Temui Romi, Aktivis Lingkungan Titip Hutan Tanjabtim

Penulis : Tim Liputan || Editor : Redaksi

INFOJAMBI.COM — Ferry Irawan, aktivis penggiat lingkungan dan Direktur Perkumpulan Hijau Jambi, menemui Romi Hariyanto, di kediamannya, di bilangan Keramas, Parit Culum I, Muara Sabak, Rabu lalu.

Kedatangan Ferry menemui calon Bupati Tanjung Jabung Timur nomor urut dua ini, untuk mendiskusikan persoalan lingkungan hidup. Ferry menilai Romi memiliki komitmen dan perhatian besar terhadap kelestarian lingkungan.

Ferry memantau gerak-gerik Romi selama menjabat Bupati Tanjung Jabung Timur. Romi merupakan kepala daerah yang sangat peduli pada lingkungan hidup. Komitmennya baik sehingga banyak aktivis lingkungan memberi perhatian khusus.

Romi sejauh ini memperlihatkan komitmen jelas dan tegas pada isu lingkungan. Contoh, pembangunan hutan kota di Kelurahan Rano. Lalu program rehabilitasi mangrove dengan pemberdayaan masyarakat di sejumlah desa pesisir.

Program ketahanan pangan juga dilaksanakan Romi di sekitar kawasan Taman Nasional Berbak (TNB). Romi ikut pula menolak keras program replanting sawit, dan menolak menandatangani izin perusahaan diduganya mengancam kawasan.

Terkait hutan kota, Ferry mengapresiasi kebijakan Romi yang mengharuskan diisi tanaman endemik lokal. Dia mewajibkan ditanam bibit jelutung rawa, ramin, merbau, gaharu, dan masih banyak lagi jenis tanaman lainnya.

“Semestinya kepala daerah mempertahankan endemik lokal agar keberlangsungan hidup endemik itu dijamin kelestariannya. Di sebagian daerah kepedulian semacam ini sudah hilang,” kata Ferry.

Program Romi memberdayakan masyarakat pesisir untuk menanam mangrove dinilai upaya nyata yang sistematis. Pemberdayaan masyarakat mengharuskan 20 desa pesisir menganggarkan penanaman mangrove minimal 50 juta rupiah per tahun.

Menurut Ferry, ini salah satu solusi menjawab rendahnya kepedulian masyarakat pesisir terhadap kelestarian mangrove. Padahal keberadaan mangrove sangat vital guna mendukung kelangsungan hidup masyarakat pesisir, terutama nelayan dan ekosistem laut.

Berdasarkan peta digital lampiran SK Menteri Lingkungan Hidup nomor 8.092 Tahun 2018 menyebutkan, luas kawasan cagar alam hutan bakau pantai timur Provinsi Jambi sekitar 4.948,54 hektar berada di wilayah Tanjabtim. Hanya sekitar 205,60 hektar di Kabupaten Tanjab Barat.

“Data itu menunjukkan bukan hanya potensi mangrove yang begitu besar di daerah ini, namun juga tanggungjawabnya sangat besar. Itu sebabnya dibutuhkan komitmen yang kuat, kami percaya Pak Romi punya integritas menjaga ini,” ucapnya.

Sedangkan program ketahanan pangan sekitar kawasan TNB, menurut Ferry juga cukup solutif, dimana program yang bertitik berat pada penguatan lahan pangan itu diyakini mampu menghindarkan TNB dari penjarahan warga sekitar.

Diketahui, khusus untuk wilayah yang berbatasan langsung dengan TNB seperti Telagalima, Simpangdatuk dan Berbak, Pemkab Tanjabtim meluncurkan berbagai program penguatan lahan pangan masyarakat.

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Tanjabtim, Sunarno menjelaskan, Pemkab Tanjabtim terus menerus mengalokasikan sarana dan prasarana pertanian untuk kawasan sekitar TNB, mulai dari irigasi, tata air mikro, bantuan benih, pupuk hingga bantuan bibit.

“Tidak hanya padi namun juga kedelai, jagung dan hortikultura seperti melon, semangka dan sejumlah palawija,” ucap Sunarno.

Menurut Sunarno, sejak berbagai program tersebut dijalankan sejumlah warga yang dahulu membalak kini banyak beralih menjadi petani.

“Kita tawarkan penghasilan yang tak kalah menarik tapi tidak melanggar hukum, petugas PPL kita aktif menyosialisasikan dan membimbing mereka, Alhamdulillah pembalakan oleh warga di desa-desa itu nyaris tak lagi terdengar,” kata Sunarno.

Kebakaran hutan dan lahan beberapa tahun terakhir juga kian menurun di Tanjabtim. Menurut Ferry, langkah-langkah antisipatif yang dilakukan Pemkab Tanjabtim bersama gugus tugas penanganan karhutla cukup baik dan sistematis.

Pelibatan stakeholder lintas organisasi hingga Relawan Desa Tangguh Bencana (Destana), Masyarakat Peduli Api (MPA) dan terakhir terbentuknya Desa Sigap (Siaga Cegah Api) di Kecamatan Dendang yang digagas Polres Tanjabtim menunjukkan keseriusan penanganan karhutla di Tanjabtim.

“Kita tahu lebih kurang 25,39 persen hutan dan lahan gambut di daerah ini rentan sekali terbakar, kami menilai apa yang sudah dilakukan pak Romi cukup luarbiasa karena bisa menekan angka karhutla, karena itu tak salah jika kami ke sini menitipkan hutan Tanjabtim ini ke beliau,” jelas Ferry. ***

Kategori Tanjung Jabung Timur

Tags: ,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.