Warga Ragukan Kualitas Rigid Beton, Rekanan Dinilai Tidak Transparan

Proyek rigid beton di Batang Asai.

INFOJAMBI.COM — Pemerintah Provinsi maupun Kabupaten terus mengalokasikan dana APBD setiap tahun guna meningkatkan infrastruktur jalan. Tujuannya agar tidak ada lagi daerah yang terisolir di Provinsi Jambi.

Namun hal itu sulit diwujudkan, apabila pihak rekanan masih memikirkan keuntungan besar daripada kualitas pekerjaan. Di Desa Pekan Gedang, Kecamatan Batang Asai, Sarolangun, terdapat proyek pembuatan jalan rigid beton. Proyek ini menggunakan anggaran APBD Provinsi Jambi 2017 mencapai belasan miliar rupiah.

Pantauan di lapangan, diduga kurangnya transparansi pihak rekanan, terkait tidak adanya papan merek yang dipasang. Warga menilai hasil pekerjaan tersebut diragukan kualitasnya. Umur dari jalan rigid beton itu diperkirakan tidak bertahan lama.

“Kami sangat menyayangkan bila jalan rigid beton ini hanya bisa dirasakan masyarakat dalam jangka pendek. Material batu yang digunakan banyak ditemukan batu sirtu yang tidak dipecah, besinya hanya besi bulat, dan tidak ada pondasi,” kata Eman, warga Desa Simpang Narso, Minggu (5/11/2017).

Setahu Eman, kalau membuat bangunan harus mempunyai pondasi, kalau dalam pembuatan jalan rigid beton dikenal dengan istilah kuku, gunanya agar dasar dari jalan rigid beton tidak langsung menempel ke tanah dan terkena air. Apalagi saat ini intensitas hujan cukup tinggi, diperkirakan cor rigid beton cepat hancur terkena air.

Sementara itu, yang menjadi tolak ukur saat ini, ada juga pekerjaan jalan rigid beton yang sedang berjalan di Desa Sei Salak – Pekan Gedang, Batang Asai. Tertulis di papan merek proyek dikerjakan PT Perdana Lokaguna, menggunakan dana APBD Provinsi Jambi 2017 dengan nilai kontrak Rp 15 miliar.

“Pembuatan jalan rigid beton di Desa Sei Salak – Pekan Gedang, material yang digunakan untuk jenis batu merupakan batu split, besinya besi ulir, dan nampak adanya pondasi di pinggir. Jadi kami sebagai masyarakat bingung, kenapa adanya perbedaan proses pembuatan rigid beton yang ada di desa kami,” ungkap Eman.

Terkait adanya keluhan masyarakat, pihak rekanan, Mirza, mengatakan pekerjaannya sudah sesuai Rancangan Anggaran Belanja (RAB). Untuk jenis besi yang digunakan, di dalam RAB hanya menyebutkan berdasarkan tonase, bukan jenis besi.

“Kalau untuk kuku memang tidak ada dalam gambar. Kalau untuk material batu kami sudah pakai batu split, jika masih ada batu yang bulat ditemukan itu mungkin tidak terpecah di mesin,” sebut Mirza. (Rudy Ichwan — Sarolangun)

 

Kategori Ekonomi dan Bisnis

Tags: ,,

Tanggapan Anda

Alamat email Anda tidak akan kami tampilkan.