunia sedang turun. Dampaknya jelas besar. Salah satunya, biaya yang keluar tidak seimbang dengan pemasukan.

“Walau begitu, kualitas tetap kami jaga. Komoditi teh sampai saat ini masih menjanjikan,” kata pimpinan 945 karyawan Perkebunan Teh Kayu Aro ini.

Banyak orang bertanya, teh Kayu Aro jarang dijual di warung dan swalayan (customer product). Sebenarnya tidak juga. Teh kemasan diproduksi di kantor Jambi dan diedarkan di wilayah Jambi dan Sumatera Barat.

Sejumlah produsen teh kemasan ternama, diantaranya Teh Sari Wangi, justeru menggunakan bahan baku dari teh Kayu Aro. Jadi jangan salah, teh yang dijual di warung-warung itu banyak yang berasal dari Kayu Aro.

Di usia yang ke-60 ini, barangkali sudah saatnya Pemprov Jambi memikirkan pembangunan industri hilir teh kemasan dengan nama yang khas. Teh Kayu Aro. Selamat minum teh. Selamat Ulang Tahun Provinsi Jambi. (infojambi.com)

 

Kategori Ekonomi dan Bisnis

Tags: ,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.